Crispy

Iran Tuding Kerusuhan Berdarah, Skenario Sengaja Sebagai Karpet Merah Intervensi Militer Trump

JERNIH – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan tuduhan serius bahwa gelombang protes nasional yang kini mengguncang negaranya sengaja diubah menjadi “berdarah” oleh elemen asing. Menurutnya, kekerasan tersebut merupakan skenario terencana untuk memberikan alasan bagi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna melancarkan intervensi militer ke Republik Islam tersebut.

Dalam pertemuan dengan diplomat asing di Teheran, Senin (12/1/2026), Araghchi mengeklaim bahwa eskalasi kekerasan yang melonjak pada akhir pekan lalu dipicu oleh “teroris” yang menargetkan pengunjuk rasa maupun aparat keamanan.

“Tujuan mereka adalah mengundang intervensi asing. Kami siap untuk perang, namun kami juga siap untuk dialog,” tegas Araghchi, seraya menambahkan bahwa otoritas Iran memiliki bukti rekaman distribusi senjata kepada para pendemo.

Di tengah memanasnya situasi politik, Iran memasuki hari keempat pemadaman internet nasional. Lembaga pengawas konektivitas, NetBlocks, mendeskripsikan situasi ini sebagai “internet blackout nasional” yang telah berlangsung selama lebih dari 84 jam.

Meskipun akses informasi terputus, media lokal melaporkan bahwa situasi di ibu kota dan beberapa provinsi mulai tenang semalam setelah aparat membubarkan paksa titik-titik kerusuhan. Namun, dampak dari tiga minggu demonstrasi ini sangat fatal. Kantor berita Tasnim melaporkan 109 personel keamanan tewas.

Sementara untuk korban sipil, aktivis di luar negeri mengeklaim jumlah demonstran yang tewas jauh lebih tinggi dari angka resmi pemerintah, mencakup puluhan nyawa. Pemerintah Iran telah menetapkan tiga hari berkabung nasional bagi para “martir” yang gugur.

Trump: “Opsi Militer Sangat Serius”

Dari Washington, Donald Trump tidak menunjukkan tanda-tanda akan melunakkan tekanan. Di atas pesawat Air Force One, Trump menyatakan bahwa militer AS tengah mempertimbangkan “opsi-opsi yang sangat kuat” sebagai respons atas krisis di Iran.

“Kami melihatnya dengan sangat serius. Pemimpin Iran telah menelepon untuk bernegosiasi setelah ancaman militer kami, dan sebuah pertemuan tengah diatur,” ujar Trump kepada wartawan.

Namun, klaim negosiasi ini segera dibalas dengan nada keras oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Mantan komandan Garda Revolusi ini memperingatkan AS agar tidak melakukan salah perhitungan. “Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” tegasnya.

Ketegangan ini membawa memori kelam pada perang 12 hari antara Iran melawan Israel dan AS tahun lalu (Juni 2025), ketika Washington mengebom tiga situs nuklir utama Iran. Konflik tersebut menelan ratusan korban jiwa dan dibalas Teheran dengan ratusan rudal balistik ke arah Israel.

Kini, demonstrasi yang awalnya dipicu oleh kemarahan atas biaya hidup yang melonjak telah bertransformasi menjadi tantangan terbesar bagi kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei (86) sejak Revolusi 1979. Presiden Masoud Pezeshkian pun mendesak warga untuk menjauhkan diri dari “para perusuh dan teroris” yang ditudingnya bekerja untuk kepentingan AS dan Israel guna menebar kekacauan.

Back to top button