Crispy

Sasha DiGiulian dan Pemanjatan Epik 23 Hari di El Capitan

El Capitan di Yosemite selalu menjadi panggung bagi ambisi panjat tebing yang paling ekstrem. Namun, hanya sedikit kisah yang menyamai ketekunan Sasha DiGiulian di jalur Platinum Wall.

JERNIH –  El Capitan, dinding granit setinggi 3.000 kaki (sekitar 914 meter) di Yosemite, bukan hanya sebuah formasi geologis; ia adalah medan ujian akhir bagi para pemanjat tebing dunia. Di antara puncaknya yang ikonik, jalur Platinum Wall—juga dikenal sebagai The Direct Line—adalah salah satu yang paling kejam dan jarang ditaklukkan.

Pada November 2025, atlet panjat tebing Amerika, Sasha DiGiulian, tidak hanya memanjat jalur ini, tetapi juga mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang berhasil menyelesaikan free ascent pada rute 5.13d yang melelahkan ini. Kisahnya adalah perpaduan ketahanan fisik, penguasaan teknis, dan perlawanan terhadap badai yang nyaris merenggut segalanya.

Pemanjatan epic Sasha di El Capitan berada dalam bayang-bayang legenda Yosemite yang tak tertandingi: Alex Honnold. Pada 3 Juni 2017, Honnold melakukan aksi yang oleh banyak orang dianggap sebagai tindakan bunuh diri yang diperhitungkan, yaitu menyelesaikan rute Freerider (grade 5.13a), jalur di El Capitan yang sedikit berbeda dari Platinum Wall, dalam waktu yang luar biasa singkat: 3 jam dan 56 menit. Honnold melakukannya dengan gaya Free Solo—sendirian, tanpa tali, tanpa harness, tanpa satu pun alat pengaman.

Pendakian ini tentulah bukan upaya spontan, melainkan sebuah proyek tiga musim yang teliti. Sasha memulai dengan persiapan intensif untuk menyesuaikan tubuhnya, yang baru saja melalui serangkaian operasi rekonstruksi pinggul pada tahun 2021.

Secara teknis, persiapan ini melibatkan pemanjatan proyek (projecting): mengulang-ulang gerakan pada dua pertiga bagian bawah dinding yang dipoles oleh gletser hingga setiap cekungan, seam, dan finger crack “terkunci” dalam ingatan ototnya.

Platinum Wall

Platinum Wall, dengan tingkat kesulitan yang mencapai 5.13d pada skala Yosemite Decimal System (YDS), adalah penantang elit. Grade ini menuntut presisi mikroskopis dan kekuatan maksimal. Jalur ini terdiri dari 40 pitch (segmen tali), termasuk penambahan Pine Line di awal.

Lebih dari separuh rute, yaitu 23 pitch, memiliki kesulitan 5.12, yang mana bagi pemanjat profesional pun, ini adalah ujian daya tahan yang berkelanjutan. Yang lebih krusial adalah enam pitch dengan grade 5.13—titik-titik crux (tersulit) yang menjadi penentu kesuksesan.

Dengangambaran itu saja sudah menciptakan kengerian tersendiri. Namun Sasha tak gentar. Dan semua persiapan itu sudha matang.

Pada 8 Oktober 2025, Sasha dan partner pendakiannya, Elliot Faber, tiba di Yosemite, memulai fase logistik. Pendakian yang diantisipasi memakan waktu 14–16 hari ini membutuhkan persediaan yang monumental; mereka membawa lebih dari 30 galon air yang diangkut dan disimpan di puncak untuk digunakan dalam perjalanan pulang.

Badai Musim Dingin

Beban logistik ini mencerminkan komitmen terhadap upaya free climb—gaya yang mengharuskan mereka memanjat hanya menggunakan fitur alami batuan, sementara tali dan peralatan (seperti cams dan nuts) hanya berfungsi sebagai pengaman untuk menahan atau menangkap jika terjatuh.

Upaya kontinyu dimulai pada 2 November. Sasha dan Elliot memanjat dari bawah (ground-up), maju melalui rangkaian pitch demi pitch dalam ritme yang terukur. Namun, pada hari ke-9, alam menunjukkan kekejamannya.

Badai musim dingin yang ekstrem tiba tanpa peringatan, menyelimuti dinding dengan hujan salju dan membuat granit basah dan berbahaya. Tim terpaksa berlindung di portaledge mereka—tenda gantung kecil yang tergantung 2.600 kaki (sekitar 792 meter) di atas lembah.

Sembilan hari berikutnya adalah ujian mental yang jauh lebih keras daripada tantangan fisik grade 5.13d. Berada di ruang sempit yang berayun, mereka harus menghemat persediaan dan melawan keinginan untuk turun. Dalam momen keputusasaan, Sasha mengungkapkan kalimat yang menjadi inti dari pendakian ini.

“Aku bangun dan menyesal menyerah. Aku merasakan sengatan kekecewaan karena tidak memberikan semua yang kumiliki,” ujarnya.

Ungkapan ini bukan hanya tentang memanjat; itu adalah tekad untuk menghormati pengorbanan tiga tahun yang ia lakukan selama ini. Daripada membatalkan upaya dan memulai dari awal, mereka memutuskan untuk menunggu badai berlalu, mempertahankan posisi mereka sebagai perwujudan ketahanan.

Setiap pagi, ketika kondensasi menggenang di dalam portaledge-nya dan air menetes sementara ia menggigil di tempat, ia mengirimkan kabar terbarunya, “Dingin dan sangat basah di sini… semoga kita sudah melewati masa-masa terburuknya.”

Ia menambahkan, “Rasanya seperti hujan di sini mengingat banyaknya salju yang mencair.” Ketika badai akhirnya reda, ia menulis, “Merasa penuh harapan dengan matahari ini.”

Begitulah pemanjatan berhari-hari berlangsung. Diterpa hujan lebat, bahkan sempat membuat rekan pemanjatnya terhenti. Menjelang musim dingin yang tentu akan membuat situasi bisa lebih parah.

Akhirnya, pada 26 November 2025, setelah total 23 hari di dinding, langit cerah. Sasha DiGiulian menyelesaikan pitch terakhir dan melangkah ke puncak El Capitan. Ia tidak hanya menyelesaikan pendakian ini, yang hanya merupakan pendakian keempat di jalur Platinum Wall, tetapi ia juga memecahkan batasan gender.

Saat menyampaikan pesan dari puncak, Sasha mengirimkan gambaran yang jujur tentang harga yang dibayar, “Saya mengirim pesan dari puncak dengan ujung jari bengkak dan tertempel plester.” Pesan ini merangkum bahwa pencapaian monumental tidak datang tanpa pengorbanan ekstrem.

Sasha DiGiulian telah membuktikan bahwa dengan tekad yang diasah selama bertahun-tahun dan kemampuan untuk bertahan dalam badai terburuk, batas tertinggi dalam panjat tebing pun dapat dilampaui.(*)

BACA JUGA: Akhirnya, Dua Pendaki Indonesia Capai Puncak Denali

Back to top button