
Grok AI jadi sorotan tajam di Indonesia setelah gelombang kasus deepfake dan kebocoran data pribadi mencuat. Lalu langkah apa yang harus dilakukan agar terhindar?
WWW.JERNIH.CO – Grok AI, kecerdasan buatan ambisius milik Elon Musk (xAI), kini tengah berada di pusaran kontroversi global yang merambat cepat ke Indonesia. Sejak awal kemunculannya, Grok diposisikan sebagai asisten digital yang lebih “berani” dan minim sensor dibandingkan pesaingnya seperti ChatGPT atau Gemini.
Namun, memasuki Januari 2026, kebebasan yang ditawarkan tersebut justru memicu gelombang penyalahgunaan data dan privasi yang mengkhawatirkan masyarakat tanah air.
Keresahan publik memuncak ketika ditemukan maraknya konten deepfake asusila yang dihasilkan melalui fitur image editing Grok. Di Indonesia, laporan menunjukkan bahwa pelaku menggunakan foto warga sipil dan publik figur dari media sosial untuk dimanipulasi menjadi gambar tidak senonoh secara instan.
Tidak berhenti di situ, pada penghujung 2025, sebuah celah keamanan fatal terungkap: fitur “Share Link” Grok secara tidak sengaja membiarkan percakapan pribadi pengguna terindeks oleh mesin pencari Google. Hal ini menyebabkan dokumen rahasia perusahaan dan instruksi berbahaya tersebar luas di ruang publik.
Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, serangan siber berbasis AI yang memanfaatkan platform X meningkat signifikan. Teknik yang dikenal sebagai “Grokking” kini digunakan peretas untuk menyisipkan malware melalui iklan yang terlihat sangat meyakinkan karena gaya bahasa AI yang natural.
Coba simak foto Scarlett Johansonn yang memadu dengan foto Taylor Swift (foto kanan) dengan kualitas nyaris sempurna. Bagi pengguna awam, hal ini bisa dianggap sebagai sebuah produk visual yang otentik dan bagus.

Para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa integrasi langsung Grok dengan platform X membuat penyebaran konten berbahaya ini sulit dibendung secara real-time.
Akar dari kekacauan ini terletak pada filosofi “Absolute Speech” atau kebebasan berbicara mutlak yang diusung Elon Musk. Berbeda dengan model AI lain yang memiliki protokol keamanan berlapis, Grok didesain dengan batasan yang sangat longgar. Minimnya filter moderasi inilah yang memungkinkan AI tersebut memproses permintaan yang melanggar etika, seperti memodifikasi tubuh orang lain tanpa izin.
Di mata pengembangnya, ini adalah transparansi; namun di mata hukum Indonesia, ini merupakan pelanggaran serius terhadap ruang digital yang sehat.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tidak tinggal diam. Pada 7 Januari 2026, pemerintah secara resmi memberikan peringatan keras kepada platform X. Mengingat Indonesia telah memberlakukan KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023) per 2 Januari lalu, penyedia layanan kini menghadapi risiko hukum yang lebih berat. Pasal 172 dan 407 dalam KUHP baru tersebut memberikan landasan kuat untuk menjerat siapa pun yang memproduksi atau menyebarkan konten pornografi digital dengan ancaman penjara hingga 10 tahun.
Pemerintah juga sedang melakukan investigasi mendalam terhadap kepatuhan X sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE). Jika tidak ada perbaikan sistemik dalam waktu dekat, ancaman pemutusan akses (blokir) terhadap layanan Grok AI dan platform X di Indonesia menjadi opsi nyata yang akan diambil untuk melindungi warga negara dari eksploitasi digital.
TIPS
Teknologi AI bekerja dengan cara memanen data yang tersedia secara publik. Semakin banyak data Anda di internet, semakin mudah bagi AI untuk meniru wajah, suara, atau kepribadian Anda. Berikut langkah yang bisa Anda ambil:
1. Perketat Privasi Media Sosial (Langkah Utama)
AI seperti Grok memanen data langsung dari platform X dan media sosial lainnya.
Lakukan Privatisasi Akun: Ubah akun Anda menjadi Private (Gembok). Ini adalah cara paling efektif untuk mencegah bot AI mengambil data foto Anda.
Hapus Metadata Foto: Sebelum mengunggah foto, hapus metadata (EXIF) yang berisi lokasi dan waktu pengambilan foto. Anda bisa menggunakan aplikasi “Exif Eraser” atau fitur bawaan di ponsel.
Batasi Tagging: Atur agar orang lain tidak bisa menandai (tag) Anda di foto tanpa persetujuan Anda.
2. Gunakan Teknik “Cloaking” pada Foto Wajah
Saat ini sudah ada teknologi untuk “menipu” mesin AI agar tidak bisa mengenali atau memanipulasi wajah Anda secara akurat:
Nightshade atau Glaze: Gunakan alat (tool) gratis seperti Glaze yang dikembangkan oleh University of Chicago. Alat ini memberikan perubahan tipis pada piksel foto yang tidak terlihat oleh mata manusia, tetapi membuat AI gagal memproses wajah Anda untuk keperluan deepfake.
Hindari Foto Close-up Berkualitas Tinggi: Jangan mengunggah foto wajah tampak depan (pas foto) dengan resolusi sangat tinggi di platform publik. AI membutuhkan detail pori-pori dan garis wajah untuk menciptakan deepfake yang sempurna.
3. Aktifkan Fitur Keamanan di Platform X
Karena Grok terintegrasi langsung dengan X, lakukan pengaturan berikut di akun X Anda:
Matikan Pelatihan AI: Masuk ke Settings and Privacy > Privacy and Safety > Grok. Pastikan pilihan “Allow your posts to be used for training” dalam posisi OFF/Mati.
Hapus Share Links Lama: Jika Anda pernah menggunakan Grok, masuk ke riwayat percakapan dan hapus tautan yang pernah Anda bagikan untuk mencegah data tersebut terindeks Google.
4. Lindungi Identitas Suara (Biometrik)
Waspada Voice Note: Hindari mengirim pesan suara (voice note) kepada orang yang tidak dikenal atau di grup publik. AI hanya butuh sampel suara 3 detik untuk mengkloning suara Anda secara sempurna guna penipuan (Vishing).
5. Lakukan “Digital Housekeeping” Secara Berkala
Ego-Surfing: Ketik nama lengkap Anda di Google secara rutin untuk melihat data apa saja yang muncul di publik.
Gunakan Reverse Image Search: Gunakan fitur Google Lens atau Pimeyes untuk mengecek apakah foto wajah Anda digunakan oleh akun asing atau situs yang tidak semestinya.(*)
BACA JUGA: Grok dan The Times of Israel Sebarkan Informasi Palsu Soal Pahlawan di Penembakan Yahudi






