Tragedi di Mar-a-Lago, Pria Bersenjata Tewas Ditembak Setelah Terobos Kediaman Donald Trump

JERNIH – Keamanan di kediaman pribadi Presiden Donald Trump, Mar-a-Lago, kembali menjadi sorotan dunia. Seorang pria berusia 21 tahun tewas ditembak oleh agen Secret Service setelah nekat menerobos barikade keamanan di resor mewah tersebut pada Minggu dini hari (22/2/2026).
Meskipun Trump sering menghabiskan akhir pekan di resor Florida tersebut, ia sedang berada di Gedung Putih saat insiden terjadi sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Pelaku diidentifikasi sebagai Austin Tucker Martin, warga asal North Carolina. Menurut keterangan Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, Martin memasuki gerbang utara properti tepat saat kendaraan lain sedang keluar.
Aksinya segera dihadang oleh dua agen Secret Service dan seorang deputi sheriff. Martin membawa sebuah senapan (shotgun) dan jerigen berisi gas. “Dia diperintahkan untuk menjatuhkan peralatan yang dibawanya. Ia sempat meletakkan jerigen gas, namun justru mengangkat senapannya ke posisi menembak,” ujar Bradshaw. Petugas pun bertindak cepat dengan melepaskan tembakan untuk melumpuhkan ancaman tersebut.
FBI kini tengah menyusun profil psikologis Martin. Menariknya, pihak keluarga memberikan kesaksian yang sangat bertolak belakang dengan aksi nekat tersebut. Sepupu pelaku, Braeden Fields (19), mengaku tidak percaya Martin melakukan hal itu.
Martin dikenal sebagai sosok yang sangat tenang dan bekerja di lapangan golf lokal. Keluarga menyebut Martin takut pada senjata api dan bahkan tidak tahu cara menggunakannya.
Selain itu, Fields menegaskan bahwa seluruh keluarga besar mereka adalah pendukung fanatik Donald Trump. Martin sempat dilaporkan hilang oleh keluarganya hanya beberapa jam sebelum insiden maut tersebut terjadi.
Penyelidik meyakini Martin membeli senapan tersebut dalam perjalanannya menuju selatan (Florida), setelah sebuah kotak senjata ditemukan di dalam kendaraannya.
Insiden ini langsung memicu reaksi keras dari Gedung Putih. Sekretaris Pers, Karoline Leavitt, memuji kesigapan Secret Service namun juga menggunakan momen ini untuk menyerang lawan politik di Kongres.
Leavitt menyalahkan Partai Demokrat atas government shutdown (penutupan sebagian pemerintahan) yang sedang berlangsung. Ironisnya, para agen Secret Service yang menggagalkan serangan ini termasuk dalam kategori pegawai yang tetap bekerja meski gaji mereka tertunda akibat krisis anggaran tersebut.
“Sangat memalukan dan sembrono bahwa Demokrat memilih untuk menutup departemen mereka (Homeland Security) di saat aparat bekerja 24 jam menjaga keselamatan negara,” tegas Leavitt melalui unggahan di platform X.
Rentetan Kekerasan Politik di Amerika
Upaya serangan di Mar-a-Lago ini menambah panjang daftar kekerasan bermotif politik di Amerika Serikat dalam setahun terakhir, termasuk dua percobaan pembunuhan terhadap Trump pada kampanye 2024, pembunuhan aktivis konservatif Charlie Kirk, serangan terhadap pimpinan Demokrat di Minnesota serta aksi pembakaran di kediaman Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro.
Hanya dua hari sebelum pidato State of the Union yang dijadwalkan Selasa malam besok, keamanan di Capitol Hill dan kediaman Presiden tetap berada pada level tertinggi. FBI mengimbau warga sekitar Mar-a-Lago untuk memeriksa rekaman CCTV guna membantu penyelidikan yang masih berlangsung ini.
