F-16 AS Nyaris Baku Tembak dengan Jet Tempur Tiongkok di atas Korsel

- F-16 AS dilaporkan beroperasi di antara zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Korsel dan Tiongkok.
- Militer Korsel menyampaikan kekhawatirannya kepada AS setelah insiden. AS menolak memberi rincian insiden.
JERNIH — Sekitar sepuluh jet tempur F-16 AS yang berpangkalan di Korea Selatan (Korsel) terlibat ‘pertempuran udara singkat’ dengan jet-jet tempur Tiongkok.
Korea Times memberitakan insiden jarang terjadi ini memicu peringatan dari para analisis bahwa Washington mungkin sedang menerapkan pergeseran lebih luas untuk menggunakan pasukan Paman Sam di Korsel (USFK) untuk melawan Tiongkok.
Sejak menjabat kali kedua, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa pasukan AS di Korsel akan mengambil peran lebih besar mencegah Tiongok, sedangkan Seoul mengambil tanggung jawab melawan ancaman Korea Utara. Insiden yang baru terjadi mencerminkan pergeseran itu.
Sumber militer di Seoul, Jumat 20 Februari, mengatakan sepuluh jet tempur F-16 AS lepas landas dari Pangkalan Udara Osan di Pyeogtaek, Propinsi Gyeonggi, Rabu lalu, dan terbang di atas perariran internasional di Laut Barat.
F-16 dilaporkan beroperasi di antara zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Korsel dan Tiongkok, yang membuat militer Cina melepas jet tempur. Tidak terjadi bentrokan.
Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan mengatakan tidak dapat mengkonfirmasi hal-hal terkait operasi atau aktivitas militer USFK, tetapi menambahkan bahwa “pasukan Korea Selatan dan AS mempertahankan postur pertahanan gabungan yang kuat.”
Sumber mengatakan USFK telah memberi tahu militer Korea Selatan sebelum latihan itu sendiri tetapi tidak memberikan informasi rinci, termasuk tujuannya. Dalam kasus latihan khusus AS yang tidak melibatkan aset udara Korea Selatan, rencana dan tujuan operasional lengkap tidak selalu dibagikan.
Militer Korea Selatan dilaporkan menyampaikan kekhawatirannya kepada AS setelah mengetahui insiden tersebut. Sedangkan USFK menolak memberi rincian tentang insiden.
Cho Han-bum, seorang peneliti senior di Institut Unifikasi Nasional Korea yang dikelola negara, menggambarkan insiden tersebut sebagai “tanda nyata pertama bahwa USFK mengalihkan perannya untuk melawan Tiongkok.”
“Sangat tidak biasa bagi USFK untuk melakukan latihan besar-besaran di Laut Barat secara sepihak, bukan selama latihan gabungan terjadwal dengan Korea Selatan. Operasi di dekat ADIZ China menunjukkan bahwa langkah itu jelas ditujukan kepada Beijing,” katanya.
Cho mengatakan insiden itu sendiri kemungkinan tidak akan secara signifikan memengaruhi hubungan antara Seoul dan Beijing, karena kedua pihak telah mengelola hubungan dengan hati-hati. Namun, ia memperingatkan bahwa jika latihan semacam itu menjadi lebih sering, Korea Selatan dapat semakin terjebak dalam posisi yang canggung.
The Global Times, media Tiongkok berbahasa Inggris, melaporkan Tentara Pembebasan Rakyat mengorganisir pasukan laut dan udara untuk melakukan pemantauan dan peringatan terus-menerus selama seluruh proses, dan secara efektif menanggapi dan menangani situasi sebagai tanggapan terhadap aktivitas militer AS di wilayah udara di atas Laut Barat.
Konfrontasi militer yang jarang terjadi antara USFK dan pasukan China terjadi ketika para pejabat AS berulang kali menekankan apa yang mereka sebut sebagai “fleksibilitas strategis” USFK, merujuk pada potensi penyesuaian peran pasukan Amerika yang ditempatkan di Korea Selatan.
Konsep ini membayangkan perluasan misi USFK untuk mengatasi tantangan keamanan regional yang lebih luas, termasuk Tiongkok, di luar fokus tradisionalnya pada pencegahan ancaman nuklir Korea Utara.
Strategi Pertahanan Nasional terbaru Departemen Pertahanan AS, yang dikeluarkan pada Januari, menyatakan bahwa “Korea Selatan mampu mengambil tanggung jawab utama untuk mencegah Korea Utara dengan dukungan AS yang penting tetapi lebih terbatas.”
Komandan USFK Jenderal Xavier Brunson telah menggarisbawahi posisi geografis Korea Selatan sebagai keuntungan strategis di kawasan Asia Timur yang lebih luas.
Dalam sebuah esai yang diterbitkan November lalu, ia memperkenalkan apa yang disebut “peta timur-atas” Semenanjung Korea, yang memutar peta dari orientasi tradisionalnya untuk menyoroti kemampuan Korea Selatan untuk memproyeksikan pengaruh di berbagai poros persaingan, termasuk Korea Utara, Tiongkok, dan Rusia.






