
Faktor utama yang membuat Iran tetap menjadi ancaman mematikan adalah posisi geografisnya. Iran menguasai Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang memasok kebutuhan minyak seperlima penduduk bumi.
JERNIH — Di tengah bayang-bayang perang besar yang menghantui Timur Tengah, sebuah pertanyaan krusial muncul ke permukaan: Bagaimana mungkin Iran, yang telah dilemahkan secara sistematis oleh sanksi dekade dan serangan Israel, masih mampu berdiri tegak menantang kekuatan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel?
Meskipun Israel mempertahankan supremasi udara penuh dan telah melumpuhkan jajaran kepemimpinan militer Teheran dalam perang 12 hari pada Juni 2025, para ahli militer memperingatkan Washington bahwa menginvasi Iran bukanlah sebuah “jalan santai”, melainkan potensi bencana yang jauh lebih besar daripada Perang Irak.
Faktor utama yang membuat Iran tetap menjadi ancaman mematikan adalah posisi geografisnya. Iran menguasai Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang memasok kebutuhan minyak seperlima penduduk bumi.
Jika konflik pecah, Teheran dapat dengan mudah menutup selat ini menggunakan ranjau kapal selam, rudal jelajah, dan kapal cepat. Penutupan ini tidak hanya akan melumpuhkan ekonomi global, tetapi juga menghentikan ekspor minyak negara-negara sekutu AS seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar. Inilah alasan utama mengapa mitra regional AS cenderung menentang intervensi militer langsung ke Iran.
Meski Angkatan Udara Iran dianggap lemah, Teheran mengompensasi celah tersebut dengan arsenal rudal dan drone terbesar di Timur Tengah.
- Rudal Balistik & Hipersonik: Iran memiliki ribuan rudal dari seri Shahab-3, Kheibar Shekan, hingga rudal hipersonik Fattah 1 dan 2 yang mampu bermanuver tajam dan menembus sistem pertahanan udara tercanggih.
- Produksi Massal: Pasca-perang Juni 2025, Iran justru meningkatkan produksi rudalnya menjadi ratusan unit per bulan dengan dukungan bahan baku dari Tiongkok. Mereka juga bermigrasi ke bahan bakar padat yang memangkas waktu persiapan peluncuran dari hitungan jam menjadi hitungan menit.
- Drone Shahed & Mohajer: Ribuan pesawat nirawak jarak jauh yang telah teruji dalam konflik Ukraina siap menghujani pangkalan militer AS di kawasan.
Scott Ritter, mantan Inspektur Senjata PBB, memperingatkan: “Iran memiliki kemampuan untuk mematikan produksi energi kawasan kapan pun mereka mau dan menyebabkan kerusakan dahsyat pada pangkalan militer AS yang bisa menelan korban ribuan tentara Amerika.”
Strategi Perang Asimetris di Laut
Di sektor maritim, Iran tidak mencoba menandingi kapal induk AS secara langsung. Sebaliknya, mereka menggunakan strategi perang asimetris. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGCN) mengandalkan 27 kapal selam, termasuk kelas Tareq (Kilo) dan kapal selam mini kelas Ghadir yang sangat lincah di perairan dangkal.
Di perairan sempit seperti Hormuz, kapal-kapal cepat Iran yang dilengkapi rudal jelajah dapat mengepung dan melumpuhkan kapal perang besar yang bergerak lambat. Pengalaman kegagalan AS dalam membungkam Houthi di Yaman—yang menghabiskan 1 miliar dolar AS dalam tiga bulan—menjadi pengingat pahit bahwa teknologi super canggih tidak selalu bisa menaklukkan taktik asimetris yang gigih.
William Hartung dari Quincy Institute mengingatkan bahwa invasi ke Iran bisa menjadi pengulangan kesalahan Perang Irak. “Kita berbicara tentang potensi kerugian triliunan dolar dan ratusan ribu korban jiwa. Akhir dari konflik ini sangat tidak pasti, dan saya rasa dunia tidak ingin pergi ke sana,” ujarnya.
Meskipun ekonomi Iran sedang “bernafas dengan alat bantu” akibat inflasi tinggi dan keruntuhan mata uang, serta rezim yang menghadapi tantangan internal, faktor militer dan geografis di atas tetap menjadikan Teheran sebagai target yang terlalu mahal untuk diserang.
Aliansi AS-Israel mungkin memiliki keunggulan teknologi, namun Iran memiliki kemampuan untuk mengubah Timur Tengah menjadi “medan pertempuran abadi” yang akan menyeret ekonomi dunia ke dalam jurang krisis. Inilah yang membuat Teheran tetap menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan di kancah global.






