POTPOURRI

Siapa Pembunuh Stalin di Musim Semi 1953 Itu?

“Ah, negara yang kau banggakan itu dibangun di punggung para budak dan imigran,” kata Superman, menjawab pernyataan sombong Lana Lang akan kebesaran Amerika.   

JAKARTA— Boleh saja kematian Stalin pada 5 Maret 1953 di Rusia sendiri masih menyisakan tiga teori: serangan stroke karena kemarahan yang memuncak tiba-tiba, dibunuh Nikita Khruschev yang tahu dirinya akan ditendang dari kabinet dan partai, serta dibunuh Lavrentiy Beria, orang kedua di Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) saat itu dengan racun ular dan laba-laba. Tetapi keyakinan Rusia jelas di bawah DC Comics yang percaya bahwa Stalin dibunuh Superman yang kecewa dengan pemimpin tertinggi Soviet tersebut.

Versi komik serial Superman: Red Son

Dalam film serial baru Superman yang dirilis Warner Bros Animation – DC pada 25 Februari 2020 lalu, diktator yang dianggap tokoh paling kontroversial dalam sejarah Soviet itu memang dibunuh Superman dengan sinar laser dari matanya yang marah. Superman, yang dikisahkan ‘lahir’ di Ukraina pada 1938 dan telah mengabdi kepada negaranya, Uni Soviet, itu kecewa manakala tahu keberadaan kamp kerja paksa tak berperikemanusian, Gulag, yang dibangun Stalin yang dikaguminya. Apalagi di kamp itu pun ia menemukan teman masa kecil yang selalu melindunginya dari gangguan anak-anak Bengal, Svetlana. Dalam ‘Superman-Red Son’ tersebut, alih-alih dipanggil Kal-el, Superman kecil oleh keluarga angkatnya diberi nama Somishka.   

Versi komiknya sendiri sudah lama beredar, jauh sebelum DC seperti kebingungan dan ‘membunuh’ Superman sebagaimana kita saksikan dalam filmnya ‘Batman vs Superman: Dawn of Justice’ yang telah beredar lama. Pada 2003, penulis Mark Millar mengangkat sisi lain Superman, dengan premis awal ‘bagaimana jika Superman dibesarkan di Uni Soviet?’. Rangkaian komik ‘Superman Soviet’ itu bahkan sempat dinominasikan untuk meraih Eisner Award—penghargaan dunia untuk karya komik, pada 2004.

Menurut Millar, idenya tentang Superman yang Komunis datang manakala dirinya di usia enam tahun membaca seri Superman no 300. “Di sana dikisahkan, kapal ruang angkasa Superman kecil jatuh di perairan netral antara AS dan Uni Soviet, dan kedua belah pihak bergegas datang untuk kemudian  mengklaim bayi itu,” kata Millar. Dari sanalah, kata dia, idenya bertumbuh seiring waktu dan diwujudkannya manakala ia bergabung ke dalam DC Comics.

Lex Luthor, Lana Lang, Wonder Woman, dan Batman dalam versi Superman: Red Son

Saya tak ingin mengganggu Anda saat menikmati kisah film ini, nanti, dengan mengabarkan atau bahkan kalau pun memberikan sedikit intipan. Namun paling tidak, cerita Red Son sedikit banyak melenceng dari pakem. Lana Lang, yang dalam seri Superman ‘konvensional’ adalah kekasih Si Manusia Baja, dalam ‘Red Son’ adalah istri Lex Luthor, lelaki yang dipilihnya karena tiga hal: kaya dan cerdas, kemampuan seksnya yang luar biasa, dan peluang besar menjadi tokoh ‘pengubah sejarah’. Batman—barang kali ada hubungannya dengan kekecewaan fans Superman saat jagoannya dikalahkan Batman dalam ‘Dawn of Justice’, dalam seri ini lebih seorang penjahat frustrasi yang marah kepada Soviet—Stalin tepatnya, yang telah membunuh kedua orang tuanya di Gulag. Batman, yang dibesarkan di Gulag, pada akhirnya lebih mengesankan sebagai seorang teroris.  Belakangan, Batman yang frustrasi ini memilih bunuh diri   

Superman ‘baru’ ini punya musuh lain, Pyotr Rislov, anak haram Stalin yang marah karena Supermanlah, dan bukan dia, yang menjadi anak kesayangan Sang Tiran.  Jangan lupa, di serial ini Superman harus berhadapan dalam pertarungan hidup-mati dengan sepasukan Green Lantern—bukan hanya seorang, yang berada di bawah komando Lex Luthor, sang presiden AS yang berambisi menyatukan dunia dalam satu ‘Global United States’. Juga hal-hal lain di luar pakem yang mungkin akan membuat penonton sejenak menghela nafas untuk mengubah pemahaman sekian lama akan tokoh-tokoh komik DC itu.  

Namun yang menarik, Millar—dan belakangan dalam skenario yang dikerjakan J.M. DeMatteis, tak ragu-ragu untuk mengkritik bangsanya sendiri yang—memang, megalomania.

Profil Batman dalam Superman: Red Son

“Ah, negara yang kau banggakan itu dibangun di punggung para budak dan imigran,” kata Superman, menjawab pernyataan sombong Lana Lang akan kebesaran Amerika.   Atau simak juga teriakan Superior Man, humanoid berkostum ketat dengan dada bertuliskan ‘US’, yang dibikin Luthor, manakala berdebat sengit dengan Superman sebelum pertarungan.  

“Akulah kebenaran! Akulah keadilan! Akulah cara Amerika!” teriak si humanoid. Persis sebagaimana pernyataan lirih dan menyindir dari Alexis de Tocqueville di antara sekian banyak kekagumannya kepada Amerika Serikat. “Tak ada yang lebih membikin kita rikuh, selain patriotisme Amerika..” [ ]  

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close