Crispy

Doktrin Monroe dan Sejarah Perilaku AS Mengganti Rezim di Negara-negara Amerika Latin

  • Mungkinkah Venezuela berani melawan AS seperti Nikaragua dan Kuba, atau bernasib seperti Guatemala?
  • Di Cile 1973 AS menggulingkan pemimpin yang terpilih secara demokratis, dan mengangkat diktator.

JERNIH — AS punya pengalaman panjang mengganti paksa rezim di negara-negara Amerika Latin, ketika kepentingan bisnis oligarki Paman Sam terganggu. Presiden Nicolas Maduro hanyalah korban terbaru di abad ke-21 dalam daftar panjang perubahan rezim lewat kekuatan senjata yang dilakukan AS.

Di abad ke-21, tulis Russia Today, AS mengatur dan melakukan puluhan perubahan rezim di Amerika Latin. Semua itu dilakukan sesuai Doktrin Monroe — ajaran yang disampaikan Presiden James Monroe yang menganggap Amerika Latin sebagai halaman belakang AS dan harus bersih dari pengaruh negara Eropa mana pun.

Doktrin Monroe tidak menghendaki pembangkangan rezim di salah satu negara Amerika Latin. Seluruh negara Amerika Latin harus tunduk pada kepentingan AS, tidak boleh bekerja sama dengan negara yang dianggap ‘musuh’ atau pesaing global Washington, atau menghadapi kemungkinan pergantian rezim secara paksa dengan segala cara.

Nicolas Maduro, presiden Venezuela, pasti tahu Doktrin Monroe. Ia taku akibat membangkang terhadap kepentingan AS, tapi dia juga tahu melayani Washington adalah menyerahkan ladang minyaknya ke perusahaan-perusahaan Paman Sam.

Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabugan AS, mengatakan; “Selalu ada kemungkinan kami akan ditugaskan melakukan misi semacam ini lagi.” Mungkinkah Doktrin Monroe memakan korban lagi setelah Nicolas Maduro.

Berikut korban-korban Doktrin Monroe sepanjang abad ke-20.

Guatemala 1954

Juni 1954 Presiden (terpilih) Jacobo Arbenz Guzman harus menghadapi kenyataan digulingkan sekelompok tentara bayaran yang dilatin dan didanai Washington. Ini kali pertama AS melakukan perubahan rezim secara paksa di Amerika Latin. Alasan perubahan adalah reformasi pertanahan yang mengancam kepentingan United Fruit Corporation, perusahaan agroindustri yang didirikan Minor C. Keith, Bradley Palmer, dan Andrew W. Preston, di Boston.

CIA mengakui perannya dalam kudeta itu tapi baru mendeklasifikasi dokumen relevan tahun 2000-an. Dokumen-dokumen itu yang menjadi acuan bagi intervensi AS di masa depan. Intervensi untuk mengganti rezim secara paksa di Amerika Latin melibatkan operasi psikologis, tekanan elite, dan rekayasa hasil politik di luar kudeta.

Republik Dominika 1965

Satu dekade kemudian, Washington melakukan intervensi militer langsung untuk mengarahkan krisis di negara Karibia agar menguntungkan negara tersebut. Mengutip “ancaman Komunis,” AS mengirim militernya ke Santo Domingo untuk menindak pendukung Juan Bosch – presiden Republik Dominika pertama yang terpilih secara demokratis, yang telah digulingkan oleh junta militer.

AS mengirimkan lebih dari 20.000 tentara ke pulau itu dalam Operasi Power Pack untuk mendukung pasukan anti-Bosch. Pemilu berikutnya pada tahun 1966, yang dirusak oleh tuduhan kecurangan, membawa kandidat yang didukung AS ke tampuk kekuasaan. Pendudukan AS menyebabkan meningkatnya penindasan di Republik Dominika dan menaburkan ketidakpercayaan terhadap intervensionisme Washington di Amerika Latin.

Cile 1973

Salvador Allende terpilih secara demokratis untuk memimpin Cile, tapi AS tak menghendakinya. AS menciptakan kudeta untuk menggulingkan Allende, dan menjadi contoh bagaimana Washington mengabaikan demokrasi jika menghasilkan pemimpin tak dikehendaki.

Sebelum kudeta, CIA telah melakukan operasi rahasia dan menyebarkan propaganda anti-Komunis sejak pertengahan tahun 1960an untuk mencegah Allende menjadi presiden. Setelah terpilih pada tahun 1970, Washington menghabiskan waktu tiga tahun dan delapan juta dolar AS lagi untuk kegiatan rahasia, sekaligus memperluas kontak dengan militer Chili dan oposisi militan pro-kudeta.

Pergantian rezim yang didukung AS pada tahun 1973 menyebabkan kediktatoran selama 17 tahun di bawah Augusto Pinochet. Selama periode tersebut, puluhan ribu orang dipenjarakan karena alasan politik, banyak di antaranya menjadi sasaran penyiksaan.

Kuba 1961

Pada bulan April 1961, pasukan pengasingan Kuba yang didukung AS mendarat di pantai selatan Kuba untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Castro berkuasa di pulau Karibia itu setelah revolusi sayap kiri menggulingkan diktator Fulgencio Batista yang didukung AS pada tahun 1959.

Invasi Teluk Babi berakhir dengan bencana, karena militer Kuba yang dipimpin oleh Castro mengalahkan pasukan berkekuatan 1.500 orang hanya dalam dua hari. Upaya kudeta itu mendorong Kuba lebih dekat dengan Uni Soviet dan memicu Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962.

Kegagalan itu juga membuka jalan bagi Operasi Mongoose AS, sebuah kampanye serangan terhadap fasilitas sipil di Kuba dan tindakan rahasia yang dirancang untuk melemahkan pemerintahan Castro.

Nikaragua 1979

Washington juga berusaha untuk membalikkan hasil revolusi Amerika Latin lainnya yang menggulingkan diktator yang didukung AS Anastasio Somoza, dan membawa tokoh Marxis Daniel Ortega di Nikaragua ke tampuk kekuasaan pada tahun 1979. Presiden AS Ronald Reagan diam-diam memberi wewenang kepada CIA untuk memberikan bantuan sebesar 20 juta dolar kepada militan penentang Ortega, yang dikenal sebagai Contras. Skema ini sebagian didanai oleh penjualan senjata ke Iran yang melanggar embargo AS.

Rencana itu berujung pada skandal Iran-Contra pada tahun 1986 di AS dan menjerumuskan Nikaragua ke dalam perang saudara selama satu dekade yang memakan korban 50.000 jiwa. AS gagal total di negara ini, karena Ortega tetap mempertahankan kekuasaan. Meskipun ia kalah dalam pemilihan ulang pada tahun 1996, Ortega kembali berkuasa satu dekade kemudian dan tetap menjadi presiden negara tersebut pada awal tahun 2026.

Back to top button