
Dari drama gaun pengantin hingga benturan dua dinasti besar—Beckham dan Peltz—kisah ini mengungkap sisi gelap keluarga yang selama ini tampak sempurna di mata publik. Ada adu gengsi di dalamnya.
WWW.JERNIH.CO – Di mata dunia, keluarga Beckham selama bertahun-tahun adalah potret sempurna tentang harmoni, kerja keras, dan kemewahan global. David dan Victoria Beckham layak jadi potret sebuah institusi—sebuah “brand keluarga” yang dibangun dengan disiplin citra, narasi kebersamaan, dan sorotan media yang nyaris tak pernah padam.
Namun di balik kilau itu, badai besar kini mengguncang fondasi mereka. Perseteruan terbuka antara putra sulung mereka, Brooklyn Beckham, dengan kedua orang tuanya telah mengoyak ilusi keluarga ideal yang selama ini dipertontonkan ke publik.
Konflik ini bukan lagi bisik-bisik tabloid. Tuduhan manipulasi emosional, perebutan citra publik, hingga aksi saling memblokir di media sosial menjadikannya drama keluarga kelas dunia.
Seolah-olah tembok megah “Brand Beckham” retak dari dalam, memperlihatkan pertarungan antara generasi, kepentingan, dan kekuasaan.
Gaun Pengantin
Banyak pihak menelusuri awal keretakan ini ke sebuah momen yang tampak sepele, namun sarat makna simbolik: gaun pengantin. Pada pernikahan Brooklyn Beckham dan Nicola Peltz tahun 2022, publik terkejut ketika Nicola tidak mengenakan gaun rancangan Victoria Beckham, melainkan memilih Valentino.
Keputusan itu memicu spekulasi luas, yang kemudian dikenal sebagai “Perang Gaun Pengantin”. Bertahun-tahun kemudian, dalam pernyataannya pada Januari 2026, Brooklyn mengungkap versi yang lebih tajam: Victoria disebut membatalkan pembuatan gaun tersebut di menit-menit terakhir.

Bagi Brooklyn, insiden itu bukan lagi soal busana, melainkan simbol dari pola lama—orang tua yang lebih mengutamakan citra dan kontrol atas narasi publik dibanding perasaan anak mereka sendiri.
Sejak saat itu, retakan demi retakan semakin nyata. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal baru justru menjadi panggung ketegangan, ditambah rumor Victoria “merebut” momen dansa pertama pengantin.
Ketidakhadiran Brooklyn dan Nicola di pesta ulang tahun ke-50 David Beckham pada 2024 menjadi sinyal keras bahwa jarak emosional telah berubah menjadi jarak nyata. Puncaknya terjadi pada 2025 dan awal 2026, ketika Brooklyn dan Nicola memperbarui janji nikah tanpa kehadiran keluarga Beckham, disusul dengan terungkapnya fakta bahwa Brooklyn memblokir akun media sosial orang tua dan adik-adiknya.
Dalam pernyataan terbuka yang mengejutkan, Brooklyn bahkan menyebut dirinya tidak ingin berdamai dan merasa lebih bebas sejak menjauh dari keluarganya.
Keluarga Peltz
Mengapa konflik ini terasa begitu panas? Karena ini bukan sekadar drama menantu dan mertua. Ini adalah benturan dua kekuatan besar. Di satu sisi, David dan Victoria Beckham—ikon global yang sangat protektif terhadap warisan nama dan citra mereka. Di sisi lain, keluarga Peltz—dinasti miliarder Amerika dengan kekuatan finansial, koneksi politik, dan pengaruh korporat yang jauh melampaui dunia selebritas.
Brooklyn menuding orang tuanya mencoba menyuapnya agar menandatangani dokumen hak penggunaan nama menjelang pernikahan, serta kerap merendahkan Nicola. Sebaliknya, keluarga Beckham mengisyaratkan bahwa Brooklyn-lah yang menarik diri dan memutus komunikasi secara sepihak.

Dalam pusaran konflik ini, dampaknya tidak berhenti pada ranah emosional. Secara bisnis, terutama bagi Victoria Beckham, luka ini terasa nyata. Brand fashion Victoria selama ini bertumpu pada narasi “keluarga modern yang elegan”, dengan anak-anak dan menantu sebagai muse sekaligus simbol dukungan internal. Ketidakhadiran Brooklyn dan Nicola mematahkan cerita itu.
Lebih jauh lagi, hubungan buruk dengan keluarga Peltz berpotensi menutup akses Victoria ke lingkaran elite Amerika—pasar paling strategis bagi industri barang mewah. Nicola Peltz, sebagai bagian dari jaringan sosial kelas atas New York dan Florida, bukan figur sembarangan dalam peta kekuasaan sosial Amerika.
Bagi Brooklyn sendiri, keluarga Peltz tampak menjadi tempat berlindung. Kekayaan dan pengaruh Nelson Peltz memberinya keamanan finansial yang membuatnya tak lagi bergantung pada warisan atau dukungan Beckham.
Lebih dari itu, Brooklyn mengaku menemukan ketenangan mental—sesuatu yang menurutnya tak pernah ia rasakan di London. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan dikendalikan oleh sang istri, melainkan untuk pertama kalinya berani membela diri dan memilih hidup yang lebih sunyi, jauh dari kamera dan kepura-puraan.
Penghinaan Atas “Beckham”
Drama ini mencapai titik simbolik ketika Brooklyn mulai konsisten menggunakan nama “Peltz-Beckham”. Bagi Victoria, hal ini disebut-sebut sebagai penghinaan terhadap warisan nama Beckham yang dibangun selama puluhan tahun.

Sementara itu, tim humas keluarga Peltz dengan cekatan memosisikan Nicola sebagai korban dari figur mertua yang dominan dan sulit didekati. Polarisasi pun terjadi di kalangan publik: antara mereka yang membela nilai keluarga tradisional dan loyalitas terhadap orang tua, dan mereka yang mendukung kebebasan individu serta hak untuk memutus siklus yang dianggap toksik.
Pada akhirnya, masa depan keluarga Beckham tampak buram, setidaknya dari sisi citra. Secara finansial, mereka mungkin tetap kokoh. Namun secara simbolik, retakan ini adalah luka yang sulit disembuhkan.
Jika konflik ini berlanjut hingga akhir 2026, bukan tak mungkin publik akan menyaksikan perpecahan yang lebih formal—baik dalam bentuk sengketa hukum, pemisahan aset, maupun pembatasan penggunaan nama “Beckham” dalam bisnis Brooklyn.
Yang jelas, era “The Beckhams” sebagai keluarga sempurna yang tak tergoyahkan mungkin telah mencapai akhirnya, digantikan oleh kisah yang jauh lebih manusiawi: tentang kekuasaan, identitas, dan harga yang harus dibayar di balik sebuah nama besar.(*)
BACA JUGA: David Beckham Resmi Dianugerahi Gelar ‘Sir’ Oleh Raja Charles III






