
Data menunjukkan bahwa deklarasi gencatan senjata pada 11 Oktober hanya bersifat nomenklatur (nama). Sejak tanggal tersebut, pendudukan Israel terus melancarkan serangan, menewaskan 266 warga Palestina tambahan dan melukai 635 lainnya.
JERNIH – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin dalam. Meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan secara resmi, serangan udara, penembakan artileri, dan blokade bantuan oleh Israel terus berlanjut. Kondisi ini memperburuk jumlah korban jiwa yang kini mendekati angka 70.000.
Dalam 72 jam terakhir saja, rumah sakit di Gaza telah menerima 17 jenazah martir dan tiga korban luka baru. Angka-angka ini menambah total korban jiwa di Gaza menjadi 69.483 martir dan 170.706 orang terluka sejak genosida Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.
Data menunjukkan bahwa deklarasi gencatan senjata pada 11 Oktober hanya bersifat nomenklatur (nama). Sejak tanggal tersebut, pendudukan Israel terus melancarkan serangan, menewaskan 266 warga Palestina tambahan dan melukai 635 lainnya.
Tim Penyelamat Sipil (Civil Defense) bahkan melaporkan bahwa 548 jenazah telah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan di berbagai area di Gaza sejak gencatan senjata berlaku, sebuah fakta yang menggarisbawahi skala kehancuran yang masif dan serangan yang tak pernah benar-benar berhenti. Israel juga dilaporkan secara sengaja menargetkan kru ambulans, menghalangi mereka mencapai korban luka.
Di tengah bencana ini, identifikasi korban menjadi tantangan tersendiri. Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan bahwa mereka telah menerima total 330 jenazah martir yang dilepas oleh Israel melalui Palang Merah. Namun, sejauh ini, hanya 97 jenazah yang berhasil diidentifikasi. Tim medis di Gaza terus bekerja keras melakukan pemeriksaan dan dokumentasi ketat sebelum jenazah dikembalikan kepada keluarga.
Sementara itu, Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, pada Minggu (16/11/2025) mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima daftar nama 1.468 tahanan dari Gaza yang ditahan di penjara-penjara Israel, setelah komunikasi yang berlangsung selama sebulan melalui mediator.
Dalam pernyataannya, Hamas menekankan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas nyawa seluruh tahanan, serta atas manipulasi atau ketidaksesuaian data yang diberikan. Hamas juga mendesak mediator untuk menekan Israel agar mengungkapkan nama dan keberadaan semua tahanan yang disembunyikan secara paksa.
Kondisi hidup di Gaza semakin mencekik dengan datangnya musim dingin. Pertahanan Sipil Gaza pada Sabtu (15/11/2025) memperingatkan bahwa hujan deras telah membanjiri puluhan tenda yang menampung keluarga pengungsi di wilayah pesisir al-Mawasi, dekat Khan Younis.
Tim darurat merespons laporan tenda yang ambruk dan terendam air di berbagai kamp pengungsian, termasuk di kamp pengungsi al-Shati, al-Zaytoun, serta di kawasan sentral seperti Deir al-Balah. Keluarga-keluarga berjuang keras menyelamatkan sisa harta benda mereka.
Mengingat infrastruktur yang luluh lantak akibat berbulan-bulan pengeboman, otoritas pertahanan sipil Gaza menyerukan intervensi internasional segera. Mereka secara khusus mendesak negara-negara yang terlibat dalam negosiasi gencatan senjata untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang menimpa hampir setengah juta keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat “perang pemusnahan” yang terus berlangsung.






