
Gallant secara terang-terangan menyebut Netanyahu sebagai “pembohong” yang memanipulasi narasi demi menyelamatkan diri dari tanggung jawab sejarah atas tragedi 7 Oktober 2023.
JERNIH – Panggung politik Israel memanas setelah banyak mantan pejabat mulai mengungkapkan kekecewaan terhadap Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu yang gagal dalam perang genosidanya di Gaza. Kali ini mantan Menteri Pertahanan, Yoav Gallant, melontarkan serangan verbal paling keras terhadap Netanyahu.
Dalam sebuah wawancara eksklusif yang disiarkan Channel 12 pada Sabtu (7/2/2026), Gallant secara terang-terangan menyebut Netanyahu sebagai “pembohong” yang memanipulasi narasi demi menyelamatkan diri dari tanggung jawab sejarah atas tragedi 7 Oktober 2023.
Pernyataan ini muncul di tengah bayang-bayang kegagalan militer Israel yang semakin nyata. Sebelumnya, Jenderal Purnawirawan Yitzhak Brik telah mengakui bahwa militer Israel mengalami kemunduran besar dengan lebih dari 2.000 tentara tewas, puluhan ribu luka-luka, serta gelombang PTSD yang menghantui pasukannya.
Kemarahan Gallant dipicu oleh dokumen setebal 55 halaman yang diajukan Netanyahu kepada Pengawas Negara (State Comptroller). Dokumen tersebut berisi kutipan-kutipan internal yang dipilih secara selektif untuk mengalihkan kesalahan kegagalan intelijen kepada rival politik dan petinggi keamanan, termasuk militer (IDF) dan Shin Bet.
“Saya tidak menyangka harus datang ke studio ini dan mengatakan: ‘Kita memiliki seorang pembohong sebagai Perdana Menteri’. PM adalah seorang pembohong,” ujar Gallant dengan nada geram.
Gallant menuduh Netanyahu telah “menikam dari belakang” para pimpinan keamanan saat mereka sedang berjuang di garis depan, dengan menghasut para menteri kabinet untuk menyalahkan militer di hadapan publik.
Salah satu poin paling krusial dalam wawancara tersebut adalah bantahan Gallant terhadap klaim Netanyahu yang menyebut tentara Israel tewas di Gaza karena embargo senjata dari pemerintahan Presiden AS sebelumnya, Joe Biden.
Gallant menegaskan bahwa klaim tersebut “tidak benar”. Meskipun mengakui adanya tantangan dalam pasokan amunisi dari Amerika, ia memastikan bahwa kematian prajurit di lapangan “sama sekali bukan karena kekurangan amunisi.” Menurut Gallant, Netanyahu sengaja membangun narasi tersebut untuk mencari kambing hitam atas kebijakan perangnya yang gagal.
“Prioritas pertama Netanyahu adalah dirinya sendiri, kemudian pemerintahannya, baru kemudian negaranya. Dia hanya mau mengambil kredit atas keberhasilan, namun langsung membuang muka saat kebijakan gagal,” tambah Gallant.
Merespons wawancara pedas tersebut, lingkaran dekat Netanyahu langsung mengeluarkan pernyataan balasan melalui Channel 12. Mereka balik menuduh Gallant berbohong dan mengeklaim bahwa mantan Menhan itulah yang selalu bergantung pada izin Amerika, berbeda dengan Netanyahu yang diklaim berani mengambil keputusan tegas.
Kritik terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari Gallant. Mantan Panglima Militer Israel, Gadi Eisenkot, juga mengirim surat kepada Pengawas Negara dan menyebut dokumen pembelaan diri Netanyahu sebagai “pembelaan yang dibuat-buat” atau fabrikasi. Eisenkot bahkan menyatakan kesiapannya untuk membeberkan fakta yang sebenarnya demi meluruskan sejarah.
Di tengah isolasi diplomatik dan tuntutan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang menyasar Netanyahu dan Gallant atas kejahatan perang di Gaza, retaknya hubungan pemimpin tertinggi Israel ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan yang akut.
Rakyat Israel kini dihadapkan pada kenyataan bahwa di balik kehancuran Gaza dan ribuan korban jiwa di pihak mereka, terdapat pertikaian elit yang saling tuding demi menghindari jeratan hukum dan diskualifikasi politik.






