The RIP, Ketika Uang Membelah Persahabatan dan Hukum Kehilangan Wajah

Satu TKP. Jutaan dolar. Tidak ada saksi. Di balik lencana dan sumpah hukum, kesetiaan mulai retak. The RIP bukan tentang siapa yang benar—melainkan siapa yang lebih dulu berani mengkhianati prinsipnya.
WWW.JERNIH.CO – The RIP (atau R.I.P.), proyek ambisius yang menandai kembalinya duet legendaris Matt Damon dan Ben Affleck di bawah bendera studio independen mereka, Artists Equity. Dirilis oleh Netflix, film ini langsung masuk radar penonton global sebagai salah satu crime thriller paling ditunggu, bukan hanya karena skala produksinya, tetapi juga karena eksplorasi sisi tergelap dari “Dynamic Duo” Hollywood yang selama ini identik dengan persahabatan dan idealisme.
Disutradarai Joe Carnahan, RIP bukan sekadar film kriminal tentang uang haram dan polisi korup. Ia adalah eksperimen psikologis tentang bagaimana moral manusia runtuh secara perlahan—bukan karena kejahatan besar, melainkan karena godaan kecil yang dibiarkan tumbuh.

Cerita berpusat pada sekelompok polisi elit yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai dengan presisi nyaris sempurna. Dalam sebuah penggerebekan di rumah terpencil, mereka justru menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada pelaku kejahatan: tumpukan uang tunai bernilai jutaan dolar, tanpa identitas dan tanpa saksi.
Sejak titik itu, RIP bergeser dari prosedur kepolisian menjadi drama ruang tertutup yang penuh kecurigaan. Rick (Matt Damon), detektif dengan kompas moral yang masih utuh namun penuh luka masa lalu, berdiri berseberangan dengan Tom (Ben Affleck), sersan karismatik yang mulai mempertanyakan satu hal mendasar: apakah kejujuran masih relevan ketika sistem sendiri gagal memberi keadilan?
Dinamika tim yang semula solid perlahan berubah menjadi medan ranjau emosional. Detektif Sofia (Sasha Calle), anggota termuda, terjepit di antara loyalitas kepada rekan dan sumpah hukum. Sementara Kapten Miller (Teyana Taylor) hadir sebagai figur otoritas yang tampak tegas, tetapi menyimpan agenda yang tak sepenuhnya bersih.
Kondisi terisolasi—akibat badai atau keterlambatan unit forensik—memaksa mereka bertahan berjam-jam di lokasi yang sama. Paranoia tumbuh subur. Ketegangan memuncak ketika salah satu anggota tim ditemukan tewas secara misterius. Sejak saat itu, pertanyaannya bukan lagi “siapa pemilik uang ini?”, melainkan “siapa yang masih bisa dipercaya?”
Affleck dan Damon: Chemistry yang Lebih Gelap
Jika Air (2023) menunjukkan Damon dan Affleck sebagai mitra visioner, The RIP justru memaksa mereka saling berhadapan. Damon tampil dengan gaya akting yang senyap namun menghantam—emosi ditekan, lalu meledak di momen krusial. Affleck, di sisi lain, kembali ke zona terbaiknya: karakter abu-abu yang manipulatif, penuh logika dingin, dan perlahan berubah menjadi ancaman nyata.

Chemistry keduanya terasa sangat organik, terutama dalam adegan dialog. Cara mereka saling memotong kalimat, menahan jeda, dan menatap tanpa kata membuat konflik terasa hidup, bukan teatrikal. Ini bukan persahabatan romantis ala Hollywood, melainkan relasi yang rapuh dan realistis.
Tema utama RIP adalah korupsi sistemik dan batas tipis antara kesetiaan dan moralitas. Film ini menegaskan bahwa kejahatan terbesar sering kali tidak diawali niat jahat, melainkan kompromi kecil yang dianggap “masuk akal”. Setiap karakter memiliki harga—dan film ini dengan kejam memaksa mereka menemukan harga tersebut.
Alih-alih menggurui, RIP mengajak penonton bertanya: jika berada di posisi mereka, apakah kita benar-benar akan bertindak berbeda?
Dengan estimasi bujet di kisaran USD 80–100 juta, film ini memanfaatkan dananya secara efektif. Sinematografi bertone dingin dan kelabu mempertegas suasana tertekan, sementara minimnya ledakan justru memberi ruang bagi dialog dan ekspresi aktor untuk menjadi sumber ketegangan utama. Ini adalah thriller yang percaya pada kekuatan naskah dan performa, bukan sekadar aksi.
RIP bukan film kriminal biasa. Ini adalah studi karakter yang brutal secara psikologis, dibalut atmosfer claustrophobic dan dialog tajam. Joe Carnahan berhasil menyajikan ketegangan yang konstan tanpa harus mengandalkan skala besar. Kekuatan utamanya jelas terletak pada naskah yang cerdas dan performa Matt Damon–Ben Affleck yang membuktikan bahwa, puluhan tahun kemudian, mereka masih merupakan salah satu duet paling kuat dan relevan di industri film.

Bagi penikmat The Departed, Heat, atau Triple Frontier, RIP adalah tontonan wajib—bukan karena aksinya, tetapi karena keberaniannya menelanjangi sisi gelap moral manusia. So, siapkan cemilan sebelum menonton di Netflix.(*)
BACA JUGA: Film Jumbo Sudah Mendarat di Netflix






