Netflix Tayangkan Karya Agatha Christie Berjudul Seven Deals

Seven Dials menghadirkan misteri khas Agatha Christie dengan sentuhan muda, penuh gaya, dan sarat intrik rahasia. Saat tujuh jam alarm menjadi petunjuk kematian, satu pertanyaan pun menggaung: siapa yang sebenarnya mengendalikan waktu?
WWW.JERNIH.CO – Netflix kembali menggali khazanah karya Agatha Christie lewat Seven Dials, sebuah adaptasi dari novel klasik The Seven Dials Mystery (1929) yang kali ini tampil berbeda dari pakem adaptasi Christie sebelumnya.
Alih-alih berfokus pada sosok detektif legendaris seperti Poirot atau Miss Marple, serial ini menempatkan karakter muda sebagai pusat cerita, dengan latar Inggris tahun 1925 yang glamor, penuh pesta topeng, kemewahan aristokrat, dan bahaya tersembunyi di balik senyum kaum elit.
Hasilnya adalah kisah misteri yang terasa lebih enerjik, modern, namun tetap menghormati akar whodunit klasik.
Visual memukau dalam serial ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari produksi ambisius yang memakan waktu hampir dua tahun sejak pengembangannya di musim panas 2024. Dengan estimasi biaya premium mencapai jutaan Poundsterling per episode, Netflix menyulap kawasan bersejarah Abbey Green di Bath dan kemegahan Badminton House menjadi latar ikonik The Chimneys yang glamor.
Tak hanya keindahan pedesaan Inggris, penonton juga akan dimanjakan dengan kontras visual dari adegan kilas balik yang diambil di Ronda, Spanyol, menciptakan standar estetika tinggi lewat deretan mobil antik dan kostum flapper era 1920-an yang sangat mendetail.

Cerita bermula di rumah pedesaan megah bernama The Chimneys, milik Lady Eileen “Bundle” Brent dan ibunya, Lady Caterham, yang harus menyewakan rumah tersebut kepada miliarder Sir Oswald Coote akibat kesulitan finansial.
Dalam sebuah pesta topeng yang meriah, sekelompok tamu muda mengerjai teman mereka, Gerry Wade, dengan menyembunyikan delapan jam alarm di kamarnya. Namun lelucon berubah menjadi tragedi ketika Gerry ditemukan tewas keesokan paginya, dengan tujuh jam alarm berjajar di atas meja dan satu jam lainnya menghilang.
Kejanggalan inilah yang mendorong Bundle untuk menyelidiki sendiri, hingga ia terseret ke dalam konspirasi besar yang melibatkan organisasi rahasia Seven Dials, spionase internasional, serta perebutan formula ilmiah berbahaya milik Dr. Cyril Matip.
Dari sisi karakter, Lady Eileen “Bundle” Brent (Mia McKenna-Bruce) menjadi jantung cerita. Ia digambarkan sebagai perempuan muda yang cerdas, berani, dan menolak tunduk pada norma sosial zamannya—representasi semangat flapper era 1920-an.

McKenna-Bruce tampil memikat dengan energi segar yang membuat karakter Bundle terasa relevan bagi penonton modern. Lady Caterham (Helena Bonham Carter) hadir sebagai sosok ibu yang eksentrik dan penuh misteri, memberikan sentuhan komedi gelap sekaligus menyimpan rahasia penting bagi alur cerita.
Sementara itu, Superintendent Battle (Martin Freeman) menjadi penyeimbang yang rasional dan tenang, dengan dinamika menarik saat beradu argumen dengan Bundle. Karakter Jimmy Thesiger (Edward Bluemel) juga mencuri perhatian lewat pesonanya yang ambigu, membuat penonton terus bertanya-tanya soal motif aslinya hingga akhir.
Secara produksi, Seven Dials tampil sebagai drama periode dengan kualitas tinggi. Lokasi syuting di Bath dan Badminton House di South Gloucestershire berhasil menghidupkan atmosfer Inggris klasik, diperkuat oleh kostum flapper, mobil antik, dan desain interior yang detail.
Serial ini menggabungkan genre mystery, period drama, dan crime thriller dalam format tiga episode berdurasi sekitar 55 menit, menjadikannya tontonan ringkas namun padat. Meski Netflix tidak merilis angka resmi biaya produksi, skala visual dan desainnya jelas menunjukkan proyek premium.
Pendekatan cerita Seven Dials terasa lebih ringan dan petualangan dibanding adaptasi Christie yang biasanya kaku dan penuh deduksi formal. Penulis Chris Chibnall menekankan sisi energi masa muda dan dinamika sosial, bukan sekadar investigasi statis.
“Menyatakan bahwa mereka ingin menonjolkan sisi petualangan dan energi masa muda dari novel aslinya, bukan sekadar detektif yang duduk di ruangan,’ ujarnya.
Pendekatan ini menuai respons positif: kritikus memuji serial ini sebagai hiburan eskapis yang stylish, sementara penonton memberikan apresiasi pada performa akting, khususnya Mia McKenna-Bruce, meski sebagian merasa bagian akhir cerita agak terburu-buru.

Sebagai keseluruhan, Seven Dials adalah adaptasi Agatha Christie yang berani mengambil jalur berbeda. Ia mungkin tidak sekompleks misteri klasik dalam hal teka-teki, tetapi unggul dalam atmosfer, karakter, dan ritme yang cepat.
Serial ini sangat cocok bagi penonton yang menyukai whodunit bergaya modern, drama periode yang cantik secara visual, serta kisah misteri yang bisa ditamatkan dalam satu akhir pekan.(*)
BACA JUGA: The RIP, Aksi Dynamic Duo; Damon dan Affleck






