Misteri ‘Jalan Tol’ Semeru, Mengapa Erupsi Selalu Mengarah ke Lumajang?

Di puncak Semeru atau biasa dijuluki Mahameru, tak jauh darinya di sebelah selatan menguak kawah raksasa bernama Jonggring Salaka. Dari sini letusan itu bermula dan membuang material ke arah selatan.
JERNIH – Gunung Semeru kembali erupsi. Sebagai atap tertinggi Pulau Jawa (3.676 mdpl), Mahameru memang memiliki pesona yang memikat, namun juga menyimpan potensi bahaya yang nyata.
Satu pertanyaan yang sering muncul di benak masyarakat awam adalah: Mengapa setiap kali Semeru “mengamuk”, wilayah Kabupaten Lumajang selalu menjadi yang terdampak paling parah, sementara sisi Malang relatif lebih aman dari aliran material langsung?
Secara administratif, Semeru memang berdiri di perbatasan Malang dan Lumajang. Namun, ahli vulkanologi menegaskan bahwa “wajah” Semeru menghadap ke Lumajang.
Pusat aktivitas Semeru berada di Kawah Jonggring Saloko. Bentuk bibir kawah ini tidaklah bulat sempurna. Berdasarkan pemetaan geologi, bibir kawah Jonggring Saloko mengalami bukaan atau “robekan” yang mengarah ke sisi Tenggara.
Ibarat sebuah mangkuk yang retak dan pecah di salah satu sisinya, air atau isi di dalamnya pasti akan tumpah ke arah pecahan tersebut. Begitu pula dengan Semeru.

Karena hukum gravitasi, seluruh material vulkanik—mulai dari lava pijar, guguran batu, hingga Awan Panas Guguran (APG)—secara otomatis akan meluncur turun mengikuti bukaan kawah tersebut. Dan, sisi tenggara ini adalah wilayah yang masuk dalam Kabupaten Lumajang, tepatnya mengarah ke Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro.
Material yang tumpah dari kawah tersebut tidak menyebar sembarangan, melainkan mengikuti jalur-jalur sungai purba yang berhulu langsung di puncak. Warga setempat mengenalnya dengan istilah “Besuk”.
Ada beberapa sungai yang menjadi jalur utama aliran lahar, antara lain Besuk Kobokan, Besuk Kembar, Besuk Bang, dan Besuk Sat. Sungai-sungai inilah yang membelah desa-desa di lereng selatan Semeru. Ketika kubah lava di puncak runtuh, material panas akan meluncur di sungai-sungai ini dengan kecepatan tinggi, menjadikan wilayah di bantarannya sebagai zona merah rawan bencana.
Karakteristik letusan Semeru belakangan ini didominasi oleh pembentukan kubah lava. Magma menumpuk di kawah membentuk sumbatan. Ketika sumbatan ini tidak stabil—entah karena desakan dari dalam atau karena curah hujan tinggi yang menggerus permukaannya—kubah itu akan longsor.
Runtuhan inilah yang menciptakan Awan Panas Guguran (APG). Material vulkanik bersuhu tinggi meluncur cepat menuruni lereng, menyapu apa saja yang ada di jalur Besuk Kobokan dan sekitarnya. Inilah mengapa dalam beberapa kejadian terakhir, letusan besar kerap terjadi di musim penghujan atau akhir tahun.
Sejarah Panjang Amarah Mahameru
Semeru bukanlah gunung yang “tidur”. Sejarah mencatat aktivitasnya yang konsisten selama berabad-abad. Rekaman letusan besar tercatat sejak tahun 1818, yang menjadi salah satu dokumentasi awal aktivitas vulkanik modern gunung ini.
Memasuki abad ke-20, tepatnya pada 1941 hingga 1942, Semeru pernah mengalami erupsi berdurasi panjang di mana lelehan lavanya sampai mengalir jauh hingga ke lereng timur di kawasan Semampir. Aktivitas ini terus berlanjut dengan intensitas yang naik turun pada tahun 1961, 1963, dan 1967, yang konsisten menghasilkan awan panas. Sepanjang era 1990-an, aktivitasnya lebih banyak didominasi pembentukan kubah lava dan guguran kecil.
Namun, kewaspadaan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Pola letusan besar mulai terbentuk di akhir tahun. Pada Desember 2020, aktivitas vulkanik meningkat signifikan dengan jarak luncur awan panas yang memanjang.
Puncaknya terjadi pada 4 Desember 2021. Sebuah erupsi dahsyat meluncurkan Awan Panas Guguran sejauh 11 kilometer ke arah Besuk Kobokan. Peristiwa memilukan ini menghancurkan Jembatan Gladak Perak yang ikonik dan menimbun permukiman warga, menimbulkan korban jiwa.
Setahun berselang, tepatnya 4 Desember 2022, Semeru seolah mengulang siklusnya. Gunung ini kembali memuntahkan APG dengan jangkauan yang lebih jauh, mencapai 19 kilometer, yang sempat memaksa pihak berwenang menaikkan statusnya menjadi Awas (Level IV).
Memahami karakteristik dan sejarah ini menjadi pengingat bagi warga dan pemerintah bahwa jalur aliran ke Lumajang adalah “takdir geologis” Semeru yang harus disikapi dengan mitigasi bencana yang matang.(*)
BACA JUGA: Kamis Pagi, Gunung Semeru di Jawa Timur Alami Erupsi






