Puisi

Surat Tan Malaka

Dari balik keremangan jelutung malam, aku berdiri menatap gemerlap tanah airku yang megap.

Cahaya neon merayap licin, membiaskan bayang-bayang lapar di bawah panggung kekuasaan yang riuh.

Negeri yang dahulu kuhadiahkan lewat penderitaan, kini menjelma labirin berkaca tebal.

Pena pergerakanku telah lama membeku, namun jiwaku kembali meletup menyaksikan sandiwara ini.

Pernah kusemaikan banteng Madilog untuk menghancurkan belenggu klenik dan mistisme zaman.

Namun di gedung-gedung megah, akal sehatmu justru kautumbalkan demi mitos kekayaan instan.

Logika bernalar kau biarkan tertidur pulas dalam pelukan janji-janji manis yang menipu.

Korupsi kini menjalar bagai benalu gergasi, menggerogoti tiang-tiang bambu rumah rakyatku.

Tangan-tangan licik merampas keringat buruh, membungkus keserakahan dengan jubah hukum yang lapuk.

Kusaksikan keadilan yang dulu kubela, kini diperjualbelikan di pasar gelap kepentingan.

Anak-anak bangsaku menelan mimpi-mimpi besar, namun hanya mengecap ampas kemiskinan.

Jeritan jutaan rakyat tenggelam di bawah riuh pesta pora para elit yang hilang arah.

Pemikiranku ternyata belum mati; ia tetap menjadi suar yang mendobrak kabut kepalsuan ini.

Aksi Massa yang kuharapkan kini bukan lagi teriakan gagah, melainkan rintihan sunyi di balik jeruji kemiskinan.

Mataku berbisik tegas padamu: bangkitkan kembali akal murnimu dan rebut kembali kemerdekaan sejati. (*)

*) Terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Tan Malaka, dari dua Madilog dan Aksi Massa. Andaikan ia masih hidup dan melihat kenyataan negerinya hari ini.

Check Also
Close
Back to top button