UBTech Tawarkan Gaji Rp 306 Miliar untuk Posisi CEO

Satu orang, satu jabatan, dan gaji setara CEO global. UBTech mengguncang dunia teknologi dengan merekrut Kepala Ilmuwan seharga Rp306 miliar demi memenangkan perang robot humanoid.
WWW.JERNIH.CO – Industri robotika dikejutkan oleh langkah ekstrem dari UBTech, perusahaan robot humanoid pertama di China yang melantai di bursa saham. Tidak tanggung-tanggung, UBTech mengalokasikan dana sebesar Rp306 miliar hanya untuk merekrut satu orang saja sebagai Chief Scientist. Angka yang biasanya dicadangkan bagi posisi CEO kelas dunia ini menjadi bukti betapa sengitnya perang talenta kecerdasan buatan (AI) global saat ini.
Taruhan besar UBTech ini berfokus pada pengembangan embodied intelligence, sebuah teknologi inti yang memungkinkan robot berfungsi secara nyata di lingkungan dunia manusia yang berantakan dan sulit diprediksi, bukan sekadar di dalam laboratorium yang steril.
Investasi masif ini bukanlah sekadar aksi cari panggung. Secara finansial, perusahaan yang berbasis di Shenzhen ini menunjukkan performa yang sangat solid. UBTech melaporkan pendapatan tahun 2025 sebesar Rp 4,96 triliun, melonjak 53,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Yang menarik, produk dan layanan robot humanoid kini menyumbang 41% dari total pendapatan perusahaan—sebuah peningkatan fantastis sebanyak 20 kali lipat. Ini membuktikan bahwa teknologi mereka bukan lagi sekadar prototipe, melainkan solusi yang benar-benar dibeli oleh konsumen.
BACA JUGA: Universitas India Dikecam Usai Mengklaim Teknologi Robot China Sebagai Karyanya
Sebagai contoh nyata, pada Januari lalu, raksasa penerbangan Airbus telah membeli robot humanoid Walker S2 milik UBTech untuk digunakan di pabrik pembuatan pesawat mereka.
Sosok Chief Scientist yang direkrut dengan gaji selangit ini memikul tanggung jawab besar. Alih-alih hanya menerbitkan makalah akademik, ia bertugas merancang peta jalan teknologi UBTech yang mencakup:
Model Visi-Bahasa-Tindakan: Agar robot bisa memahami perintah dan melihat lingkungan secara cerdas.
Pembelajaran Manipulasi: Fokus pada bagaimana robot menggerakkan tangan dan alat secara presisi.
Adaptasi Dunia Nyata: Memindahkan teknologi dari kondisi lab yang terkontrol ke skenario dunia nyata yang kacau.
Tujuannya sangat spesifik yakni memastikan robot mampu menavigasi dapur Anda yang berantakan atau membantu di area pabrik yang tidak terduga, mempercepat transisi robotika ke sektor manufaktur pintar, layanan komersial, hingga pendamping di rumah tangga.
UBTech kini berdiri di tengah medan tempur melawan raksasa dunia seperti OpenAI, Google DeepMind, dan ambisi robot humanoid milik Tesla. Mengamankan talenta terbaik menjadi syarat mutlak untuk bertahan hidup. Dukungan politik pun sangat kuat; Perdana Menteri China, Li Qiang, secara khusus memprioritaskan robotika dalam laporan kerja pemerintah tahun 2026.
Persaingan ini pun memicu “perlombaan senjata” dalam hal gaji. Di saat yang sama, kompetitor seperti Geekplus-W baru saja merekrut pakar dari Universitas Tsinghua sebagai kepala ilmuwan mereka.
Fenomena ini memberikan pesan yang jelas bagi kita semua: robot asisten rumah tangga atau pendamping lansia yang dulu dianggap fiksi ilmiah kini akan hadir jauh lebih cepat berkat kucuran dana fantastis dan ambisi besar di balik layar.(*)
BACA JUGA: StartUp China Rilis Robot Moya Dijual Seharga Rp 2,7 Miliar






