Crispy

Ini Dia 6 Turnamen Piala Domestik Eropa Selain Liga Utama

Di beberapa negara yang memiliki kompetisi Liga Utama yang mendunia juga digelar turnamen yang lebih inklusif. Masing-masing punya karakter dan aturan. Yuk simak.

WWW.JERNIH.CO –  Di balik gemerlapnya liga-liga utama Eropa seperti Premier League atau Bundesliga, terdapat kompetisi yang jauh lebih dramatis, inklusif, dan penuh kejutan. Liga ini memberi kesempatan bagi klub amatir atau semi-profesional untuk bertanding melawan pemain bintang dunia.

Inilah Turnamen Piala Domestik—ajang di mana tim amatir dari desa terpencil bisa bermimpi menjegal raksasa dunia dalam sistem gugur yang kejam sekaligus romantis.

Di banyak negara (seperti Inggris), pendapatan tiket stadion dibagi rata antara tuan rumah dan tamu. Jika tim gurem beruntung bertandang ke markas Manchester United atau Real Madrid, pendapatan tiket satu malam itu bisa membiayai gaji seluruh pemain mereka selama satu musim.

Berikut adalah ulasan kompetisi “Piala” di enam negara besar Eropa yang menjadi panggung bagi seluruh klub dari berbagai kasta.

Inggris: FA Cup (The Oldest and Boldest)

Dikenal sebagai kompetisi sepak bola tertua di dunia, FA Cup adalah jantung dari sepak bola Inggris.

  • Peserta: Diikuti oleh ribuan klub dari Premier League hingga level 9 dan 10 dalam struktur liga Inggris.
  • Sistem: Gugur murni. Jika hasil imbang, biasanya dilakukan replay (tanding ulang), meski aturan ini mulai dikurangi demi efisiensi jadwal.
  • Daya Tarik: Giant Killing. Tidak ada yang lebih ikonik selain melihat klub gurem menjamu tim bertabur bintang di stadion kecil yang becek.

 Jerman: DFB-Pokal (Satu Laga Menentukan)

Jerman memiliki pendekatan yang sangat efisien dan mendebarkan dalam DFB-Pokal.

  • Peserta: 64 tim, termasuk semua klub dari Bundesliga dan 2. Bundesliga, ditambah pemenang piala regional di tingkat amatir.
  • Sistem: Berbeda dengan negara lain, DFB-Pokal tidak mengenal home-away atau replay. Pemenang ditentukan dalam satu laga (90 menit, perpanjangan waktu, atau penalti).
  • Keunikan: Tim dari divisi yang lebih rendah selalu menjadi tuan rumah saat berhadapan dengan tim dari divisi yang lebih tinggi. Ini memberikan keuntungan atmosfer bagi tim kecil.

 Italia: Coppa Italia (Panggung Bergengsi)

Coppa Italia menawarkan trofi yang sangat prestisius, meski sistemnya sedikit lebih “terproteksi” bagi tim besar.

  • Peserta: Melibatkan klub dari Serie A, Serie B, dan beberapa perwakilan dari Serie C.
  • Sistem: Menggunakan sistem gugur satu laga, kecuali pada babak semifinal yang menggunakan format home-away.
  • Daya Tarik: Pemenangnya berhak mengenakan lencana Coccarda (lingkaran warna bendera Italia) di jersey mereka selama musim berikutnya, sebuah simbol kebanggaan nasional.

Prancis: Coupe de France (Demokrasi Sepak Bola)

Jika FA Cup adalah yang tertua, maka Coupe de France adalah yang paling inklusif.

  • Peserta: Menakjubkan, kompetisi ini sering kali diikuti lebih dari 7.000 klub. Karena itu sistem yang digunakan sangat berjenjang dan kompleks.
  • Wilayah Seberang Laut: Yang unik, klub dari wilayah teritorial Prancis di luar benua Eropa (seperti Martinique di Karibia atau Reunion di Afrika) juga ikut serta.
  • Sistem: Gugur murni. Sering terjadi klub amatir melaju hingga babak final, menciptakan kisah Cinderella yang nyata.

Belanda: KNVB Beker (Turnamen Pinus)

Di Belanda, KNVB Beker adalah kompetisi knock-out utama yang memberikan tiket langsung ke kompetisi Eropa.

  • Peserta: Klub dari dua divisi profesional (Eredivisie dan Eerste Divisie) ditambah tim amatir yang lolos kualifikasi regional.
  • Sistem: Gugur satu laga.
  • Piala: Trofi ini sering dijuluki De Dennenappel (Biji Pinus) karena bentuknya yang unik. Finalnya secara tradisional selalu digelar di Stadion De Kuip, Rotterdam.

Spanyol: Copa del Rey (Piala Sang Raja)

Nama resminya adalah Campeonato de España-Copa de Su Majestad el Rey. Ini adalah kompetisi tertua di tingkat nasional Spanyol.

  • Peserta: Diikuti oleh 125 klub. Ini mencakup seluruh tim dari La Liga (Divisi Utama) dan Segunda División (Divisi Kedua), ditambah tim-tim terbaik dari kasta ketiga, keempat, kelima, serta 10 pemenang dari liga regional amatir.
  • Sistem: Sejak musim 2019/2020, formatnya berubah drastis menjadi sistem gugur satu laga (single match) hingga babak perempat final. Hanya babak semifinal yang menggunakan format home-away (dua leg).
  • Keuntungan Tim Kecil: Mirip dengan Jerman, dalam sistem satu laga ini, tim dari divisi yang lebih rendah wajib menjadi tuan rumah saat berhadapan dengan tim dari divisi yang lebih tinggi.(*)

BACA JUGA: Liga Super Eropa, Kompetisi Sepak Bola Para Kapitalis

Back to top button