MoronVeritas

Nasib Telur, Harus Naik Harga Gara-gara MBG Libur

Beginilah kalau tata niaga bahan makanan sangat mengndalkan satu program raksasa. Ketika program terhenti, pasokan pun berlebihan. Akibatnya pemerintah mengintervensi harga agar naik.

WWW.JERNIH.CO – Harga telur dulu sebelum ada MBG seperti rollercoaster. Namun hari-hari belakangan ini malah menurun tajam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas telur ayam ras mengalami tren deflasi yang cukup dalam, yakni 4,29% pada April dan melonjak menjadi 5,14% pada Mei.

Tren pasar menjelaskan, penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama. Faktor penekan paling signifikan adalah jeda operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur kenaikan kelas sekolah. Berhentinya pasokan harian ke dapur-dapur MBG membuat ratusan ton telur kehilangan serapan pasar secara mendadak.

Memasuki tahun 2026, sasaran penerima manfaat MBG telah meluas hingga mencapai 55,1 juta orang (meliputi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan menyusui). Dengan skala masif ini, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat angka serapan yang luar biasa.

Setiap dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata membutuhkan sekitar 3.000 butir telur setiap kali memasak menu berbasis telur. Kala itu BGN mengungkapkan bahwa ketika menu harian serentak menyajikan protein telur (seperti menu nasi goreng telur ceplok), serapan telur nasional bisa melonjak hingga 2.100 ton dalam satu hari.

Dalam kondisi operasional sekolah aktif, program MBG menyerap sekitar 40.000 hingga 50.000 ton telur per bulan. Angka ini setara dengan hampir 10% dari total produksi telur nasional yang berada di kisaran 525.000 ton per bulan.

Faktor lain memasuki periode bulan Juni/Juli yang bertepatan dengan bulan Muharram (Suro), aktivitas hajatan atau pesta rakyat di tingkat masyarakat berkurang drastis. Hal ini secara otomatis memotong rantai konsumsi rumah tangga dalam skala besar.

Perbedaan harga antara tingkat peternak (kandang) dan tingkat konsumen (pasar tradisional) menunjukkan disparitas yang sangat lebar. Pada kuartal pertama, harga telur di tingkat produsen masih cukup kokoh berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp27.000 per kg. Di tingkat konsumen, harga sempat stabil tinggi di kisaran Rp31.000 sampai Rp32.000 per kg.

Memasuki Juni, harga di tingkat peternak (terutama di sentra seperti Blitar dan Malang) anjlok drastis ke angka Rp18.000 hingga Rp20.600 per kg. Sementara itu, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga di tingkat konsumen melandai ke kisaran Rp29.100 hingga Rp29.750 per kg.

Di saat harga jual dari kandang jatuh ke Rp18.000/kg, harga jagung pakan dan konsentrat justru meroket. Kondisi ini membuat peternak rakyat mengalami kerugian margin yang sangat besar. Ketidakseimbangan inilah yang membuat peternak ayam petelur mulai teriak.

Secara agregat, kapasitas produksi telur nasional terus mencetak rekor tertinggi. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, total produksi telur ayam nasional berada di kisaran 6,3 juta ton per tahun (atau rata-rata sekitar 525.000 ton per bulan).

Untuk melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat sekaligus menjaga daya beli masyarakat, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) memiliki acuan Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP). Di tingkat peternak, pemerintah menetapkan harga ideal di tingkat kandang minimal adalah Rp26.500 per kg.

Sementara di tingkat konsumen, harga ideal di pasar tradisional ditetapkan berada di kisaran Rp29.000 hingga Rp30.000 per kg. Menteri Pertanian telah menegaskan kepada Satgas Pangan untuk menindak tegas para spekulasi atau pengepul yang membeli telur di bawah HAP Rp26.500/kg dari peternak.

Mestinya pemerintah punya skenario lain untuk mencari serapan telur di luar program. (*)

BACA JUGA: Simplifikasi  Makan Bergizi Gratis (MBG)

Back to top button