Dilema Jones Act, Mengapa Trump Menunda Keputusan di Tengah Krisis Perang Iran?

Di tengah berkecamuknya Operasi Epic Fury, kebijakan maritim berusia seabad, Jones Act, menjadi bola panas di Gedung Putih. Antara melindungi pekerja domestik dan menekan harga BBM yang meroket.
WWW.JERNIH.CO – Penundaan keputusan terkait Jones Act oleh Presiden Trump di tengah berkecamuknya perang dengan Iran pada awal 2026 merupakan langkah strategis yang penuh perhitungan politik dan keamanan. Meskipun pada akhirnya ia menyetujui pengecualian (waiver) selama 60 hari pada 18 Maret 2026, masa penundaan sebelumnya terjadi karena beberapa faktor krusial:
Undang-Undang Jones, atau yang secara resmi dikenal sebagai Merchant Marine Act of 1920, adalah pilar hukum maritim Amerika Serikat yang telah bertahan selama lebih dari satu abad. Namun, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump pada tahun 2026, undang-undang ini kembali menjadi pusat perdebatan nasional dan global.
Jones Act adalah undang-undang federal yang mewajibkan semua barang yang diangkut melalui air antara pelabuhan-pelabuhan di Amerika Serikat harus dibawa oleh kapal yang memenuhi empat kriteria ketat, yaitu dibangun di Amerika Serikat, dimiliki oleh warga negara Amerika Serikat, berbendera Amerika Serikat dan diawaki oleh kru yang mayoritas adalah warga negara atau penduduk tetap AS.
Dibuat setelah Perang Dunia I, tujuan utamanya adalah untuk memastikan AS memiliki industri pembuatan kapal yang kuat dan armada angkatan laut sipil yang siap mendukung militer selama masa perang. Bagi para pendukungnya, ini adalah masalah kedaulatan dan keamanan nasional. Namun bagi pengkritiknya, undang-undang ini dianggap sebagai kebijakan proteksionisme kuno yang menghambat kompetisi dan memicu inefisiensi ekonomi.
Pada awal tahun 2026, pemerintahan Trump menghadapi tekanan besar untuk memberikan pengecualian (waiver) terhadap Jones Act. Penundaan keputusan ini (sebelum akhirnya disetujui untuk periode 60 hari pada Maret 2026) disebabkan oleh pertimbangan politik dan ekonomi yang sangat kontradiktif.
Di satu sisi, Trump sangat mendukung industri manufaktur dalam negeri (galangan kapal AS). Mencabut atau memberikan pengecualian Jones Act dianggap bisa merugikan pekerja maritim Amerika yang merupakan basis pendukungnya.
Terjadinya konflik militer dengan Iran pada awal 2026 (Operasi Epic Fury) menyebabkan lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok. Penundaan awal dilakukan untuk mengevaluasi apakah pemberian izin bagi kapal asing benar-benar akan menurunkan harga bensin di pompa bensin secara signifikan, atau justru hanya menguntungkan pedagang komoditas tanpa dampak nyata bagi konsumen.
Industri maritim AS dan serikat pekerja memberikan tekanan kuat agar undang-undang ini tetap ditegakkan secara ketat, sementara sektor pertanian dan energi menuntut fleksibilitas demi menekan biaya logistik yang melambung.
Setelah pertimbangan yang matang, Trump akhirnya menandatangani pengecualian selama 60 hari pada pertengahan Maret 2026. Langkah ini membawa dampak signifikan bagi berbagai sektor.
Pengecualian ini memungkinkan kapal tanker asing untuk mengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari Gulf Coast ke wilayah Pantai Timur (Northeast). Sebelumnya, wilayah tersebut sering kali lebih murah mengimpor minyak dari luar negeri daripada membelinya dari Texas karena biaya sewa kapal Jones Act yang sangat mahal. Hal ini membantu menstabilkan pasokan energi di tengah krisis Timur Tengah.
Petani Amerika merasakan dampak langsung melalui ketersediaan pupuk. Dengan dibukanya akses bagi kapal asing, distribusi pupuk domestik menjadi lebih efisien dan murah tepat pada saat musim tanam dimulai. Ini krusial untuk menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi harga pangan.
Wilayah seperti Puerto Rico adalah yang paling terdampak oleh Jones Act. Karena tidak memiliki akses transportasi darat ke daratan AS, mereka bergantung sepenuhnya pada jalur laut. Pengecualian ini menurunkan biaya hidup sementara di wilayah tersebut, karena barang-barang kebutuhan pokok kini bisa diangkut dengan kapal kargo internasional yang biaya operasionalnya jauh lebih rendah.(*)
BACA JUGA: Pemerintahan Trump Gunakan Meme dan Video untuk Memoles Duka dan Kekejaman Perang di Iran
