Supermoon Cold Moon, Gabungan Dua Fenomena Langit

Ini adalah fenomena pertemuan sempurna antara keindahan visual dan keajaiban astronomi—sebuah Bulan Purnama yang muncul lebih besar, lebih terang, dan sarat makna budaya.
JERNIH – Fenomena Supermoon Cold Moon merupakan peristiwa langit yang memukau, terbentuk dari gabungan dua konsep astronomi yang menghasilkan penampakan Bulan Purnama yang luar biasa indah dan signifikan.
Untuk memahaminya, penting untuk menguraikan kedua komponen penyusunnya: Supermoon dan Cold Moon. Secara ringkas, Supermoon Cold Moon adalah sebutan untuk Bulan Purnama Desember yang kebetulan bertepatan dengan statusnya sebagai Supermoon.
Konsep Supermoon sendiri merujuk pada kondisi geometris di mana Bulan Purnama (atau Bulan Baru) terjadi saat Bulan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi dalam jalur orbit elipsnya.
Titik terdekat ini disebut perigee. Istilah ini pertama kali diciptakan oleh astrolog Richard Nolle pada tahun 1979. Ketika Bulan Purnama mencapai perigee, ia akan tampak sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang di langit malam dibandingkan dengan bulan purnama yang terjadi di titik terjauhnya (apogee).

Sementara istilah Supermoon merujuk pada kondisi orbit Bulan, nama Cold Moon memiliki akar tradisi musiman dan budaya. Cold Moon adalah nama tradisional untuk bulan purnama Desember, yang berasal dari penduduk asli Amerika (khususnya suku Algonquin) dan suku-suku Eropa.
Penamaan ini didasarkan pada ciri khas alamiah bulan tersebut. Mengingat Desember di belahan bumi utara menandai dimulainya musim dingin yang ekstrem, nama “Bulan Dingin” menjadi sangat relevan. Oleh karena itu, Supermoon Cold Moon adalah Bulan Purnama Desember yang terlihat luar biasa besar dan cerah berkat posisinya yang sangat dekat dengan Bumi (perigee).
Siklus dan Penamaan
Fenomena Supermoon Cold Moon tidak terjadi setiap tahun. Cold Moon (Bulan Purnama Desember) terjadi setiap tahun, sesuai siklus sinodik Bulan. Namun, Supermoon sendiri — terjadi ketika Bulan mencapai perigee — memiliki siklus yang bervariasi, meskipun umumnya terjadi beberapa kali dalam setahun.
Agar Supermoon Cold Moon terjadi, bulan purnama Desember harus terjadi sangat berdekatan (dalam hitungan jam) dengan saat bulan mencapai titik perigee-nya. Pergeseran siklus ini berarti terkadang Bulan Purnama Desember hanya dikategorikan “hampir Supermoon”.
Nama fenomena ini sendiri adalah gabungan: Supermoon merujuk pada kondisi geometris (Bulan Purnama di perigee), sementara Cold Moon merujuk pada waktu terjadinya (Desember) dan konteks budaya/musiman. Nama alternatif Cold Moon adalah Long Night Moon (Bulan Malam Panjang) karena terjadi dekat dengan solstis musim dingin, yang memiliki malam terpanjang dalam setahun.
Dampak ilmiah utama dari Supermoon Cold Moon, atau Supermoon pada umumnya, adalah peningkatan intensitas gaya pasang surut (tidal forces). Pasang surut air laut sebagian besar disebabkan oleh gaya gravitasi Bulan dan Matahari pada Bumi.
Ketika Bulan berada di perigee, gaya gravitasinya sedikit meningkat. Jika Supermoon terjadi pada saat Bulan Purnama (atau Bulan Baru) — ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus (syzygy) — gaya tarikan gabungan menjadi maksimal. Ini menghasilkan Pasang Surut Perigeean yang dikenal sebagai “pasang surut raja” (king tides). Pasang surut yang ekstrem ini dapat meningkatkan risiko banjir pesisir di dataran rendah.

Secara ilmiah, meskipun jarak rata-rata Bumi ke Bulan sekitar 384.400 km, pada perigee (Supermoon) jaraknya bisa menyusut hingga sekitar 357.000 km, sedangkan pada apogee mencapai 406.000 km.
Perbedaan jarak inilah yang memperbesar penampakan Bulan dan meningkatkan efek pasang surut. Penting untuk dicatat bahwa penelitian ilmiah tidak mendukung klaim populer bahwa Supermoon secara langsung menyebabkan peningkatan signifikan pada gempa bumi atau letusan gunung berapi; fluktuasi pasang surut pada kerak bumi terlalu kecil untuk memicu peristiwa geologis dahsyat tersebut.
Supermoon Cold Moon pada akhirnya adalah waktu yang spektakuler untuk mengamati kekuatan gravitasi dan dinamika orbital di alam semesta.(*)
BACA JUGA: Supermoon Kembali Dapat Disaksikan Rabu 8 April 2020

