Crispy

Saiful Hidayat Eks Telkom Kini Nakhoda BPJS Ketenagakerjaan

Saiful Hidayat seorang teknokrat kawakan dengan rekam jejak bagus di industri digital, kini memegang kemudi BPJS Ketenagakerjaan hingga 2031.

WWW.JERNIH.CO – Saiful Hidayat resmi mengemban amanah baru sebagai Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) untuk masa jabatan 2026–2031. Pelantikannya dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, pada Jumat, 20 Februari 2026, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2026.

Saiful menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Pramudya Iriawan Buntoro. Kehadirannya di pucuk pimpinan lembaga jaminan sosial ini membawa harapan baru, terutama dengan latar belakang profesionalnya yang panjang di sektor teknologi dan manajemen strategis.

Sebelum dipercaya memimpin BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat memiliki rekam jejak yang sangat kuat di lingkungan PT Telkom Indonesia (Tbk). Ia dikenal sebagai pejabat karier di Telkom Group dengan pengalaman lebih dari dua dekade. Jabatan terakhirnya sebelum pelantikan ini adalah sebagai Senior Principal Expert.

Selama berkarier di perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut, ia telah menduduki berbagai posisi kunci, seperti Executive Vice President Digital Business & Technology, Executive Vice President Telkom Regional 3, hingga Vice President Business Performance Management. Pengalaman ini menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola organisasi besar dan melakukan transformasi bisnis di tingkat nasional.

Prestasi Saiful tidak terlepas dari keterlibatannya dalam berbagai proyek strategis transformasi grup Telkom. Ia fokus pada tiga pilar utama: digitalisasi bisnis, efisiensi organisasi, dan penguatan pengalaman pelanggan (customer experience).

Kemampuan dalam mengelola data dan proses bisnis secara digital menjadi aset penting bagi BPJS Ketenagakerjaan yang saat ini tengah melakukan modernisasi layanan. Dari sisi latar belakang pendidikan, meskipun informasi spesifik mengenai institusi tempatnya menempuh gelar sarjana sering kali bersifat internal, profil profesionalnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang praktisi manajemen dengan pemahaman mendalam pada sistem operasional perusahaan skala besar dan integrasi teknologi.

Dalam mengawali kepemimpinannya, Saiful Hidayat langsung memperkenalkan strategi utama yang disebutnya sebagai “3C”, yaitu Coverage, Care, dan Credibility. Strategi ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan besar yang dihadapi BPJS Ketenagakerjaan saat ini.

Pertama, Coverage (cakupan), ia berkomitmen untuk meningkatkan jumlah kepesertaan, khususnya di sektor pekerja informal, pekerja bukan penerima upah (BPU), dan pekerja migran Indonesia yang saat ini masih memiliki celah perlindungan cukup besar. Target ambisius lembaga ini adalah mencapai 70 juta peserta aktif pada tahun 2026, yang memerlukan kerja keras mengingat banyaknya tantangan seperti fenomena PHK massal yang dapat menggerus angka kepesertaan.

Kedua, Care (kepedulian), yang fokus pada peningkatan kualitas layanan sehingga manfaat jaminan sosial benar-benar dirasakan oleh keluarga pekerja.

Ketiga, Credibility (kredibilitas), yang menitikberatkan pada akurasi data, kepatuhan (compliance), serta kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan. Selain tantangan kepesertaan, Saiful juga dihadapkan pada tugas berat untuk mengelola dana kelolaan yang ditargetkan mencapai Rp1.000 triliun pada tahun 2026.

Ia harus memastikan tata kelola investasi dilakukan secara transparan, akuntabel, dan disiplin dalam mengendalikan biaya operasional sesuai arahan pemerintah untuk menghindari pemborosan anggaran yang mencapai Rp5 triliun per tahun.

Secara keseluruhan, transisi kepemimpinan dari Pramudya Iriawan Buntoro ke Saiful Hidayat menandai era baru bagi BPJS Ketenagakerjaan yang lebih menekankan pada efisiensi digital dan perluasan jangkauan sosial. Tantangan ekonomi global dan dinamika pasar kerja di Indonesia menuntut Saiful untuk mampu menjaga keberlanjutan finansial lembaga sembari memberikan perlindungan maksimal bagi seluruh pekerja Indonesia.

Dengan pengalaman puluhan tahun di industri digital dan manajemen, publik menanti bagaimana strategi “3C” miliknya mampu memperkuat daya tahan sosial masyarakat agar terhindar dari jurang kemiskinan akibat risiko kerja.(*)

BACA JUGA: Prihati Pujowaskito, Mayjen Purnawirawan Dirut BPJS Kesehatan Baru

Back to top button