BCA Rebut Mahkota Laba, Rekor Dividen per Saham di Tengah Goyahnya Raksasa Himbara

Di saat bank-bank raksasa Himbara seperti BRI dan BNI mengalami koreksi laba akibat tekanan suku bunga dan risiko kredit, BCA justru tampil perkasa dengan efisiensi dana murah (CASA) yang tak tertandingi.
WWW.JERNIH.CO – Sebagai salah satu pilar utama ekonomi nasional, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menunjukkan taringnya pada tahun buku 2025. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 12 Maret 2026, BCA resmi mengumumkan pembagian dividen yang mencatatkan sejarah baru bagi perseroan.
Kinerja solid ini tidak hanya memberikan angin segar bagi para pemegang saham, tetapi juga mempertegas posisi BCA sebagai bank dengan manajemen risiko dan efisiensi terbaik di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, BCA berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,5 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 4,9% dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp54,8 triliun.
Meskipun persentase pertumbuhannya lebih moderat dibandingkan tahun-tahun pasca-pandemi yang sempat menyentuh angka dua digit, secara nominal laba ini tetap menjadi yang tertinggi dalam sejarah perusahaan. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, pertumbuhan laba BCA menunjukkan tren positif yang stabil. Pada 2023 sebesar Rp48,6 triliun, 2024 sebesar Rp54,8 triliun dan pada 2025 sebesar Rp57,5 triliun.
Keberhasilan BCA mencetak laba fantastis ini dipicu oleh beberapa faktor fundamental. Pertama adalah pertumbuhan kredit yang mencapai Rp993 triliun (naik 7,7% secara tahunan), terutama didorong oleh segmen korporasi dan konsumer.
Kedua, BCA sukses menjaga dana murah (CASA) yang mendominasi hingga 82% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK), sehingga biaya dana tetap rendah.
Ketiga adalah efisiensi operasional. BCA berhasil menekan Cost to Income Ratio (CIR) ke level terendah sepanjang sejarah berkat transformasi digital yang masif, di mana frekuensi transaksi digital tumbuh 17% mencapai 42 miliar transaksi sepanjang tahun.
Kabar paling menggembirakan bagi investor adalah keputusan pembagian dividen. Untuk tahun buku 2025, BCA menetapkan Dividend Payout Ratio (DPR) sebesar 72%, rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya berada di kisaran 67%–70%.
Secara total, dividen yang dibagikan mencapai Rp41,4 triliun atau setara dengan Rp336 per saham. Nilai ini mencakup dividen interim sebesar Rp55 per saham (sudah dibayarkan pada Desember 2025) dan dividen final sebesar Rp281 per saham (akan dibayarkan sesuai jadwal yang ditetapkan).
Hingga akhir 2025, kondisi keuangan BCA berada dalam posisi yang sangat sehat dan “gemuk”. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) bruto berhasil ditekan ke level 1,71%, menunjukkan kualitas aset yang sangat terjaga.
Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di angka yang optimal untuk ekspansi namun tetap aman. Keunggulan utama BCA terletak pada ekosistem transaksinya yang membuat nasabah setia menyimpan dana di tabungan dan giro, memberikan perlindungan dari gejolak suku bunga pasar.
Dengan modal yang kuat dan efisiensi yang terus meningkat, BCA tidak hanya sekadar membagi keuntungan, tetapi juga memberikan sinyal optimisme bahwa mereka siap menghadapi tantangan ekonomi di tahun 2026.
Dinamika laba bersih perbankan periode 2023–2025 menunjukkan pergeseran peta kekuatan yang signifikan, di mana BCA (BBCA) berhasil merebut kembali takhta sebagai bank paling menguntungkan dengan laba Rp57,5 triliun pada 2025 (naik 4,9%), mengungguli BRI (BBRI) yang labanya terkoreksi 5,3% menjadi Rp57,1 triliun akibat tekanan beban bunga dan risiko sektor mikro.
Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) tetap menunjukkan performa stabil dengan pertumbuhan tipis 0,9% ke angka Rp56,3 triliun, dan BNI (BBNI) harus puas dengan penurunan laba sebesar 7% menjadi Rp20,0 triliun, yang menegaskan bahwa efisiensi biaya dana dan pengelolaan rasio CASA yang kuat menjadi kunci utama BCA dalam memenangkan persaingan di tengah fluktuasi pasar dibandingkan bank-bank Himbara.(*)
BACA JUGA: Laba Bank BRI 2025 Rp 57,13 Triliun, Turun Dibanding 2024
