Penjualan Tas Hermes Terkena Hantaman Perang Iran

Penjualan Hermes pada kuartal pertama meleset dari perkiraan karena perang Iran membatasi pengeluaran Timur Tengah dan pariwisata ke Eropa, dengan penjualan mal mewah di Teluk pada bulan Maret anjlok sekitar 40%.
JERNIH – Grup produsen barang mewah Prancis, Hermes, melaporkan penjualan kuartal pertama yang melemah dari perkiraan terimbas perang Iran dan memukul pengeluaran di Timur Tengah serta di Eropa. Saat ini lebih sedikit wisatawan yang mengunjungi Paris atau London dan membeli barang-barang desainer.
Harapan investor terhadap pulihnya permintaan barang mewah tahun ini telah pupus akibat konflik yang telah merusak penjualan pusat perbelanjaan di Dubai dan menyebabkan harga energi melonjak, sehingga mengikis kepercayaan konsumen.
Hermes, yang dengan cermat mengontrol produksi dan penjualan untuk mempertahankan eksklusivitas, telah menjadi perusahaan yang paling tangguh di tengah perlambatan industri secara keseluruhan. Namun perusahaan ini tetap tidak kebal terhadap dampak konflik tersebut. LVMH dan Kering pada awal pekan ini sama-sama melaporkan bahwa penjualan mereka terpukul oleh perang.
Secara keseluruhan, penjualan produk termasuk tas Birkin dan Kelly, syal sutra, dan parfum meningkat sebesar 5,6% setelah disesuaikan dengan nilai tukar mata uang, kata Hermes, lebih rendah dari konsensus analis Visible Alpha yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 7,1%.
Penjualan di kawasan Timur Tengah turun 6% setelah disesuaikan dengan nilai tukar mata uang menjadi 160 juta euro, dari 185 juta euro pada kuartal pertama tahun lalu.
“Kami mengalami pertumbuhan yang sangat baik, pertumbuhan dua digit pada bulan Januari dan Februari, kemudian bulan Maret mengalami penurunan drastis,” kata Kepala Bagian Keuangan Eric du Halgouet, menambahkan bahwa penjualan di pusat perbelanjaan mewah di Dubai dan pusat perbelanjaan Teluk lainnya turun 40% pada bulan Maret.
Hermes, yang melayani kalangan super kaya dengan tas tangan seharga lebih dari $10.000 atau sekitar Rp160 juta, mengatakan penurunan jumlah wisatawan telah memukul penjualan di toko-toko konsesi di bandara dan di Timur Tengah, serta di Inggris, Italia, dan Swiss, di mana pembeli dari negara-negara Teluk merupakan pendorong utama.
Penjualan di Prancis menurun 2,8% karena penurunan pariwisata. Di Asia, wilayah dengan penjualan terbesar bagi Hermes, pendapatan hanya tumbuh 3,5% setelah disesuaikan dengan kurs mata uang karena gangguan perjalanan udara juga berdampak di sana, kata du Halgouet, khususnya Singapura dan Thailand. Amerika Serikat menjadi titik terang, dengan penjualan yang disesuaikan dengan nilai tukar mata uang naik 17,2%.
Fluktuasi mata uang mengurangi pendapatan Hermes sebesar 290 juta euro (342 juta dolar AS) pada kuartal tersebut, menyebabkan penurunan penjualan yang dilaporkan sebesar 1% menjadi 4,07 miliar euro, dari 4,13 miliar euro pada tahun sebelumnya.






