Depth

Pelajaran dari Cina: Jangan Bikin Orang Bayar untuk Tes Corona, Gratiskan!

“Konsekuensi dari perbedaan ini, epidemi akan memakan waktu lebih lama di negara-negara di mana social distancing dilakukan atas dasar suka rela,” kata dia.

JAKARTA— Dengan penyebaran virus Corona yang kini mendunia, Cina menyatakan memiliki satu pelajaran penting bagi pemerintah negara lain dalam memerangi penyakit ini—talangi rakyat agar mereka tak harus membayar baik biaya tes Corona maupun biaya perawatan.

Virus Corona saat ini telah menyebar ke lebih dari 100 negara, dengan Italia, Iran, dan Korea Selatan muncul sebagai episentrum perkembangan epidemi. Italia telah melaporkan lebih dari 10 ribu  kasus infeksi, menyusul Korea Selatan sebagai negara yang paling parah terkena dampak di luar Cina. Amerika Serikat juga telah mulai melaporkan lebih banyak kasus yang dikonfirmasi, karena otoritas kesehatan memberlakukan beberapa pembatasan yang membatasi ketersediaan pengujian untuk penularan.

Illustrasi penderita sakit melewatkan waktu di tempat penyembuhan

Tetapi di Cina, tempat penyakit itu pertama kali dilaporkan, epidemi itu memudar, dengan hanya ada 19 kasus infeksi baru yang dilaporkan pada Selasa (10/3) lalu. Tes Corona disebutkan menelan biaya sekitar 370 yuan (53 dolar AS) di Cina. Di kota selatan Shenzhen, biaya rata-rata untuk mengobati penyakit ini berkisar dari 23.000 yuan untuk pasien usia lanjut hingga sekitar 5.600 yuan untuk anak di bawah umur, sebagaimana dilaporkan jurnal Chinese Hospital Management pada 28 Februari lalu.

Beberapa metode pengobatan publik seperti oksigenasi membran ekstrakorporeal— yang secara artifisial mengoksigenasi darah pasien untuk jangka waktu terbatas, yang mahal. Tetapi semuanya ditanggung pemerintah, yang telah mengalokasikan 110,48 miliar yuan untuk perawatan, subsidi untuk staf medis dan peralatan medis.

Di AS, di mana ada 25 kematian pada 696 kasus yang dikonfirmasi, kecemasan publik tumbuh seiring mahalnya biaya pengujian. Pemerintah AS tidak mengenakan biaya untuk tes konfirmasi coronavirus di laboratorium yang ditunjuk, tetapi perjalanan ke rumah sakit akan dikenai biaya besar lainnya, yang dalam satu kasus bisa lebih dari 3.200 dolar AS. Sebuah grup asuransi yang memiliki lobi kuat ke pemerintah AS, Plans, mengatakan individu perlu memeriksa penyedia asuransi mereka untuk cakupan biaya terkait dengan Covid-19.

Hingga pekan lalu hanya 1.707 orang telah diuji oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Lebih banyak tes mungkin telah dilakukan di laboratorium tingkat kesehatan masyarakat yang lebih rendah, tetapi jumlah infeksi juga bisa lebih besar, yang menurut penelitian baru Cedars-Sinai, diperkirakan antara 1.043 dan 9.484 orang di AS mungkin telah terinfeksi pada 1 Maret.

Korea Selatan, dengan 7.513 pasien Covid-19 pada pekan lalu, pada Januari lalu mengumumkan bahwa pemerintah dan perusahaan asuransi akan menanggung biaya pemeriksaan, isolasi dan perawatan untuk pasien virus Corona. Negara itu telah memperluas stasiun pengujian untuk memasukkan layanan drive-through dan menguji sekitar 15 ribu orang per hari.

Jepang menetapkan Covid-19 sebagai penyakit menular pada bulan Februari, menjadikannya tanggung jawab pemerintah untuk membayar tagihan rawat inap terkait infeksi virus Corona.

Di Inggris, sekitar 18.000 orang telah menerima tes gratis sejak bulan lalu, dan 373 telah dikonfirmasi terinfeksi.

Profesor Dirk Pfeiffer, pimpinan College of Veterinary Medicine and Life Sciences di City University, mengatakan kemampuan ekonomi akan menghambat upaya pengendalian epidemi. “Jelas, di mana pun jika kelompok berpenghasilan rendah harus membayar untuk perawatan kesehatan, individu dengan gejala ringan, akan membuat mereka ragu mengunjungi fasilitas perawatan kesehatan. Jika itu terjadi pada beberapa individu yang tertular, itu akan memperpanjang epidemi,” kata Pfeiffer.

Namun dia mengatakan, pengujian agresif pun tidak realistis bagi sebagian besar negara. Ia yakin, social distancing  akan tetap menjadi langkah mitigasi risiko yang paling penting. “Saya pikir pengujian skala besar tidak realistis di sebagian besar negara karena banyaknya tes yang diperlukan. Bahkan kalau pun memungkinkan, itu tidak akan memberantas virus dari populasi. Oleh karena itu, pengujian harus tetap berbasis risiko, fokus, misalnya, pada mereka yang kontak dengan kasus yang diketahui.“

Pfeiffer mengatakan bahwa dalam masyarakat demokratis Barat, social distancing sebagian besar didasarkan pada kepatuhan sukarela publik. Berbeda dengan Cina, di mana tes wajib dilakukan di bawah peraturan pengendalian penyakit menular yang ketat di negara itu. “Konsekuensi dari perbedaan ini, epidemi akan memakan waktu lebih lama di negara-negara di mana social distancing dilakukan atas dasar suka rela,” kata dia.

Ni Feng, direktur Institute of American Studies di bawah Chinese Academy of Social Sciences, mengatakan, Cina dan AS memiliki kondisi yang berbeda dan dapat dimengerti mereka menggunakan strategi yang berbeda. Tetapi keberhasilan Cina dalam mengendalikan epidemi dapat menjadi peluang yang baik untuk kedua negara untuk bekerja sama.

“Ini adalah area yang paling tidak sensitif. Ada banyak bidang di mana kedua negara dapat bekerja sama. Kami melihat kerja sama yang solid di masa lalu dengan wabah influensa SARS, H5N1 dan H7N9. Tetapi tidak kali ini,” kata Ni. [Zhuang Pinghui/South China Morning Post]

Back to top button