CrispyDesportare

Assist Keren dan Air Mata Mohamed Salah Warnai Farewell Terindah di Liverpool

Di bawah kepulan suar merah dan nyanyian yang memekakkan telinga, Sang Raja Mesir meneteskan air mata terakhirnya di rumput Merseyside.

WWW.JERNIH.CO –  Anfield tidak pernah kekurangan malam-malam magis, tetapi hari Minggu, 24 Mei 2026, akan tercatat dalam sejarah dengan warna yang berbeda.

Hari itu adalah lambaian tangan terakhir dari sang Raja Mesir, Mohamed Salah. Setelah hampir satu dekade menghancurkan rekor demi rekor, laga pamungkas Premier League musim 2025/2026 menjadi panggung farewell resmi bagi sang legenda modern Liverpool.

Sejak beberapa jam sebelum kick-off, atmosfer di sekitar stadion sudah terasa magis sekaligus melankolis. Ribuan suporter berkumpul di sepajang jalan, menyalakan suar merah, dan menyanyikan chant ikonik “Mo Salah, Mo Salah, Running down the wing…” dengan volume yang memekakkan telinga.

Pertandingan hari itu melawan Brentford sendiri berjalan penuh drama, namun fokus semua orang tertuju pada nomor punggung 11. Ada beberapa momen seru dan ikonik yang terjadi sepanjang laga perpisahan ini.

Saat memasuki lapangan, tidak hanya tim lawan yang memberikan penghormatan, tetapi seluruh staf pelatih, legenda klub yang hadir di tribun, hingga maskot tim berdiri memberikan applause.

BACA JUGA: Mohamed Salah Tinggalkan Liverpool Akhir Musim

Tribun The Kop membentangkan mosaik raksasa berbentuk siluet selebrasi ikonik Salah—berdiri dengan satu kaki dan tangan terbuka—berdampingan dengan tulisan “The Egyptian King, Forever Red”.

Seolah naskahnya sudah ditulis di langit, Salah berhasil memberi kontribusi gol Liverpool. Lewat assist keren nan presisi, lalu disambut Jones yang tinggal menyonteknya. Stadion meledak dalam kegembiraan yang bercampur haru.

Selama ini, Mohamed Salah dikenal sebagai sosok yang tangguh dan jarang mengekspresikan kesedihan secara berlebihan di lapangan. Namun, pertahanan emosional itu runtuh saat peluit panjang berbunyi.

Saat melangkah ke tengah lapangan untuk prosesi lap of honour bersama istri dan anak-anaknya, pandangan Salah tertuju pada tribun Kop End yang terus meneriakkan namanya tanpa henti.

Air mata Salah mulai menetes, membasahi pipinya. Ia sempat menutupi wajahnya dengan jersey merahnya, mencoba menahan isak tangis, namun gagal.

Rekan-rekan setimnya, termasuk Virgil van Dijk, langsung memeluknya erat, menciptakan momen emosional yang membuat mayoritas penonton di stadion ikut menangis.

Sambil memegang mikrofon di tengah lapangan, dengan suara yang bergetar dan mata yang masih sembap, Mohamed Salah menyampaikan kalimat perpisahan yang menyentuh hati setiap Scouser.

“Saat saya pertama kali datang ke sini tahun 2017, saya punya impian besar, tetapi saya tidak pernah membayangkan kita akan melewati semua ini bersama-sama. Liverpool bukan sekadar klub sepak bola bagi saya, ini adalah rumah. Kalian, para pendukung, memberi saya cinta yang tidak akan pernah bisa saya balas sepenuhnya,” ujarnya dalam isak.

“Hari ini saya menangis bukan karena sedih, tetapi karena saya merasa sangat diberkati telah menjadi bagian dari sejarah klub ini. Saya pergi sebagai seorang suporter Liverpool seumur hidup. Terima kasih untuk segalanya. You will never walk alone,” tutup Mo.

Perpisahan ini menandai akhir dari sebuah era emas. Mohamed Salah pergi meninggalkan Anfield, tetapi warisan, gol-gol mustahilnya, dan senyumannya setelah mencetak gol akan abadi di hati publik Merseyside.(*)

BACA JUGA: Curhat Mohamed Salah Menggugat Pudarnya Identitas Heavy Metal Liverpool

Back to top button