Moron

Adu Mulut Donald Trump VS Robert De Niro

Di satu sudut, ada seorang Legenda Sinema yang menghabiskan kariernya memerankan sosok tangguh di jalanan New York. Di sudut lain, seorang Taipan Properti yang mengubah politik global menjadi panggung realitas pribadinya.

WWW.JERNIH.CO – Perseteruan antara aktor legendaris Robert De Niro dan Donald Trump telah menjadi salah satu “perang mulut” paling ikonik dan berkepanjangan dalam sejarah budaya populer Amerika Serikat.

 Selama lebih dari satu dekade, bintang Taxi Driver tersebut telah memosisikan dirinya sebagai kritikus paling vokal terhadap Trump, beralih dari ketidaksetujuan pasif menjadi perlawanan terbuka yang penuh emosi di berbagai panggung penghargaan dan media internasional.

Sumber perseteruan ini berakar pada pandangan De Niro bahwa Trump bukan cuma politisi yang buruk, melainkan ancaman eksistensial bagi demokrasi dan karakter bangsa Amerika. De Niro sering menyebut Trump sebagai sosok yang “tidak memiliki nilai penebusan” (no redeemable qualities). Ia merasa muak dengan retorika Trump yang dianggap memecah belah, rasis, dan manipulatif.

“Dia sangat bodoh secara terang-terangan. Dia itu bajingan, an**ng, b**i… seorang seniman omong kosong yang tidak tahu apa yang dia bicarakan. Saya ingin sekali memukul wajahny,” sembur De Niro.

Bagi De Niro, Trump adalah representasi dari karakter “gangster” yang sering ia perankan di film, namun dalam bentuk yang nyata dan berbahaya. Ia secara konsisten menuduh Trump sebagai seorang “penipu” (charlatan) yang membangun kariernya di atas kebohongan.

Trump membalas lewat cuitan di X. “Robert De Niro, seorang individu dengan IQ yang sangat rendah, telah menerima terlalu banyak pukulan di kepala oleh petinju sungguhan di film. Saya menontonnya dan benar-benar percaya dia mungkin sudah ‘mabuk pukulan’ (punch-drunk),” umpat Trump.

Ketegangan ini memuncak ketika Trump menjabat sebagai Presiden ke-45 dan berlanjut hingga masa jabatan keduanya saat ini, di mana De Niro merasa bahwa nilai-nilai seni dan kebebasan berekspresi sedang berada di bawah ancaman serius.

“Negara kita sedang diperintah oleh seorang ‘philistine’ (orang yang tidak berbudaya) yang menganggap dirinya kepala institusi budaya, padahal dia menghancurkan seni dan pendidikan,” ujar De Niro saat memberi sambtan di Cannes tahun silam.

Respons masyarakat Amerika Serikat terhadap perseteruan ini mencerminkan polarisasi tajam yang melanda negara tersebut. Pendukung De Niro adalah kelompok liberal dan kritikus Trump. Mereka memandang De Niro sebagai pahlawan yang berani menggunakan platformnya untuk menyuarakan kebenaran. Mereka mengapresiasi keberaniannya berbicara di acara-acara besar seperti Tony Awards atau Cannes Film Festival.

Di seberang pendukung Trump alias para pendukung gerakan MAGA (Make America Great Again) menganggap De Niro sebagai contoh nyata dari “elit Hollywood yang terputus dari realitas.” Mereka sering menyerang balik sang aktor di media sosial, menyebutnya sebagai orang yang sudah pikun atau “terjangkit” Trump Derangement Syndrome.

Perseteruan ini tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Seiring dengan dinamika politik AS yang terus memanas, interaksi antara sang “Raja Akting” dan sang “Presiden” ini tetap menjadi tontonan publik yang menggambarkan betapa dalamnya jurang perbedaan ideologi di Amerika saat ini.

Itulah potret demokrasi AS, adu mulut dengan kata-kata tajam, provokatif, bahkan cenderung kotor adalah hal biasa. Kendati kedemokratisan AS sendiri juga sagat patut dipertanyakan.(*)

BACA JUGA: Bruce Springsteen Bongkar Teror ICE di Jalanan Amerika

Back to top button