
- Eropa kini bersiap menghadapi era baru di mana Jerman tidak lagi menjadi raksasa ekonomi yang kerdil secara militer.
- Faktor utama remiliterisasi ini bukan hanya agresi Rusia di Ukraina, melainkan runtuhnya kepercayaan Jerman terhadap AS.
JERNIH – Jerman kini tengah memulai perjalanan ambisius untuk membangun kekuatan militer konvensional terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Langkah ini menandai pergeseran drastis kebijakan luar negeri Berlin yang kini lebih memilih kemandirian militer daripada terus bergantung pada perlindungan Amerika Serikat.
Awal tahun 2026 menjadi titik balik bersejarah ketika pria Jerman berusia 18 tahun mulai menerima kuesioner wajib pendaftaran militer—sebuah langkah awal menuju kemungkinan pengaktifan kembali wajib militer jika kuota sukarelawan tidak terpenuhi.
Kanselir Friedrich Merz telah menegaskan di hadapan parlemen bahwa militer Jerman (Bundeswehr) harus bertransformasi menjadi “angkatan perang konvensional terkuat di Eropa”.
Data terkini menunjukkan langkah konkret telah diambil dengan personel aktif mencapai 184.000 tentara (naik 2.500 sejak Mei tahun lalu) sementara target NATO adalah 260.000 personel aktif pada 2035 dan 200.000 tentara cadangan. Anggaran juga meroket menjadi 108 miliar euro (Rp1.870 triliun) atau setara 2,5% dari PDB Jerman, lebih dari dua kali lipat anggaran tahun 2021.
Untuk menarik minat pemuda, pemerintah menawarkan gaji menggiurkan sebesar 2.600 euro (sekitar Rp45 juta) per bulan dengan fasilitas rumah dan asuransi kesehatan gratis.
Hilangnya Kepercayaan pada “Payung Nuklir” Amerika
Faktor utama di balik remiliterisasi ini bukan hanya agresi Rusia di Ukraina, melainkan runtuhnya kepercayaan Jerman terhadap Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Jajak pendapat menunjukkan pergeseran sentimen publik yang mengejutkan:
- Keamanan: 84% warga Jerman yakin AS tidak akan lagi menjamin keamanan Eropa melalui NATO.
- Nuklir: 60% warga tidak lagi percaya pada payung nuklir AS dan lebih memilih pengembangan payung nuklir Eropa (Inggris-Prancis).
- Otonomi: Dukungan untuk pembentukan “Pasukan Eropa” melonjak menjadi 57%.
Ego Trump yang seringkali meremehkan sekutu Eropa melalui Strategi Keamanan Nasionalnya dianggap sebagai “jari tengah” bagi Eropa, yang akhirnya memaksa Berlin untuk berhenti “tidur berjalan” dan mulai mempersiapkan pertahanannya sendiri.
Langkah Berlin ini tentu saja mengusik Moskow. Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechayev, menuduh pemerintahan Merz sedang mempercepat persiapan untuk konfrontasi militer skala penuh dengan Rusia.
Namun bagi publik Jerman, ketakutan akan ekspansi perang Rusia ke wilayah NATO adalah kenyataan yang menghantui. Delapan dari sepuluh warga Jerman kini yakin Presiden Putin tidak serius mengejar perdamaian, dengan 2029 diprediksi sebagai titik waktu paling rawan bagi Rusia untuk menyerang wilayah NATO.
Meskipun kemauan politik dan anggaran sudah tersedia, Jerman masih menghadapi tantangan budaya dan birokrasi. Generasi tua Jerman yang tumbuh dengan trauma Nazi memiliki ketakutan mendalam terhadap militerisme atau perang dengan Rusia. “Bundeswehr selama ini tidak dipandang secara positif, sehingga jarang yang memilihnya sebagai karier,” ujar Minna Alander, pakar pertahanan dari Center for European Policy Analysis. Namun, tekanan geopolitik saat ini memaksa masyarakat Jerman untuk mengesampingkan trauma masa lalu demi kelangsungan masa depan benua.






