Haji Alim Tutup Usia, Crazy Rich Palembang yang Bangun Kerajaan Bisnis dari Nol

Kemas Haji Abdul Alim Ali atau Haji Alim, pengusaha besar Palembang yang dikenal dermawan dan berpengaruh, meninggal dunia di usia 88 tahun setelah menjalani perawatan intensif.
WWW.JERNIH.CO – Mendung menyelimuti Sumatera Selatan. Kemas Haji Abdul Alim Ali, yang lebih dikenal dengan sapaan Haji Alim, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha besar Palembang, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis, 22 Januari 2026.
Sosok yang kerap dijuluki sebagai orang terkaya di Palembang ini wafat pada usia 88 tahun di Rumah Sakit Siti Fatimah Az-Zahra, Palembang, sekitar pukul 14.25 WIB.
Semasa akhir hidupnya, Haji Alim menjalani perawatan intensif di ruang ICU (ICCU) akibat penurunan kondisi kesehatan yang dipicu komplikasi penyakit pada organ dalam, meliputi jantung, paru-paru, dan liver.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Palembang yang mengenalnya sebagai pengusaha pribumi yang ulet, religius, dan dermawan.
Haji Alim dikenal memulai naluri berdagang sejak usia sangat muda, sekitar enam tahun. Dari pasar-pasar tradisional Palembang, insting bisnisnya terasah hingga akhirnya membawanya membangun kerajaan usaha di bawah bendera Sentosa Group.
Di mata masyarakat, ia kerap menjadi rujukan dan tempat bersilaturahmi para ulama, tokoh nasional, hingga presiden Republik Indonesia. Kediamannya di Jalan M. Isa, Palembang, dikenal sebagai titik pertemuan penting bagi berbagai kalangan.
Kekayaannya yang melimpah membuat Haji Alim dijuluki “Crazy Rich Palembang”. Sumber asetnya tersebar luas di berbagai sektor strategis, mulai dari perkebunan kelapa sawit dan karet dengan lahan ribuan hektare di Sumatera Selatan, pertambangan batu bara, hingga properti dan perdagangan. Ekspansi ke sektor sumber daya alam menjadi puncak kejayaannya, memberikan arus kas besar yang menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di daerah tersebut.
Meski tidak pernah tercatat secara resmi dalam daftar orang terkaya versi Forbes karena sebagian besar bisnisnya bersifat privat, besarnya kekayaan Haji Alim dapat ditaksir dari sejumlah indikator. Ia diketahui rutin menunaikan zakat mal sekitar Rp1 miliar setiap bulan.
Selain itu, kepemilikan lahan di bawah perusahaan seperti PT Sentosa Kurnia Bahagia (PT SKB), izin usaha pertambangan batu bara melalui beberapa entitas, serta aset properti strategis di Palembang, menguatkan citranya sebagai raksasa ekonomi lokal.
Di balik reputasi dermawan dan keberhasilan bisnisnya, Haji Alim juga menghadapi kontroversi hukum di akhir hayat. Ia sempat ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pemalsuan dokumen Hak Guna Usaha (HGU) terkait pengadaan lahan proyek Jalan Tol Betung–Tempino–Jambi.
Jaksa mendakwa adanya potensi kerugian negara sebesar Rp127 miliar, meski pihak kuasa hukum membantah tuduhan tersebut dan menyebut kliennya belum menerima uang ganti rugi apa pun. Kondisi persidangan turut menyita perhatian publik, terutama ketika Haji Alim yang sakit parah tetap dihadirkan ke ruang sidang menggunakan ranjang medis dengan infus dan tabung oksigen.
Berdasarkan keterangan keluarga, jenazah Haji Alim rencananya akan dimakamkan pada Jumat, 23 Januari 2026, setelah salat Jumat. Prosesi salat jenazah akan dilaksanakan di Masjid Agung Palembang sebelum dimakamkan di pemakaman keluarga. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang pengusaha pribumi yang membangun kekaisaran bisnis dari nol dan menjadi simbol kekuatan ekonomi lokal di Sumatera Selatan.(*)
BACA JUGA: Crazy Rich India Mukesh Ambani Berminat Beli Liverpool
