
Philip Kuntjoro Widjaja menekankan pentingnya membangun kebersamaan nasional melalui kolaborasi lintas sektor di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat cepat. Menurut dia, Indonesia tidak mungkin maju hanya dengan mengandalkan pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan dunia usaha, masyarakat sipil, akademisi, generasi muda, dan komunitas lokal secara bersama-sama. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya gotong royong modern yang tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata dan kerja kolaboratif menghadapi tantangan global, krisis ekonomi, hingga transformasi teknologi.
JERNIH– Suasana hangat penuh nuansa kebangsaan menyelimuti ballroom Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, Kamis malam (21/5/2026), saat ratusan tokoh nasional, aktivis, akademisi, budayawan, dan unsur masyarakat sipil menghadiri peringatan satu dekade Pergerakan Indonesia Maju (PIM).
Perhelatan bertema “3K: Kemanusiaan, Kemajemukan, dan Kebersamaan” itu menjadi ajang refleksi atas perjalanan sepuluh tahun organisasi tersebut di tengah dinamika sosial-politik Indonesia yang dinilai semakin kompleks.
Ballroom hotel tampak dipenuhi meja-meja bundar dengan tata cahaya kristal besar yang memberi suasana hangat sekaligus khidmat. Di antara para tamu tampak Ketua Dewan Nasional PIM Din Syamsuddin, mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, hingga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie. Hadir pula sejumlah tokoh Kabinet Merah Putih seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan Jumhur Hidayat. Budayawan Eros Djarot juga tampak hadir dengan udeng khasnya.
Para tokoh itu secara bergantian menyampaikan testimoni dan harapan terhadap kiprah PIM ke depan. Atmosfer acara terasa cair ketika para tokoh nasional duduk membaur dengan aktivis lintas generasi, tokoh lintas agama, akademisi, hingga masyarakat sipil.
Dalam rangkaian acara, tiga pimpinan PIM, yakni R. Siti Zuhro, Philip Kuntjoro Widjaja, dan Yohanes Handojo Budhi Sedjati, memaparkan filosofi utama gerakan 3K.
Siti Zuhro mengatakan konsep “Kemanusiaan, Kemajemukan, dan Kebersamaan” bukan sekadar slogan moral, melainkan prinsip strategis untuk menjaga Indonesia tetap damai dan berkeadaban di tengah ancaman polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, dan krisis etika publik. Menurut dia, pembangunan nasional tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik, tetapi harus berakar pada penghormatan terhadap martabat manusia, pengelolaan kemajemukan secara sehat, dan penguatan solidaritas sosial.
Dalam paparannya, ia juga menyoroti berbagai tantangan kebangsaan mutakhir, mulai dari polarisasi identitas, penyebaran disinformasi digital, melemahnya budaya dialog, hingga meningkatnya individualisme sosial. “Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat mengancam integrasi nasional dan demokrasi substantif,” kata Siti Zuhro.
Sementara itu, Philip Kuntjoro Widjaja menekankan pentingnya membangun kebersamaan nasional melalui kolaborasi lintas sektor di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat cepat. Menurut dia, Indonesia tidak mungkin maju hanya dengan mengandalkan pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan dunia usaha, masyarakat sipil, akademisi, generasi muda, dan komunitas lokal secara bersama-sama.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya gotong royong modern yang tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata dan kerja kolaboratif menghadapi tantangan global, krisis ekonomi, hingga transformasi teknologi.
Sedangkan Yohanes Handojo Budhi Sedjati menegaskan bahwa kemajemukan Indonesia harus dipandang sebagai energi pemersatu, bukan sumber perpecahan. Menurut dia, Indonesia lahir bukan karena kesamaan identitas, melainkan karena kesediaan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan. “Karena itu, budaya saling percaya dan saling menghormati harus terus dirawat,” katanya.
Peringatan satu dekade PIM itu berlangsung dalam suasana akrab hingga larut malam, diselingi diskusi, testimoni, dan percakapan antartokoh yang membahas arah masa depan Indonesia di tengah tantangan global dan dinamika politik domestik yang terus berubah.[]






