RUMAH YANG TAK PERNAH NETRAL

Malam itu hujan turun pelan di Bintaro. Lampu ruang tamu menyala setengah hati, seperti ragu mau terang atau tetap remang. Di tangan saya buku puisi “72 rumah dan hal ihwal di sekitarnya”, dan entah kenapa rasanya seperti sedang duduk di beranda seseorang yang sudah terlalu lama hidup, terlalu banyak mengingat, tapi tetap ingin percaya bahwa segala sesuatu masih bisa ditata rapi. Di halaman awal, saya bertemu kalimat yang seperti mengetuk pelan tapi mantap: “rumah adalah bangunan khayalan tiap pasangan / impian yang harus diwujudkan oleh masa depan” (rumah, 3).
Begitu saja. Tidak ada basa-basi. Rumah langsung diposisikan sebagai proyek bersama, impian yang wajib diwujudkan, bahkan seperti tugas sejarah kecil-kecilan bagi setiap pasangan. Noorca M. Massardi tidak sedang bermain simbol secara samar. Ia terang-terangan. Rumah adalah rumah. Kamar adalah kamar. Ranjang adalah ranjang. Tapi justru di situ letak pertaruhannya. Ketika banyak penyair bersembunyi di balik metafora yang kabur, Noorca memilih benda-benda domestik sebagai pusat semesta. Ia seperti berkata, jangan jauh-jauh dulu. Coba tengok meja makanmu sendiri.
Struktur buku ini terasa rapi, hampir seperti denah arsitektur. Dari pondasi dan ruang dalam, bergerak ke dapur, lalu ke ambang dan batas, kemudian perabot, perjalanan, hingga semesta dan tanah kembali. Seolah-olah kita diajak tur keliling rumah, tapi tur yang lambat, kontemplatif, kadang terlalu yakin pada kesimpulannya sendiri.
Di puisi “rumah”, Noorca menyebut bahwa “rumah mungkin hanya bangunan yang termakan usia / tapi di situlah awal dunia dirancang ditentukan / dan di situlah awal surga neraka diciptakan dirasakan” (rumah, 3). Pernyataan ini besar. Terlalu besar, mungkin. Rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan pabrik surga dan neraka. Di satu sisi, ini menggetarkan. Di sisi lain, kita bisa bertanya: apakah semua rumah memang sedemikian sakral? Bagaimana dengan rumah yang jadi lokasi kekerasan? Rumah yang tak pernah benar-benar aman? Noorca memang menyentuh luka, tapi sering kali ia tetap kembali pada keyakinan normatif bahwa rumah adalah pusat moral.
Di “kamar tidur”, ketegangan itu mulai tampak lebih jujur. “tapi di sini juga kita temukan awal dari kebencian dari kepahitan / juga dendam pengkhianatan dan penderitaan yang tak terbayang” (kamar tidur, 5). Kamar tidur bukan cuma ruang intim yang lembut. Ia juga ladang konflik. Di sinilah Noorca paling menarik. Ia tidak sepenuhnya romantik. Ia tahu bahwa ranjang bisa jadi “tahta dan mahligai rumahtangga” (ranjang, 7), tapi juga tempat keringat dan air mata bercampur tanpa filter.
Saya merasa buku ini bergerak di antara dua kutub: perayaan dan peringatan. Hampir setiap benda diberi dimensi moral. Bantal tidak hanya lembut, ia bisa jadi “kayu atau beton atau baja” (bantal, 9). Selimut bukan cuma penghangat, tapi bisa menyimpan “semut dan juga lumut / yang membuat hidup bisa menjadi kemelut” (selimut, 11). Di sini Noorca seperti orang tua yang bercerita dengan nada lembut tapi menyisipkan nasihat di setiap tikungan kalimat.
Pertanyaannya, apakah itu kelemahan? Atau justru sikap estetik yang sadar?
Secara observatif, saya melihat pola repetisi yang kuat. Banyak puisi dibangun dengan anafora, pengulangan frasa, struktur paralel. “tak ada lagi…” dalam “beras” (12, 27) menjadi mantra kehilangan. “bila…” dalam “nasi” (11, 25) membentuk rantai sebab akibat yang nyaris seperti logika domino. Secara musikal, ini efektif. Tapi dalam pembacaan yang lebih kritis, repetisi itu kadang terasa terlalu menjelaskan. Puisi seperti tidak memberi cukup ruang bagi ambiguitas. Ia ingin dipahami dengan jelas, bahkan mungkin ingin disepakati.
Lihat “beras”: “tak ada lagi keadilan / tak ada lagi kesejahteraan / tak ada lagi kearifan / ketika petani hilang lahan” (beras, 27). Pesannya gamblang. Kritik sosialnya terang. Tidak ada ironi yang berlapis, tidak ada simbol yang bersembunyi. Ia menunjuk langsung: petani hilang lahan, keadilan pun hilang. Di zaman ketika banyak puisi memilih bahasa yang super subtil, Noorca seperti sengaja berdiri di tengah lapangan dan berbicara lantang.
Namun justru di bagian “api dan perjamuan” hingga “semesta dan tanah kembali”, buku ini mulai berani meluas. “minyak” bertanya dengan nada retoris yang menggigit: “untuk apa dari mana mau ke mana dan sampai kapan?” (minyak, 135). Ini bukan lagi soal rumah sebagai unit keluarga, tapi rumah sebagai simpul dalam jaringan kapitalisme dan eksploitasi. Minyak, plastik, sampah. Tiba-tiba dapur terhubung ke tambang, kulkas terhubung ke krisis iklim.
Puisi “plastik” terasa seperti teguran sunyi: “yang akan mengancam kehidupan / bahkan sebagai pembalut mayat / dan kita lalu terlambat” (plastik, 137). Kalimat terakhir itu seperti tamparan. Kita terlambat. Tidak ada metafora yang manis. Hanya kesadaran pahit.
Di sisi lain, buku ini juga sangat personal. Noorca M. Massardi berkali-kali menyebut ruang-ruang geografis yang nyata: Jogja, Bandung, Pangkalpinang, Bintaro. Dalam “jogja”, ia menulis, “di jogja ada kenangan. ada hidup ada pijakan. dulu” (jogja, 107). Ritmenya liris, hampir seperti orang sedang nostalgia sambil menyeruput kopi. Ada kesadaran usia yang terus mengintai. Di “usia”, ia bertanya, “apakah usia bertambah atau berkurang” (usia, 97). Pertanyaan klasik, memang. Tapi diletakkan dalam konteks angka 72, ia menjadi lebih intim. Ini bukan lagi refleksi abstrak. Ini pengakuan.
Yang menarik, cinta dalam buku ini bukan cinta yang meledak-ledak. Ia lebih seperti api kompor yang stabil. Dalam “pernikahan”, Noorca menulis, “maka setelah hampir setengah abad kehidupan / tak ada lagi yang perlu dicari” (pernikahan, 127). Pernyataan ini bisa terasa indah, tapi juga mengundang tanya. Benarkah tak ada lagi yang perlu dicari? Apakah cinta yang matang berarti selesai dari pencarian? Atau justru ini bentuk ketenangan yang telah melewati banyak badai? Saya membacanya dengan sedikit curiga sekaligus hormat. Ada keberanian untuk mengatakan cukup.
Sekarang soal ilustrasi. Rayni N. Massardi tidak sekadar menempelkan gambar sebagai hiasan. Sketsa-sketsanya, yang cenderung minimalis dan garisnya ringan, justru menciptakan jarak dari teks yang sering padat makna. Ketika puisi berbicara tentang beban moral dan sejarah, ilustrasi hadir seperti napas panjang. Ia tidak dramatis. Ia seperti coretan yang intim, hampir seperti catatan harian visual.
Di beberapa bagian, saya merasa ilustrasi mengonfirmasi suasana. Rumah digambar sederhana, seolah menegaskan kesahajaan. Tapi di bagian-bagian seperti “plastik” atau “minyak”, justru kesederhanaan gambar itu menciptakan ironi. Teks berbicara tentang kehancuran ekologis, sementara gambar tetap tenang. Seperti dunia yang terbakar tapi digambar dengan pensil tipis. Ketegangan ini menarik. Ia membuka tafsir baru: mungkin justru karena kita terlalu terbiasa melihat kehancuran secara sederhana, kita jadi tak merasa gentar.
Namun ada juga risiko. Karena gaya ilustrasi relatif konsisten dan lembut, ia kadang tidak cukup mengguncang ketika teks sedang mencoba menggugat. Saya sempat berharap ada visual yang lebih liar, lebih berani merusak harmoni. Tapi mungkin memang itu pilihan estetiknya. Buku ini ingin tetap jadi rumah yang utuh, bukan bangunan yang sengaja diretas dari dalam.
Secara keseluruhan, 72 rumah dan hal ihwal di sekitarnya adalah proyek besar yang sangat sadar diri. Noorca M. Massardi menulis bukan untuk pamer teknik, melainkan untuk merawat nilai. Ia seperti kepala keluarga yang berdiri di ruang makan dan berkata, dengarkan sebentar. Ada yang harus kita pikirkan.
Apakah semua puisinya berhasil? Tidak selalu. Beberapa terasa repetitif. Beberapa terlalu deklaratif, hampir seperti slogan. Tapi di tengah kecenderungan puisi yang kadang terlalu sibuk bermain kode, kejujuran Noorca terasa menyegarkan. Ia tidak malu menjadi gamblang. Ia tidak takut terdengar tua. Justru dari situ lahir daya tawarnya.
Yang paling mengganggu sekaligus menggerakkan adalah kesadaran bahwa rumah dalam buku ini tidak pernah netral. Ia selalu sarat nilai, sarat sejarah, sarat tanggung jawab. Dari “keset” yang “melata dan menggelepar di setiap lantai” (keset, 71) sampai “tangan” di bagian akhir yang menjadi simbol sentuhan dan warisan, semua benda dipaksa bicara. Seolah-olah tak ada yang boleh diam.
Dan mungkin di situlah resonansi terkuat buku ini. Ia membuat kita bertanya, di rumah kita sendiri, apa yang sedang kita biarkan membeku di dalam kulkas ingatan? Apa yang kita sembunyikan di laci? Apa yang kita bakar diam-diam di tungku ambisi?
Ketika saya menutup buku ini, hujan sudah berhenti. Rumah kembali sunyi. Tapi sunyi itu tidak lagi kosong. Ada gema pertanyaan yang tertinggal. Tentang usia. Tentang cinta yang panjang. Tentang minyak yang terus ditambang. Tentang plastik yang tak hancur-hancur. Tentang rumah yang kita bangun dengan darah dan keringat, lalu kita wariskan dengan doa dan mungkin juga dosa.
Noorca M. Massardi tidak menawarkan revolusi bahasa. Ia menawarkan revolusi perhatian. Lihat lagi rumahmu. Lihat lagi benda-benda yang kau anggap biasa. Di sana, katanya, surga dan neraka mulai dirancang. Dan kalau itu benar, maka tak ada lagi alasan untuk menganggap rumah sebagai tempat netral. Ia selalu politis. Ia selalu personal. Ia selalu, diam-diam, menentukan siapa kita.
IRZI 2026






