POTPOURRI

Manakala Jenderal dan Bondo Nekad Mengkhidmati Kambing dan Lele

JAKARTA—Bila telinga mendengar kata ‘Bonek’, yang ada di kepala tentu saja wajah-wajah garang yang mewarnai banyak situasi keras dalam pertandingan sepakbola di Indonesia. Wajah-wajah alpa takut dengan jiwa pantang menyerah demi cinta akan klub sepakbola  yang diidolakan.  

Sebutan Bonek atau bondo nekad melekat pada supporter bola yang tak punya bekal cukup untuk menonton, namun nekad berangkat. Sebagian kalangan memandangnya negative seiring seringnya para bonek ini bentrok dengan aparat atau pun supporter lawan.

Utomo, warga Krapyak, Kota Yogyakarta, adalah salah satu pentolan Bonek. Saking terkenalnya sebagai “Bonek”, jangan sekali-kali datang ke Krapyak mencari Utomo. Dijamin tak banyak orang tahu. Utomo lebih dikenal masyarakat dengan nama ‘Mas Bonek’.

Meski tercatat sebagai warga Krapyak, saban hari ia lebih sering nongkrong dengan teman-temannya di Bantul, sekitar 12 kilometer selatan Krapyak. Untuk apa? Tak dinyana, Utomo bersama 14 temannya sesama Bonek ternyata bukan olah-bola, melainkan olah tanah. Mereka bahkan sudah berhasil menggerakkan ribuan warga Bantul untuk bertani.

Menggerakkan massa memang sudah menjadi keahlian Bonek dan teman-temannya. Tapi kali ini kelompok Bonek itu “nekad” di jalan kebaikan. Mereka bahkan berhasil meningkatkan kesejahteraan warga Bantul.

Awal kegiatan bersama masyarakat Bantul sudah dimulai sejak tahun 2014.  Utomo yang semula memang hobi memelihara ikan hias, mengajak masyarakat memelihara ikan lele. Modal semua ditanggung Kelompok 15, kelompok Utomo cs.

Satu kolam lele modalnya Rp 4,6 juta. Dalam waktu 70 hari, lele bisa dipanen. Hasil panen ini biasanya mencapai 350 kg. Masyarakat mendapatkan bagi hasil 20 kg, sedangkan Kelompok 15 mendapatkan 330 kg. Jika per kilogram ikan lele dijual Rp 15.000, hasilnya mencapai Rp 5,25 juta. Dari setiap kolam, masyarakat mendapatkan hasil minimal Rp 300 ribu.

“Itu keuntungan minimal, sebab harga lele bisa mencapai Rp 24 ribu per kilogram,” kata Bonek.

Lama-lama Kelompok 15 berganti nama menjadi Abhinaya Upangga, artinya Semangat Berkarya. Tak ada legalitas hukum, namun hasil kerja mereka sangat bermanfaat secara sosio ekonomis.

Kelompok ini solid karena mereka sudah berteman sejak 15 tahun lalu. Sebuah perjalanan persahabatan yang cukup teruji tentunya. Rata-rata umur mereka kurang dari 40 tahun. Artinya, persahabatan itu dimulai sejak mereka masih ABG.

Syahdan, sekitar tujuh tahun lalu, mereka bertemu dengan Kolonel (Inf) Maruli yang saat itu menjabat Komandan Korem 4/Warastratama Solo, yang melingkupi eks Karesidenan Surakarta (Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Wonogiri dan Boyolali). Korem ini bermarkas di Surakarta.

“Bang Maruli itu bapak kami,” ujar Bonek bangga, seraya manambahkan, “terima kasih hidup kami sekarang lebih baik.”

Kedekatan kelompok Abhinaya Upangga dengan Maruli tak pelak membawa pencerahan dalam kehidupan. Dari ‘Bang Maruli’ inilah Bonek dan teman-temannya mendapatkan dukungan modal untuk berusaha di bidang perikanan lalu meluas di bidang pertanian dan peternakan.

“Sekarang kami punya 72 kolam ikan untuk memelihara lele. Seminggu dua kali kami bisa panen sebanyak dua kolam,”ujar Bonek bangga.

Pada 2014 lalu mereka mulai memobilisasi masyarakat. Di Kecamatan Jetis, Bantul, Bonek dan kawan-kawan mengajak dan memfasilitasi masyarakat  yang mau memelihara ikan. Mereka bisa bekerja tanpa modal, lalu berbagi hasil dengan Abhinaya Upangga.

Pola yang diterapkan Bonek dan kawan-kawan itu terbukti berhasil. Masyarakat juga mempunyai rasa memiliki sehingga kemungkinan dicuri sangat kecil. Setiap anggota Abhinaya diberi kepercayaan penuh untuk mengelola bisnis ’emas hijau’ dan ’emas biru’ ini dalam satu wilayah kecamatan.  Masing-masing kemudian membentuk lagi kelompok untuk mengelola bersama bisnis yang dipercayakan Abhinaya.

Kini, Abhinaya punya kekuatan bisnis yang menggurita di masyarakat. Jika awalnya di Bantul, kini mereka punya bisnis yang sama di empat kabupaten di DIY serta sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.

Keberadaan Bonek dan teman-temannya selalu disambut hangat masyarakat. Inilah korelasi logis ketika seseorang atau kelompok berhasil mengangkat ekonomi masyarakat. Di Kecamatan Pandak, Bantul, Bonek yang mengenakan kaos hitam bergambar ‘Bang Maruli’ disapa ‘bah’ oleh anak kecil. Ternyata itu sebutan dari kata ‘abah’.

Tak hanya itu, masyarakat juga bangga karena tahu-tahu ada orang penting. Seorang jenderal TNI dari Jakarta bertamu di rumah mereka yang sederhana. Kebanggaan terasa dan terlihat dari wajah-wajah mereka. “Pesan Bang Maruli yang selalu saya ingat, masyarakat harus selalu tersenyum,” ujar Bonek, seraya menambahkan bahwa dengan berupaya membuat rakyat tersenyum dengan kegiatan ekonomi semacam ini.

Ya, Maruli yang dulu berpangkat Kolonel, sekarang sudah berpangkat Mayor Jenderal dengan jabatan Komandan Paspampres.

Dampak psikologis dari kunjungan ‘Bang Maruli’ ke Bantul secara personal itu sangat membesarkan hati masyarakat. Masyarakat bergerak untuk bertani maupun beternak ikan dan kambing sebagai sambilan. Kemudahan mendapatkan bibit tanaman, bibit ikan maupun hewan ternak, membuat masyarakat mantap bekerjasama dengan Abhinaya. Semua kebutuhan masyarakat untuk bertani dan beternak difasilitasi oleh Abhinaya Upangga.

Tak terhitung berapa persisnya masyarakat yang terbantu secara ekonomi. Dalam satu kelurahan saja misalnya Bambanglipuro, Bantul, ada 17 RT. Masing-masing RT rata-rata memiliki 50-60 kepala keluarga. Sebanyak itulah Abhinaya membantu perekonomian masyarakat.

“Kami nggak sempat menghitung berapa banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kami ini,” kata Bonek. “Bayangkan jika satu kecamatan ada sekitar 70 kolam, kalikan saja dengan berapa kecamatan yang sudah melaksanakan usaha ini secara bergulir.”

Diakui, dalam bisnis pertanian, selalu ada kemungkinan gagal. Pernah di Dusun Banyu Urip, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Abhinaya Upangga dan masyarakat menanam pepaya California. “Buahnya gede-gede dan bagus-bagus, eh njeblug kena banjir. Pepaya yang siap panen tenggelam. Ya sudah, rusak semua,” kata Bonek.

Pengalaman itu membuat Abhinaya dan masyarakat makin pintar. Selain bertani, mereka juga memelihara kambing. Kini setidaknya ada 50 ekor kambing yang dipelihara warga bekerja sama dengan Abhinaya Upangga.

Upaya dan langkah Bonek layak diapresiasi. Dalam suatu kesempatan Mayjen Maruli berkisah. “Baru-baru ini saya berjumpa mereka, dan mereka bilang terima kasih Bapak sudah memberi kami kehidupan, membuat kami punya penghasilan. Bahkan saya dibelikan dua bungkus rokok oleh Bonek,”ujar Maruli. Nadanya terharu sekaligus bangga. [ egy]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close