Arab Saudi Cabut Syarat Sertifikat Vaksin Bagi WNA atau Jamaah

Kemenkes Arab Saudi mengumumkan bahwa semua pembatasan kesehatan utama yang diberlakukan pada mereka yang bepergian ke Arab Saudi telah dicabut.
JERNIH – Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengumumkan bahwa sertifikat vaksinasi terhadap virus corona tidak lagi menjadi persyaratan wajib untuk masuknya penumpang termasuk jamaah ke negara itu.
Kemenkes, Senin (21/3/2022) mengumumkan bahwa semua pembatasan kesehatan utama yang diberlakukan pada mereka yang bepergian ke Arab Saudi telah dicabut. Ini termasuk penyerahan wajib sertifikat vaksinasi, PCR atau hasil tes antigen negatif sebelum datang atau pada saat kedatangan di Kerajaan, serta persyaratan karantina institusional dan rumah.
Kementerian mengaitkan keputusan mencabut pembatasan itu dengan penurunan tingkat kasus positif virus corona yang tinggal mencapai kurang dari empat persen di Arab Saudi. Juga meningkatnya tingkat vaksinasi dari semua kelompok sasaran populasi Saudi berusia 12 tahun ke atas menjadi 99 persen.
Keputusan Kerajaan Arab Saudi kali ini sangat menentukan bagi Indonesia dalam konteks pelaksanaan ibadah umrah dan haji. Kepala Pusat Kesehatan Haji (Puskeshaj) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Budi Sylvana dalam rapat bersama Komisi VIII DPR di Jakarta Selasa (22/3) mengakui, saat ini pemerintah Saudi melakukan berbagai pelonggaran.
Arab Saudi tidak lagi mewajibkan hasil tes swab PCR bagi WNA yang masuk ke sana. Termasuk untuk jemaah haji maupun umrah. Saudi juga menghapus aturan kewajiban karantina setelah tiba di Saudi. “Jika jemaah haji diberangkatkan sekarang, berangkatnya tidak perlu swab PCR. Namun, kebijakan resmi protokol kesehatan haji yang berlaku adalah saat menjelang keberangkatan, ujar Budi.
Lebih lanjut Budi menjelaskan, tes swab PCR tetap diberlakukan untuk jemaah haji saat akan pulang ke tanah air. “Swab PCR maksimal 2 x 24 jam sebelum kepulangan,” katanya. Aturan tersebut sesuai dengan kebijakan yang diambil satgas Covid-19. Selain itu, jemaah wajib karantina satu hari saat kepulangan yang dilakukan di asrama haji.
Sejumlah persiapan, terang Budi, sudah dilakukan. Di antaranya vaksinasi meningitis ulang. Calon jemaah haji sejatinya sudah divaksin meningitis. Tapi, itu dilakukan pada 2020 sehingga perlu suntikan ulang. Anggaran untuk vaksin meningitis sekitar Rp 30 miliar. Selain itu, seluruh calon jemaah haji dianjurkan untuk vaksinasi Covid-19 dosis lengkap, bahkan booster. [Saudigazette]