[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Tangis Tragis Senegal di Tangan Belgia

Dalam tempo kurang dari 10 menit, sepak bola bisa bikin tragedi tragis yang berujung tangis. Mengubah rencana ria menjadi duka. Dan itu terjadi di Stadion Seattle.
WWW.JERNIH.CO – Di panggung megah kompetisi internasional, tim nasional Senegal nyaris saja mengukir tinta emas terbesar dalam sejarah sepak bola mereka. Menghadapi raksasa Eropa, Belgia, tim berjuluk Singa Teranga ini tampil tanpa rasa takut, mengguncang dunia, dan memaksa Setan Merah berada di ujung tanduk.
Namun, malam yang seharusnya menjadi perayaan magis bagi Afrika justru berubah menjadi melodrama memilukan di menit-menit akhir.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Senegal menunjukkan bahwa mereka tidak datang untuk menjadi pelengkap. Dengan organisasi permainan yang rapi dan serangan balik secepat kilat, mereka berhasil mengacak-acak pertahanan Belgia yang tampak gugup.
Mungkin sadar bahwa mereka tak diunggulkan, maka Sadio Mane cs bermain tanpa beban. Di menit 24 berawal dari sebuah intersep bersih di lini tengah, bola dialirkan dengan cepat ke sisi sayap. Ismaïla Sarr mengirimkan umpan silang mendatar yang membelah kotak penalti Belgia. Boulaye Dia yang bergerak cerdik lolos dari kawalan bek lawan dan melepaskan tembakan first-time yang merobek jala Belgia. Stadion bergemuruh, Senegal memimpin 1-0.
Memasuki babak kedua, alih-alih bertahan, Senegal justru menggandakan keunggulan. Lewat skema sepak pojok yang melengkung indah, lini pertahanan Belgia gagal mengantisipasi bola liar. Kalidou Koulibaly yang maju membantu serangan berhasil memenangkan duel udara dan menanduk bola dengan keras ke pojok atas gawang. Skor 2-0, dan Belgia di ambang kehancuran.

Secara statistik, Belgia sebenarnya menguasai jalannya pertandingan dengan 62% penguasaan bola berbanding 38% milik Senegal. Namun, selama 80 menit laga berjalan, dominasi Belgia terasa hambar dan frustrasi.
Senegal bermain sangat efektif; mereka mencatatkan 6 tembakan tepat sasaran dari 8 percobaan, sementara Belgia terus membentur tembok kokoh yang digalang para pemain belakang Senegal.
Setelah unggul 2-0 hingga memasuki menit ke-80, secara psikologis para pemain Senegal mulai merasa gerbang babak 16 besar sudah terbuka lebar. Euforia prematur ini menurunkan intensitas tekanan (pressing) mereka. Di sisi lain, Belgia yang tidak lagi memiliki beban mulai bermain dengan mode “all-out attack”.
Kalaupun gawang mereka bobol satu pun tak akan mengubah keadaan. Deposit dua gol adalah hal “mewah” sekaligus membuka peluang mengulang prestasi pada 2002 yang gagah hingga 8 besar.
Namun konsentrasi Senegal pecah justru di saat mereka paling membutuhkannya—mendekati peluit panjang. Ketika stamina terkuras habis akibat meredam gempuran Belgia sepanjang laga, fokus taktik pun buyar. Belgia memanfaatkan celah ini dengan memasukkan pemain-pemain segar yang memiliki keunggulan fisik. Seakan wasit terlalu lama hanya untuk sekadar meniup peluit.

Menit ke-86 Kevin De Bruyne melihat celah di lini pertahanan Senegal yang mulai renggang. Ia melepaskan umpan terobosan genius kepada Romelu Lukaku. Dengan kekuatannya, Lukaku menahan bek lawan sebelum melepaskan tembakan melengkung yang memperkecil kedudukan menjadi 2-1.
Hanya berselang tiga menit, petaka sesungguhnya tiba bagi Senegal. Memanfaatkan kemelut di depan gawang akibat kepanikan lini belakang Senegal, Leandro Trossard menyambar bola muntah hasil tepisan kiper. Skor berubah 2-2, memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu (extra time).
Secara mental, Senegal sudah runtuh saat memasuki perpanjangan waktu. Momentum sepenuhnya berada di tangan Belgia. Pada menit ke-104, tekanan bertubi-tubi dari Belgia memaksa bek Senegal melakukan pelanggaran ceroboh di dalam kotak terlarang.
Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Tielemans yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan dingin. Tembakan penaltinya bersarang mulus ke pojok bawah gawang, mengubah skor menjadi 3-2 sekaligus mengunci tiket Belgia ke babak 16 besar.
Senegal terkapar di lapangan dalam tangis. (*)
BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Ketika “Young Guns” Jerman Tumbang di Tangan Guaraní






