Devil Crab si Pembunuh Vlogger Filipina

Tak semua kepiting layak dimakan. Jika Anda menemukan spesies kepiting dengan warna yang terlalu cerah atau pola yang tidak lazim, hindari untuk mengonsumsinya. Siapa tahu devil crab.
WWW.JERNIH.CO – Kematian tragis seorang vlogger asal Filipina baru-baru ini telah memicu gelombang peringatan di media sosial mengenai bahaya mengonsumsi makanan laut yang tidak dikenal. Vlogger tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah mengonsumsi jenis kepiting yang dikenal sebagai Devil Crab atau kepiting iblis.
Insiden ini menjadi pengingat keras bahwa alam menyediakan keindahan sekaligus ancaman yang mematikan, terutama bagi mereka yang gemar melakukan eksperimen kuliner tanpa pengetahuan yang cukup.
Devil Crab memiliki nama ilmiah Zosimus aeneus. Di beberapa daerah, ia juga dikenal dengan nama Mosaic Crab karena pola cangkangnya yang unik. Berbeda dengan kepiting bakau atau rajungan yang biasa kita konsumsi, kepiting ini termasuk dalam keluarga Xanthidae.
Secara biologis, kepiting ini tidak memiliki kelenjar racun seperti ular atau kalajengking. Racun yang ada di dalam tubuhnya berasal dari akumulasi makanan yang ia konsumsi di habitat alaminya, seperti dinoflagellata atau bakteri tertentu yang menghasilkan toksin kuat.
Karena racunnya tersebar di seluruh jaringan tubuh—mulai dari daging hingga cangkangnya—kepiting ini dikategorikan sebagai hewan yang sangat beracun untuk dimakan, bukan berbisa melalui sengatan.
Untuk menghindari kesalahan fatal, sangat penting untuk mengenali ciri-ciri fisik kepiting ini. Zosimus aeneus memiliki penampilan yang cukup mencolok, yang sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan alami (aposematisme) untuk memberi tahu predator bahwa ia berbahaya.
Cangkangnya (karapas) memiliki pola bercak-bercak atau mosaik berwarna cokelat kemerahan, oranye, atau merah tua di atas latar belakang krem atau abu-abu. Permukaan cangkangnya tidak halus, melainkan dipenuhi dengan benjolan-benjolan tumpul atau tekstur kasar yang khas.
Kepiting ini biasanya berukuran kecil hingga sedang, jarang mencapai ukuran kepiting komersial yang besar. Ia menghuni terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik, mencakup wilayah perairan Filipina, Indonesia, Australia utara, hingga kepulauan di Samudera Hindia. Mereka biasanya bersembunyi di celah-celah karang pada kedalaman dangkal.
Bahaya utama dari Devil Crab terletak pada kandungan racun saraf yang sangat kuat di dalam tubuhnya, yaitu Saxitoxin dan Tetrodotoxin (TTX). Saxitoxin adalah salah satu racun saraf alami paling mematikan di dunia. Racun ini juga ditemukan pada fenomena red tide (pasang merah).
Sementara itu, Tetrodotoxin adalah racun yang sama yang ditemukan pada ikan buntal (pufferfish). Kedua racun ini bekerja dengan cara memblokir saluran natrium pada sel saraf, yang mengakibatkan sinyal dari otak tidak sampai ke otot.
Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah anggapan bahwa racun akan hilang jika kepiting dimasak, direbus, atau dibakar. Faktanya, racun dalam Devil Crab bersifat termostabil. Artinya, suhu tinggi saat memasak tidak akan merusak struktur kimia racun tersebut. Sekalipun Anda merebusnya selama berjam-jam, daging kepiting itu tetap akan mengandung dosis mematikan bagi manusia.
Hingga saat ini, tidak ada obat penawar (antidotum) spesifik untuk keracunan Saxitoxin atau Tetrodotoxin. Penanganan medis hanya bersifat suportif, seperti penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator) untuk menjaga pasien tetap hidup sampai tubuh berhasil melakukan metabolisme dan mengeluarkan racun tersebut secara alami melalui urine.
Jika seseorang tidak sengaja mengonsumsi Devil Crab, gejala biasanya muncul dengan sangat cepat, mulai dari hitungan menit hingga beberapa jam. Prosesnya sering kali dimulai dengan kesemutan (parestesia), rasa baal atau kesemutan di sekitar bibir, lidah, dan wajah.
Berlanjut ke gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan sakit perut yang hebat. Efek selanjutnya biasanya ke kelumpuhan otot. Lemas pada tangan dan kaki yang berkembang menjadi kelumpuhan total. Sementara penyebab utama kematian adalah kesulitan bernafas. Otot-otot yang mengendalikan pernapasan berhenti bekerja, menyebabkan korban sesak napas dan akhirnya meninggal karena kekurangan oksigen (asfiksia). (*)
BACA JUGA: Ilmuwan Temukan Spesies Baru Kepiting Berbulu Menyeramkan
