Crispy

Ketika Arne Slot Kini Jadi Musuh Dalam Selimut di Anfield

Setahun lalu, Arne Slot dipuja bak dewa baru setelah membawa Liverpool juara. Kini, setelah dibantai Manchester City 4-0 dan rekor kekalahan terburuk menghantui, apakah sang suksesor Jurgen Klopp tinggal menunggu waktu untuk angkat kaki?

WWW.JERNIH.CO –  Tepat setahun yang lalu, pendukung Liverpool masih terbuai dalam euforia kemenangan Derby Merseyside yang membawa mereka ke ambang gelar juara Premier League. Kekalahan dari Fulham beberapa hari setelahnya dianggap hanya kerikil kecil.

Benar saja, sebelum bulan berganti, Anfield bermandikan cahaya matahari dan sampanye: Liverpool juara setelah melumat Tottenham 5-1.

Pesta di lapangan dan tribun berlangsung gegap gempita. Di luar stadion, nama Arne Slot dielu-elukan dengan penuh gairah. Ia dianggap berhasil menuntaskan misi mustahil: menggantikan Jurgen Klopp dan langsung mempersembahkan trofi di musim pertamanya.

Namun, roda berputar begitu kejam. Tak ada yang percaya bahwa dalam waktu kurang dari 12 bulan, basis massa yang begitu bersatu kini berubah menjadi apatis. Mereka tidak lagi peduli apakah Slot bertahan atau didepak.

Sabtu kemarin, kekalahan memalukan 4-0 dari Manchester City di perempat final FA Cup menjadi puncak dari gunung es musim yang suram. Ini adalah kekalahan ke-15 Liverpool di semua kompetisi musim ini—rekor terburuk sejak era Brendan Rodgers pada 2014-15.

You’re getting sacked in the morning!” (Besok pagi kamu dipecat!) cemooh pendukung City saat tim mereka menyarangkan empat gol hanya dalam rentang waktu 20 menit. Ironisnya, sebagian pendukung Liverpool yang masih bertahan di tribun tandang mungkin mulai menyetujui ejekan tersebut.

BACA JUGA: Man City VS Liverpool; Malam Kelam The Reds

Meski Slot menyatakan dirinya harus bangkit di saat sulit, tekanan kini mencapai titik didih menjelang laga krusial perempat final Liga Champions melawan Paris St-Germain, Rabu besok. Jika melawan City saja mereka hancur lebur, bagaimana mereka akan menghadapi PSG yang baru saja melumat Chelsea?

Ada pola berulang yang meresahkan musim ini: ketidakmampuan Liverpool untuk bangkit setelah menerima pukulan. Dulu, Klopp memuja skuadnya sebagai “Mentality Monsters” (Monster Mental). Sekarang? Liverpool tampak rapuh. Begitu Erling Haaland mencetak gol penalti, seluruh bangunan taktik Slot runtuh seketika.

“Semangat juang itu tidak ada, mentalitas itu tidak ada,” keluh gelandang Dominik Szoboszlai.

Legenda Liverpool, Robbie Fowler, bahkan memberikan kritik pedas, “Anda butuh pemimpin untuk menyeret tim keluar dari masa sulit. Kita tidak melihat itu dari manajer.”

Kabar hengkangnya Mohamed Salah di akhir musim dan kembalinya Alexander Isak dari cedera sempat memberikan secercah harapan. Namun, optimisme itu musnah dalam 92 menit di Manchester. Peluang trofi berkurang setengahnya, dan bahkan gol hiburan pun gagal didapat setelah penalti Salah ditepis.

Slot memiliki segudang alasan—mulai dari badai cedera, pramusim yang kacau, skuad yang tidak seimbang, hingga tragedi memilukan meninggalnya Diogo Jota. Namun, sepak bola level tinggi tidak mengenal kata maklum.

Jika Rabu malam di Paris berakhir dengan bencana lagi, musim Liverpool praktis berakhir. Fokus mereka hanya akan tersisa pada perjuangan mati-matian untuk sekadar masuk empat besar.

Arne Slot sedang berpacu dengan waktu. Kenangan indah musim semi lalu kini terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Jika ia tak mampu membalikkan keadaan di Paris, “pesta” di Anfield mungkin akan berubah menjadi upacara perpisahan yang pahit.(*)

BACA JUGA: Mohamed Salah Tinggalkan Liverpool Akhir Musim

Back to top button