Crispy

Denda ‘Stop Genocide’: Komunitas Muslim Balas Sanksi NFL Terhadap Azeez Al-Shaair dengan Donasi Masif

Al-Shaair mengaku bingung dengan perbedaan perlakuan liga. Ia menyoroti bahwa pemain lain yang menampilkan pesan non-olahraga biasanya hanya dikenakan denda tanpa ancaman dikeluarkan dari laga.

JERNIH – Linebacker Houston Texans, Azeez Al-Shaair, dijatuhi denda sebesar $11.593 (sekitar Rp181 juta) oleh National Football League (NFL). Sanksi ini diberikan setelah Al-Shaair mengenakan plester hidung (nose tape) bertuliskan “Stop the Genocide” dalam sebuah wawancara televisi pekan lalu.

Meski tidak merujuk pada konflik spesifik, pesan tersebut secara luas dipahami sebagai protes terhadap kekejaman yang terjadi di Gaza dan Sudan. Namun, alih-alih meredam suara sang pemain, denda tersebut justru memicu gelombang solidaritas besar dari komunitas Muslim Amerika.

Nimrah Riaz, pendiri Siraat Strategies, menyatakan bahwa komunitas ingin mengubah momen hukuman finansial ini menjadi sesuatu yang positif. “Jika Azeez menggunakan panggungnya untuk membela kemanusiaan dan ada konsekuensi finansialnya, komunitas memilih untuk mengalihkannya. Kami secara kolektif menggalang dana untuk Palestina dan Sudan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan,” ujar Riaz kepada Al Jazeera.

Solidaritas nyata ditunjukkan oleh mantan pemain NFL, Husain Abdullah, yang menyumbangkan dana pribadi sebesar $11.593—setara dengan nilai denda Al-Shaair—kepada lembaga kemanusiaan Human Development Fund (HDF). Penggalangan dana serupa di platform Launchgood juga terus bergerak mendekati angka denda tersebut.

Kontroversi semakin memanas setelah Al-Shaair mengungkapkan adanya ancaman diskualifikasi di lapangan. Pada pertandingan melawan New England Patriots hari Minggu lalu, ia kembali mengenakan plester pesan yang sama saat pemanasan, namun tidak memakainya saat pertandingan dimulai.

Al-Shaair mengaku bingung dengan perbedaan perlakuan liga. Ia menyoroti bahwa pemain lain yang menampilkan pesan non-olahraga biasanya hanya dikenakan denda tanpa ancaman dikeluarkan dari laga.

Kasus ini kembali memicu debat mengenai netralitas politik di dunia olahraga AS. Kritikus menunjukkan bahwa pada tahun 2023, NFL justru mengadakan sesi mengheningkan cipta untuk korban serangan 7 Oktober di Israel, sebuah langkah yang dinilai mengabaikan penderitaan warga Palestina di Gaza yang jumlah korbannya terus melonjak drastis.

Selain itu, beberapa pemilik tim NFL dikenal sebagai pendukung setia Israel. Contoh paling menonjol adalah pemilik New England Patriots, Robert Kraft, yang merupakan donor utama bagi kelompok pro-Israel seperti AIPAC.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) cabang Houston mengecam sanksi tersebut. “Pesan Azeez Al-Shaair berakar pada nilai dasar kemanusiaan dan kepedulian terhadap nyawa tak berdosa. Itu seharusnya tidak kontroversial, apalagi didenda,” tegas direktur operasi CAIR-Houston, Imran Ghani.

Azeez Al-Shaair sendiri bukanlah sosok baru dalam aktivisme. Melalui program “My Cause My Cleats”, ia sebelumnya telah menyumbangkan dana untuk Palestine Children’s Relief Fund (PCRF) lewat sepatu khusus bertuliskan “Free” dan data mengenai kekejaman di Gaza.

Meskipun memicu kemarahan kelompok pro-Israel, langkah Al-Shaair justru mendapatkan tempat di hati warga Muslim di Texas dan sekitarnya, yang kini menjadikannya simbol keberanian atlet dalam menyuarakan keadilan di tengah risiko karier.

Back to top button