Crispy

Blue Origin Terbangkan Misi NS-38 Menembus Batas Langit

Inilah mesin bisnis Jezz Bezos yang disiapkan menandingi proyek Elon Musk. Proyek perjalanan ke luar angkasa kini jadi kompetisi, tak hanya bermisi riset namun juga wisata angkasa.

WWW.JERNIH.CO –  Ambisi manusia untuk menaklukkan ruang angkasa kembali mencatatkan sejarah baru. Hari ini, Kamis, 22 Januari 2026, fajar di Texas Barat menjadi saksi bisu keberhasilan Blue Origin, perusahaan kedirgantaraan milik miliarder Jeff Bezos, dalam meluncurkan misi New Shepard 38 (NS-38). Peluncuran ini bukan sekadar rutinitas, melainkan penegasan bahwa pariwisata luar angkasa kini telah menjadi realitas yang semakin matang.

Dari Launch Site One, sistem roket suborbital yang sepenuhnya dapat digunakan kembali ini melesat vertikal membelah atmosfer. Di dalamnya, enam penumpang dari berbagai latar belakang bersiap merasakan sensasi gaya berat mikro (microgravity) saat melewati Garis Kármán, batas imajiner ruang angkasa setinggi 100 km.

Kru kali ini membawa warna yang beragam. Ada Tim Drexler, seorang pilot veteran; Linda Edwards, praktisi medis yang membawa simbol pengabdian ke bintang; hingga Jim Hendren, mantan pilot jet tempur F-15 Eagle. Bergabung pula pengusaha Alain Fernandez, penggemar aviasi Alberto Gutiérrez, serta Dr. Laura Stiles, Direktur Operasi Blue Origin yang turun langsung memastikan keandalan misi ini.

Selama beberapa menit di puncak lintasan, mereka melepaskan sabuk pengaman, melayang di dalam kapsul, dan menyaksikan lengkungan Bumi yang megah sebelum akhirnya turun perlahan dengan bantuan parasut.

Proyek New Shepard adalah bukti dedikasi pribadi Jeff Bezos. Ia diketahui mengalokasikan dana sekitar USD 1 miliar per tahun hasil penjualan saham Amazon untuk mendanai operasional Blue Origin. Tujuannya ambisius: mendemokratisasi akses ke ruang angkasa agar warga sipil pun bisa merasakannya. Meski harga tiket masih tergolong eksklusif—diperkirakan antara sekitar Rp4-8 miliar)—minat pasar tetap sangat tinggi.

Namun, misi ini tidak hanya tentang wisata. Blue Origin juga membawa muatan riset sains untuk mempelajari perilaku material dalam kondisi nol gravitasi.

Selain itu, peluncuran ini bertepatan dengan pengumuman proyek TeraWave, jaringan satelit komunikasi Blue Origin berkekuatan 6 Tbps yang diprediksi akan menjadi penantang serius bagi dominasi Starlink milik SpaceX.

Peluncuran hari ini kembali memicu diskusi mengenai persaingan antara Jeff Bezos dan Elon Musk. Meski sama-sama bergerak di industri antariksa, keduanya memiliki filosofi yang sangat berbeda.

New Shepard milik Blue Origin adalah kendaraan suborbital yang dirancang untuk perjalanan singkat “naik-turun” ke batas angkasa. Sebaliknya, Starship milik SpaceX adalah monster orbital setinggi 121 meter yang dirancang untuk perjalanan antarplanet menuju Bulan dan Mars.

Jika New Shepard adalah “pesawat jet pribadi” untuk tamasya singkat, Starship adalah “kapal kargo raksasa” yang siap membangun koloni di planet lain.

Blue Origin mengedepankan sisi ekologis dengan mesin BE-3 berbahan bakar hidrogen cair yang sangat bersih. Di sisi lain, SpaceX menggunakan mesin Raptor berbahan bakar metana cair—sebuah pilihan strategis karena metana dapat diproduksi langsung di permukaan Mars melalui reaksi kimia.

Saat ini, Blue Origin lebih dominan di sektor pariwisata premium dan penelitian singkat. Sementara itu, SpaceX telah memantapkan diri sebagai “truk pengangkut” utama bagi satelit global dan astronot NASA menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Dengan suksesnya misi NS-38 hari ini, Blue Origin membuktikan bahwa mereka terus melaju di jalur yang tepat. Persaingan ini bukan lagi soal siapa yang paling kaya, melainkan siapa yang mampu membangun jembatan paling kokoh bagi umat manusia untuk menjadi spesies multi-planet di masa depan.(*)

BACA JUGA: SpaceX Luncurkan Misi Penjemputan Dua Astronot Boeing yang Terkatung-katung di Stasiun Luar Angkasa

Back to top button