Selebrasi Emosional Matheus Cunha yang Terancam Sanksi

Kemenangan dramatis MU berubah jadi bom waktu—apakah Cunha akan tetap jadi pahlawan, atau malah korban emosinya sendiri? Mengapa sampai kebablasan?
WWW.JERNIH.CO – Manchester United meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Arsenal di Emirates Stadium pada Minggu (25/1/2026). Laga panas yang berjalan ketat hingga menit akhir itu seharusnya dikenang sebagai malam heroik Setan Merah.
Namun, sorotan justru tertuju pada satu momen krusial setelah gol penentu Matheus Cunha—sebuah selebrasi emosional yang kini berpotensi berbuntut panjang.
Gol Cunha lahir di tengah tekanan luar biasa. Setelah Arsenal sempat unggul dan Emirates bergemuruh, MU bangkit perlahan dan membalikkan keadaan.
Saat bola akhirnya bersarang di gawang Arsenal, Cunha seolah melepaskan seluruh beban yang ia pikul sepanjang musim. Ia berlari kencang ke sisi lapangan, wajahnya tegang, mata membara, lalu berhenti tepat di depan kamera siaran.

Di sanalah momen kontroversial itu terjadi. Cunha mencondongkan badan ke arah lensa, mengepalkan tangan, lalu berteriak dengan penuh amarah dan gairah—kata-kata yang diduga mengandung makian terdengar jelas di siaran langsung.
Bukan selebrasi penuh senyum atau tarian khas, melainkan luapan emosi mentah: teriakan, rahang mengeras, dan ekspresi frustrasi yang dilepaskan begitu saja. Komentator legendaris Peter Drury bahkan terpaksa meminta maaf secara langsung kepada penonton karena bahasa yang terekam kamera.
Selebrasi ini menjadi perhatian besar bukan semata karena kata-kata kasar yang terlontar, tetapi karena konsekuensinya. FA dikenal sangat ketat terhadap tindakan ofensif yang diarahkan ke kamera, terutama dalam siaran langsung. Banyak pihak langsung mengaitkannya dengan kasus Wayne Rooney pada 2011, yang berujung larangan bermain dua pertandingan. Jika FA menilai Cunha melanggar aturan serupa, sanksi bukan hal yang mustahil.
Di sisi lain, selebrasi tersebut juga dipandang sebagai cerminan tekanan besar yang sedang dipikul Cunha. Di bawah asuhan interim Michael Carrick, ia menjelma menjadi motor utama kebangkitan MU dan membawa klub ke posisi empat besar.
Emosi yang meledak di Emirates dianggap sebagian fans sebagai bentuk pelampiasan—bahkan sindiran halus—atas kritik, keraguan, dan tekanan yang terus menghantui MU sejak awal musim.
Kini, kemenangan penting itu sedikit ternoda oleh tanda tanya besar: apakah malam heroik Cunha akan dikenang sebagai simbol kebangkitan, atau justru awal dari masalah baru akibat satu selebrasi yang terlalu jujur menampilkan emosinya?
FA belum secara resmi menjatuhkan hukuman atau larangan bermain kepada Cunha saat ini. Namun, insiden itu telah dilaporkan dan kemungkinan akan ditindaklanjuti oleh otoritas sepak bola Inggris.
“Ini adalah tipe pertandingan yang kita impikan sejak kecil. Menang di Emirates dengan cara seperti ini sangat luar biasa,” ujar Cunha cuek.(*)
BACA JUGA: Michael Carrick Sang Penstabil yang Kembali ke Kandang MU






