CrispyDesportare

Michael Carrick Sang Penstabil yang Kembali ke Kandang MU

Di tengah kekacauan dan kelelahan mental skuad Manchester United, klub memilih pulang ke akar. Michael Carrick dipilih  sebagai penenang. Sosok yang memahami kandang MU.

WWW.JERNIH.CO –  Pemecatan Ruben Amorim pada Januari 2026 menandai babak baru lain dalam era pasca–Sir Alex Ferguson yang tak pernah benar-benar stabil.

Manchester United tak lagi punya kemewahan waktu untuk bereksperimen. Yang dibutuhkan adalah figur yang mampu meredam gejolak ruang ganti, mengembalikan rasa percaya diri pemain, dan menutup musim dengan kepala tegak.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada Michael Carrick, legenda klub yang kini dipercaya sebagai pelatih interim hingga akhir musim 2025/2026.

Keputusan menunjuk Carrick bukan tanpa pertimbangan. Manajemen melihatnya sebagai representasi DNA Manchester United—seseorang yang memahami budaya klub, tekanan Old Trafford, dan ekspektasi fans.

Carrick juga memiliki hubungan personal yang kuat dengan sejumlah pemain senior serta staf di Carrington, sesuatu yang krusial di tengah situasi psikologis tim yang rapuh. Pengalamannya sebagai caretaker pada 2021, saat menggantikan Ole Gunnar Solskjaer, turut menjadi referensi penting. Dalam tiga laga singkat itu, United tak terkalahkan, termasuk kemenangan penting atas Villarreal dan hasil imbang di Stamford Bridge.

Yang paling menonjol: ketenangan. Sesuatu yang kontras dengan pendekatan Ruben Amorim yang dinilai terlalu kaku secara taktik.

Nama Michael Carrick sendiri tak bisa dilepaskan dari salah satu periode paling sukses dalam sejarah modern klub. Didatangkan dari Tottenham Hotspur pada 2006, ia mewarisi nomor punggung 16 milik Roy Keane dan menjadikannya simbol konsistensi.

Selama 12 tahun di Old Trafford, Carrick adalah poros permainan—tak selalu mencolok, tapi vital. Lima gelar Premier League, satu Liga Champions, satu Liga Europa, Piala FA, tiga Piala Liga, hingga FIFA Club World Cup menjadi bukti kontribusinya. Ia pensiun pada 2018 sebagai kapten klub, menutup karier dengan status legenda yang dihormati rekan dan lawan.

Setelah gantung sepatu, Carrick membangun reputasinya sebagai pelatih secara bertahap. Puncaknya terjadi bersama Middlesbrough di Championship. Pada musim pertamanya, ia membawa klub yang sempat terpuruk ke papan bawah hingga menembus zona play-off promosi.

Ia juga mencatatkan prestasi dengan membawa Boro ke semifinal Carabao Cup 2024. Dari sisi taktik, Carrick dikenal menyukai formasi 4-2-3-1 yang fleksibel. Pendekatannya berbasis penguasaan bola, namun tetap menuntut struktur bertahan yang kompak.

Berbeda dengan Amorim yang kukuh pada sistem tiga bek, Carrick lebih adaptif dan menekankan ketenangan dalam pengambilan keputusan, terutama di area sempit.

Pertanyaan pun muncul: apakah tidak ada pelatih yang “lebih besar” atau “lebih berpengalaman” di luar sana?

Nama-nama seperti Xavi Hernandez atau Thomas Tuchel tentu terdengar lebih glamor. Namun Manchester United tampaknya telah belajar dari masa lalu. Rekrutmen pelatih dengan reputasi besar tak selalu sejalan dengan kebutuhan klub. Dalam konteks ini, Carrick dipilih bukan karena ia yang terbaik di dunia, melainkan karena ia yang paling tepat untuk saat ini—seorang penstabil sebelum klub menentukan arah jangka panjang di musim panas.

Kebutuhan akan sosok seperti Carrick tak lepas dari jejak kegagalan panjang para pendahulunya pasca–Sir Alex Ferguson. David Moyes gagal total meneruskan warisan, Louis van Gaal kehilangan simpati publik dengan sepak bola yang dianggap membosankan, sementara Jose Mourinho meninggalkan trofi sekaligus ruang ganti yang terbelah.

Ole Gunnar Solskjaer sukses membangun atmosfer positif, namun rapuh secara taktik. Ralf Rangnick gagal menerjemahkan ide gegenpressing ke dalam praktik, Erik ten Hag terjebak inkonsistensi meski sempat meraih dua trofi domestik, dan Ruben Amorim akhirnya tumbang oleh kekakuan sistem yang tak cocok dengan skuad.

Welcome home, Carrick! (*)

BACA JUGA: Manchester United Pecat Ruben Amorim

Back to top button