Crispy

In Memoriam Ryan Kyoto Sang Arsitek Melodi dan 10 Karya Terbaiknya

“Karya, dedikasi, dan jejak beliau akan selalu hidup dalam ingatan dan perjalanan industri musik Tanah Air.” Demikian AKSI memberi catatan untuk sang pawang penyanyi bersuara emas.

WWW.JERNIH.CO –  Musisi senior sekaligus komposer bertangan dingin, Ryan Kyoto, dikabarkan mengembuskan napas terakhir di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepergian sosok yang lahir pada tahun 1958 ini meninggalkan ruang hampa di hati para penikmat musik pop kreatif yang besar bersama karya-karyanya sejak era 80-an.

Ryan Kyoto bukan pencipta lagu biasa. Ia adalah seorang maestro yang memahami anatomi rasa. Memulai langkah di dunia musik profesional pada awal usia 20-an, Ryan awalnya muncul sebagai penyanyi sebelum akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di balik layar sebagai produser dan penulis lagu.

Pilihan itu terbukti tepat; ia menjadi “pawang” bagi banyak suara emas di tanah air, mengubah kata-kata sederhana menjadi barisan lirik puitis yang menyayat namun tetap elegan.

Keunikan Ryan Kyoto terletak pada kecerdasannya dalam “menjahit” lagu sesuai karakter vokal penyanyinya. Ia memiliki insting yang tajam untuk membedah kekuatan seorang artis.

Jika ia menulis untuk Chrisye, ia akan memberikan melodi yang sophisticated namun easy listening. Bila untuk Ermy Kullit, ia akan menyisipkan nuansa pop-jazz yang dalam.

Kepiawaiannya dalam menciptakan struktur lagu yang kuat membuat karya-karyanya memiliki daya tahan luar biasa. Tak heran jika lagu ciptaannya tetap relevan saat diaransemen ulang oleh musisi masa kini.

Ryan mampu menggabungkan harmoni yang rumit dengan penyampaian yang “renyah” di telinga, sebuah keseimbangan yang hanya bisa dicapai oleh komposer dengan jam terbang tinggi.

Di balik lembutnya melodi yang ia ciptakan, Ryan Kyoto adalah sosok yang keras dan gigih dalam memperjuangkan hak para sejawatnya. Melalui AKSI (Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia), ia vokal menyuarakan pentingnya transparansi royalti. Baginya, sebuah lagu adalah aset intelektual yang harus menghidupi penciptanya seumur hidup.

Kini, di usianya yang ke-67, sang maestro telah berpulang. Ia pergi meninggalkan warisan yang bukan hanya sekadar deretan angka penjualan, melainkan sebuah standar tinggi bagi penulisan lagu di Indonesia. Sebagaimana lirik-lirik yang ia tulis, sosok Ryan Kyoto akan selalu memiliki tempat untuk “kembali” di hati para pecintanya.

Berikut 10 tembang karya Ryan Kyoto yang sukses di masanya, namun masih tetap nyaman didengar dan didendang hingga kini.

Sepanjang kariernya, Ryan telah menggubah lebih dari 135 lagu. Berikut adalah deretan karya fenomenal yang menjadi bukti kejeniusannya:

  1. Sendiri Lagi (Chrisye): Hits ikonik tahun 1993 yang kembali meledak saat dibawakan ulang oleh NOAH. Lagu ini menjadi bukti melodi Ryan tak lekang oleh waktu.
  2. Cinta Jangan Kau Pergi (Sheila Majid): Lagu lintas negara yang menjadi identitas Sheila Majid di Indonesia dan kembali populer lewat suara Vidi Aldiano.
  3. Pasrah (Ermy Kullit): Mahakarya pop-jazz tahun 1989 yang mengukuhkan posisi Ermy sebagai diva jazz tanah air.
  4. Emosi & Emosi (Ryan Kyoto): Lagu yang ia nyanyikan sendiri, membuktikan bahwa ia adalah seniman yang utuh, baik di depan maupun di balik layar.
  5. Kembali (Novia Kolopaking): Sebuah lagu tentang kepulangan yang sederhana namun sangat menyentuh emosi pendengarnya pada tahun 1988.
  6. Cinta Pertama (Trio Libels): Menunjukkan sisi ceria Ryan dalam meramu harmoni vokal grup pria yang mendominasi tangga lagu 90-an.
  7. Gelisah (Atiek CB): Ryan berhasil menjinakkan vokal powerfull Atiek CB ke dalam balutan pop kreatif yang manis namun tetap berkarakter.
  8. Janji Putih (Ressa Herlambang): Bukti adaptasi Ryan terhadap musik R&B tahun 2005 yang digemari generasi muda saat itu.
  9. Haruskah Kubiarkan (Mayangsari): Lagu melankolis yang sangat megah, menjadi salah satu puncak karier Mayangsari di tahun 1994.
  10. Pelabuhan Cinta (Harvey Malaiholo): Komposisi pop-jazz romantis tahun 1985 yang menuntut kualitas vokal tinggi, sesuai dengan karakter Harvey. (*)

BACA JUGA: Neil Young Bongkar “Kejahatan Besar” di Gedung Putih

Back to top button