
Di balik dinding-dinding brankas bank sentral, sebuah revolusi sunyi sedang berlangsung. Negara-negara BRICS kini beralih ke “mata uang abadi”—emas fisik—dalam skala yang belum pernah terlihat dalam satu dekade terakhir.
WWW.JERNIH.CO – Langkah agresif dilakukan negara-negara yang tergabung dalam blok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini berkembang menjadi BRICS+) dalam memborong emas fisik.
Hingga April 2026, akumulasi cadangan emas kolektif blok ini telah menembus angka kritis 6.000 ton, atau mencakup sekitar 17,4% dari total cadangan emas bank sentral di seluruh dunia. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas investasi biasa, melainkan sebuah manuver geopolitik yang terukur.
Aksi “borong emas” ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kerentanan sistem keuangan berbasis dolar Amerika Serikat (AS). Adalah fakta bahwa bank sentral (terutama China, India, dan Rusia) telah menjadi pembeli emas bersih terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Peristiwa pembekuan cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat pada tahun 2022 menjadi turning point yang menyadarkan banyak negara berkembang bahwa ketergantungan pada dolar mengandung risiko kedaulatan yang besar. Ini sering disebut sebagai “weaponization of finance” yang mendorong negara-negara beralih ke emas sebagai aset yang tidak bisa disanksi secara digital.
Emas dipilih karena karakteristiknya sebagai aset netral tanpa penerbit (non-sovereign asset). Berbeda dengan obligasi AS yang nilainya bergantung pada kebijakan Washington, emas tidak bisa “dimatikan” melalui sanksi sepihak atau dibekukan secara digital selama disimpan dalam bentuk fisik di brankas domestik.
Tujuan utama dari akumulasi masif ini adalah de-dolarisasi. BRICS berupaya membangun sistem keuangan alternatif yang lebih multipolar. Pemanfaatan emas ini mencakup beberapa aspek krusial. BRICS ingin mengurangi porsi dolar dalam keranjang cadangan untuk melindungi nilai kekayaan negara dari inflasi AS dan fluktuasi nilai tukar.
Di sisi lain juga ada rencana jangka panjang untuk meluncurkan unit mata uang kolektif BRICS yang didukung oleh komoditas, terutama emas, guna memberikan kepercayaan pada pasar internasional. Emas juga terkait lindung nilai (Hedging) yang digunakan sebagai asuransi terhadap utang federal AS yang terus membengkak, yang diprediksi mencapai $39 triliun pada tahun 2026.
Emas yang diborong oleh bank sentral BRICS adalah emas fisik dalam bentuk batangan (bullion) dengan standar kemurnian tinggi (biasanya 99,99%). China dan Rusia memimpin pergerakan ini dengan memindahkan cadangan dari aset kertas (seperti surat utang) menjadi emas batangan yang disimpan secara rahasia dalam “cadangan bayangan” untuk menghindari pengawasan internasional.
Para ahli melihat tren ini sebagai sinyal berakhirnya dominasi absolut dolar. Jeff Quartermaine, CEO Perseus Mining, memberikan analisis tajam mengenai fenomena ini, “Emas bukan lagi sekadar instrumen lindung nilai tradisional, melainkan bentuk asuransi nyata terhadap kerentanan sistem moneter global saat ini. Langkah bank sentral BRICS menunjukkan pergeseran struktural di mana emas kembali menjadi jangkar stabilitas ekonomi.”
Senada dengan hal tersebut, laporan dari World Gold Council menekankan bahwa optimisme terhadap emas berada pada titik tertinggi dalam sejarah. Sekitar 95% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan terus meningkat, dengan BRICS sebagai motor utamanya.(*)
BACA JUGA: BRICS+ Hadang Ancaman Trump-Netanyahu*






