Kutukan Presiden: Mengapa Orang Nomor Satu Korea Selatan Selalu Bernasib Buruk?

- Choi Kyu-hah tak punya ambisi politik dan basis pendukung, tapi nasibnya sama saja. Ia digulingkan tapi tak melawan.
- Roh Moo-hyun terjatuh dari tebing dan tewas, tapi publik yakin dia bunuh diri untuk mengakhiri investigasi atas kejahatannya.
JERNIH — Pekan lalu, pengadilan Korea Selatan (Korsel) memvonis mantan presiden Yoon Suk Yeol bersalah mendeklarasikan darurat militer yang gagal dan mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup. Yoon segera menjalani hukuman itu, tapi banyak pengamat mempekirakan dia akan bebas setelah satu atau dua tahun.
Nasib Yoon seolah telah terpola, karena Korsel — menurut Profesor Universitas Kookmin Andrey Lankov — menghormati risiko jabatan kepala negara. Sejak 1960, mereka yang berkuasa di negara sekutu utama AS di Asia harus menghadapi nasib buruk; diusir, dibunuh saat menjabat, dituntut kerena korupsi, atau bergelimang masalah.
Berikut, presiden Korsel dari masa ke masa dan nasib buruknya.
Rhee Syng-man

Sejarah mencatat Rhee Syng-man adalah pemimpin Korsel pasca pendudukan Jepang yang disukai AS. Ia anti-komunis garis keras, menghabiskan sebagian besar hidupnya di AS dan orang Korea pertama yang meraih gelar PhD di luar negeri.
Ia memimpin Korsel selama masa Perang Korea. Saat jenderal-jenderal AS merundingkan akhir Perang Korea yang sia-sia di tahun 1953, Rhee Syng-man justru berupaya menggagalkan gencataan senjata. Bahkan, Rhee menolak menandatangani perjanjian gencatan senjata itu.
Usai perang, Rhee berkuasa sebagai diktator brutal. Ia mengeksekusi Cho Bong-am, lawan politik nomor wahid-nya, dengan tuduhan palsu, yaitu spionase. Tahun 1960, setelah pemilu ulang yang curang dan memicu protes massal, Rhee digulingkan. Saat itu usia Rhee 84 tahun.
Ia kehilangan dukungan dalam negeri dan bukan lagi anak emas Washington. Meski demikian ia masih bisa melewati masa senjanya dengan berleha-leha di Hawaii.
Yun Po-sun

Seperti Rhee, Yun adalah pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Korea dari pendudukan Jepang. Ia berasal dari sayap kanan. Ia memimpin Korsel lebih satu tahun pada masa Republik Kedua yang penuh malapetaka, sebelum dicopot dari kekuasaannya lewat kudeta militer 1961.
Tahun berikut Yun diizinkan mengundurkan diri. Ia menerima beberapa hukuman percobaan karena bekerja sama dengan oposisi politik, meski statusnya sebagai mantan presiden melindunginya dari hukuman penjara serius.
Park Chung-hee

Orang Korsel, terutama yang berusia 60-an, pasti bersikap mendua terhadap Park Chung-hee. Di satu sisi, Park membawa ketertiban di tengah kekacauan dan memicu pertumbuhan ekonomi luar biasa pesat. Namun, sebagian orang membencinya karena menindas aktivis demokrasi dengan tangan besi.
Nasib Park sedemikian tragis. Sebutir peluru, yang dilepas kepala keamanan nasional Kim Jae-gyu, menembus kepalanya. Motif pembunuhan Park masih belum jelas sampai saat ini. Namun, upaya pembunuhan itu adalah yang kedua. Yang pertama dilakukan pasukan komando Korea Utara.
Choi Kyu-hah

Kisah presiden Korsel yang satu ini pendek saja. Ia menjabat perdana menteri di bawah Park Chung-hee. Setelah Park terbunuh, Choi menduduki jabatan presiden melalui rantai suksesi konstitusional. Ketika militer melakukan kudeta tahun 1979, Choi — teknokrat tanpa ambisi politik dan basis kekuasaan — tidak memberi perlawanan dan lolos tanpa hukuman.
Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo

Keduanya adalah jenderal, dan keduanya punya kesamaan, yaitu mencintai uang. Jenderal Chun meneruskan tradisi diktatorial Park Chung-hee, dengan menindas pemberontakan Gwangju 1980. Namun Chun korup, sedangkan Park hemat.
Jenderal Roh adalah penerus pilihan Chun, tapi protes menekannya untuk melanjutkan pemilihan langsung. Chun menjadi pertapa di biara Buddha. Roh menang secara adil dan jujur karena lawan-lawan sayap kiri gagal menyepakati satu kadidat.
Kim Young-sam dan Kim Dae-jung

Keduanya tidak pernah dituntut, tapi bermasalah dengan anggota keluarga mereka. Kim Hyun-chul, putra Kim Young-sam, dipenjara karena menerima suap. Kim Hong-up dan Kim Hong-gul, putra Kim Dae-jung dinyatakan bersalah karena menerima suap. Penuntutan terhadap ketiganya terjadi saat ayah mereka masih menjabat. Kim Young-sam dan Kim Dae-jung mungkin jujur, tapi keduanya harus malu oleh ulah anak-anak mereka.
Roh Moo-hyun

Tahun 2009 terdengar kabar Roh Moo-hyun terjatuh dari tebing dan tewas. Publik Korsel melihatnya bukan kecelakaan biasa, tapi upaya bunuh diri yang berhasil.
Maklum, keluarga Roh Moo-hyun menjadi sasaran investigasi korupsi. Roh tertekan hebat, dan hanya punya satu solusi; bunuh diri. Konsensus di Korsel menyebutkan kejahatan apa pun yang mungkin telah dilakukan oleh Roh dan kerabatnya harus dikuburkan agar dia beristirahat dengan tenang.
Lee Myung-bak

Dituntut saat yang sama dengan penerus sayap kanan lainnya, Lee Myung-bak dinyatakan bersalah atas penyuapan, penggelapan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ia mendekam dua tahun di penjara.
Park Geun-hye

Park Geun-hye adalah putri Park Chung-hee. Ia tidak bernasib sama dengan sang ayah, tapi menjadi presiden Korsel pertama yang dimakzulkan dan menghabiskan lebih banyak waktu di balik jerusi besi, yaitu lima tahun, dibading presiden lainnya. Ia disebut-sebut terseret ke dunia politik karena garis keturunan. Ia tak punya kecerdasan politik, yang membuatnya menghadapi tudauhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Moon Jae-in

Setelah pensiun ia diselidiki atas kemungkinan melakukan kejahatan. Menariknya, Moon memiliki setiap kesempatan untuk lolos dari kutukan presiden Korsel.






