Kamboja Ingin Gencatan Senjata dan Thailand Siap Bicara, tapi Hari Ini Kedua Negara Adu Senjata Lagi

- Kamboja dan Thailand saling tuduh memulai tembakan. Preah Vihear, kuil kuno warisan dunia, babak belur.
- Malaysia mengatakan PM Kamboja dan Thailand akan berunding Senin 28 Juli.
JERNIH — Thailand dan Kamboja, Minggu 27 Juli, baku tembak lagi setelah sehari sebelumnya keduanya mengatakan siap merundingkan gencatan senjata.
Sejak pagi, Kamboja menghujani Thailand dengan artileri. Lokasi penembakan tak jauh dari dua kuil kuno yang disengketakan sejak lama, yaitu di timur perbatasan kedua negara.
Maly Socheata, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, mengatakan Thailand menyerang lebih dulu sekitar pada pukul 04:50 pagi. Thailand belum merespon tuduhan ini.
Beberapa jam kemudian, Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa Kamboja mengecam penembakan terhadap kuil Preah Vihear oleh tentara Thailand. Kini, Preah Vihear dalam dalam bahaya serius, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelunya.
“Sebagai situs warisan dunia UNESCO, Preah Vihear adalah sibol identitas nasional Kamboja,keberlangsungan sejarah dan warisan spiritual,” demikian pernyataan Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa Kamboja.
Seorang juru bicara Angkatan Darat Thailand mengatakan Kamboja melepas tembakan ke arah Kuil Ta Muen, pos pemeriksaan Chong An Ma, dan permukiman warga sipil di Propinsi Surin,
“Pukul 6:40 Kamboja menembakan arileri yang megenai rumah-rumah warga sipil di Propinsi Surin. Padahal, mereka meminta gencatan senjata,” kata juru bicara itu.
Berunding di Kuala Lumpur
Di level pemerintahan, PM Kamboja Hun Manet dan penjabat PM Thailand Phumtham Wetchayachai diperkirakan akan tiba di Malaysia, Senin 28 Juli malam untuk membahas eskalasi konflik perbatasan kedua negara.
Menlu Malaysia Mohamad Hasan mengatakan kedua negara sepakat menerima Malayasia sebagai mediator penyelesaian konflik perbatasan kedua negara.
“Saya berkesempatan berbicara dengan menteri luar negeri Thailand dan Kamboja. Mereka sepakat bahwa tiadk ada negara lain yang boleh terlibat dalam masalah ini,” kata Mohamad Hasan seperti dikutip kantor berita Bernama.
Kamboja dan Thailand, kata Mohamad Hasan, percaya penuh kepada Malaysia dan meminta kami bertindak sebagai mediator.
Namun PM Kamboja dan Thailand mengatakan mereka bersedia memulai perundingan setelah Presiden AS Donald Trump berbicra dengan mereka Sabtu 26 Juli malam. Kamboja mendukung seruan Trump untuk gencatan senjata. PM Thailand mengatakan tidak dapat memulai perundingan selama Kamboja masih melepas tembakan meriam.
“Kami tidak ingin ada negara ketiga, tapi kami berterima kasih atas perhatian Trump,” kata penjabat PM Thailand Phumtham kepada wartawan.