
- Para pakar intelijen siber menemukan bahwa narasi “Iran menyerang sekolahnya sendiri” sengaja disebarkan melalui kampanye disinformasi di media sosial.
- Analisis Bellingcat terhadap video dari kantor berita Mehr menunjukkan bahwa amunisi yang menghantam sekolah tersebut adalah Rudal Jelajah Tomahawk
JERNIH – Sebuah keretakan hebat terjadi di internal pemerintahan Amerika Serikat. Sejumlah pejabat pertahanan aktif dan mantan petinggi Pentagon secara terbuka membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebut Iran bertanggung jawab atas serangan maut di sebuah sekolah di Minab.
Data satelit, rekaman video, dan kesaksian ahli militer justru mengerucut pada satu kesimpulan pahit: militer Amerika Serikatlah yang menghantam sekolah tersebut, bukan Teheran.
Klaim Trump yang disampaikan di atas pesawat Air Force One sabtu lalu—bahwa serangan itu adalah hasil kegagalan roket Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)—kini rontok. Laporan investigasi The Intercept mengungkapkan kekecewaan mendalam di kalangan pejabat intelijen.
“Ini adalah contoh lain dari Trump yang berbohong dan bicara sembarangan,” ujar seorang pejabat pemerintah AS yang telah meninjau citra satelit Sekolah Dasar Putri Shajareh-ye Tayyebeh. “Sangat jelas ini bukan roket IRGC yang gagal meluncur.”
Bahkan, Menteri Pertahanan pilihan Trump sendiri, Pete Hegseth, tampak enggan mendukung klaim bosnya tersebut. Saat ditanya wartawan, Hegseth hanya menjawab diplomatis, “Kami sedang menyelidiki,” tanpa mengonfirmasi tuduhan Trump terhadap Iran.
Bukti fisik di lapangan memperkuat dugaan keterlibatan langsung Washington. Analisis dari lembaga verifikasi Bellingcat terhadap video yang dirilis kantor berita Mehr menunjukkan bahwa amunisi yang menghantam sekolah tersebut adalah Rudal Jelajah Tomahawk.
Wes Bryant, mantan pengontrol serangan gabungan operasi khusus AS yang telah menangani ribuan serangan udara di Timur Tengah, memberikan konfirmasi teknis yang fatal:
“Amunisi ini (Tomahawk) hanya digunakan oleh AS, bukan Israel maupun Iran. Serangan ini memiliki ‘tanda tangan’ khas operasi militer Amerika: sangat presisi, terarah, dan ditempatkan dengan tepat.”
Bryant menambahkan bahwa besar kemungkinan sekolah tersebut menjadi sasaran akibat “salah identifikasi target” dalam operasi penghancuran pangkalan IRGC yang berada di dekatnya.
Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026), tepat di hari pertama agresi gabungan AS-Israel, menghantam sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Akibatnya, 165 orang tewas—mayoritas adalah siswi sekolah dasar, staf, dan orang tua murid—serta 96 lainnya luka-luka.
Hingga Selasa lalu, proses identifikasi masih berlangsung menyisakan duka yang mencekam di Provinsi Hormozgan. Kementerian Pendidikan Iran melaporkan bahwa 66 jenazah masih memerlukan tes DNA untuk dikenali karena kondisi luka yang sangat parah akibat ledakan presisi tinggi tersebut.
Para pakar intelijen siber menemukan bahwa narasi “Iran menyerang sekolahnya sendiri” sengaja disebarkan melalui kampanye disinformasi di media sosial. Akun-akun yang mendukung pemulihan monarki Iran diasingkan ditengarai menjadi motor penggerak hoaks ini untuk mencuci tangan militer AS dari tanggung jawab atas jatuhnya korban sipil massal.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan keras melalui platform X: “Kejahatan ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Sekolah itu dibom di siang bolong saat penuh dengan murid-murid kecil.”
Kasus Minab kini menjadi beban moral dan politik besar bagi pemerintahan Trump. Jika terbukti benar bahwa rudal AS yang membantai ratusan siswi tersebut, maka Washington terancam menghadapi tuduhan kejahatan perang internasional di tengah eskalasi konflik yang sudah membara.






