SolilokuiVeritas

100 Buku Pro & Kon?

Selanjutnya kita imbau para intelektual yang terlibat dalam pendapat pro & kontra itu untuk tetap ingat dengan kesalahan, kejahatan dan penipuan yang selama sudah merugikan bangsa. Tetaplah ingat korupsi, kolusi dan nepotisme yang telah menyebabkan penderitaan masyarakat. Lama-kelamaan ingatan itu tentu akan terlembaga dalam diri mereka dan melahirkan kesadaran (sense) keinginan nyata untuk berkontribusi menata bangsa ini selapis demi selapis.

Oleh     : Prof. Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Ketika sebuah isu atau sebuah program kontroversial muncul di ruang publik, kontan berbagai pendapat muncul. Ada yang pro dan ada pula yang kontra (kon). Semua pendapat pro & kon itu saling berkejaran. Lucunya, jumlah yang pro & kon hampir sama. Seolah penulisnya sudah janjian untuk meramaikan suasana.

Pendapat yang pro & kon itu, bila dilihat lebih jauh, bisa digolongkan menjadi lima kelompok. Pertama, hanya ekspresi perasaan secara spontan. Kedua,  mengandung nilai-nilai moral. Ketiga, cerminan berpi-kir yang holistik dalam melihat persoalan. Keempat, bermakna praktis, sehingga bisa langsung diterapkan. Kelima, mengajak merenung untuk memperoleh solusi yang tepat.

Ini menunjukkan penulis pendapat yang pro & kon itu sangat beragam. Di atas semua itu, mereka mengerti betul hak asasi mereka sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 23 Ayat 2, Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tetang Hak Asasi Manusia: Setiap orang bebas mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai dengan nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.

Dengan gambaran selintas di atas, agaknya kita akan menyambut baik buku kumpulan tulisan pro & kon tersebut. Kita akan memperoleh informasi yang lengkap tentang sebuah isu atau program yang mengandung pro & kon. Taruh kata tentang pernyataan Saiful Mujani yang berujar: “Yang jalan hanya ini, bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo, hanya itu” (https://news.detik.com/berita/d-8432800/penjelasan-saiful-mujani-terkait-ucapan-soal-prabowo-tak-ada-kata-makar).Lalu muncul bermacam pendapat pro & kon.

Kalau semua pendapat pro & kon itu ditulis dalam sebuah buku, tentu buku itu akan best seller. Para penulisnya merupakan kaum intelektual yang ahli di bidangnya masing-masing. Perspektifnya sangat beragam. Bukan mustahil isi buku bisa memberikan benang merah siapa yang sesungguhnya punya niat baik untuk memajukan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Siapa pula yang tidak.

Menyusul buku ini, akan muncul lagi buku-buku lain tentang pendapat yang pro & kon. Misalnya tentang koperasi merah putih, tentang makanan bergizi gratis, tentang Board of Peace (BoP), tentang swasembada pangan, tentang restorative justice, dan sebagainya. Kalau diteruskan ke masa pemerintahan Jokowi, bukan mustahil lahir 100 buku pro & kon.  Semua buku ini bisa jadi pembelajaran bagi generasi berikutnya. Tanpa buku, kata Budi Darma (2016), kebudayaan tidak akan maju.

Dalam keadaan begini, kita perlu menghimbau para penulis handal untuk mengumpulkan pendapat pro & kon tentang sebuah isu atau program dalam sebuah buku.  Ia akan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.  Ia juga bisa mengundang penilaian terhadap para penulis yang cum intelektual.

Pertanyaannya, sudah siapkah para intelektual yang tulisannya ada di buku tersebut dinilai? Apakah mereka tidak akan merasa malu kalau kelak hasil penilaian itu, misalnya, mereka bersifat pragmatis semata. Demi mempertahankan jabatan mereka atau mengutamakan kepentingan kelompok mereka saja.

Berbarengan dengan itu, muncul pula sebuah pertanyaan, apakah keriuhan  pendapat pro & kon tersebut menjadikan suasana sosial ekonomi masyarakat lebih baik? Misalnya bersamaan dengan berseliweran pendapat pro & kon itu, harga sembilan bahan pokok (sembako) turun, beras, gandum, kedele dan buah-buahan impor berkurang dan barang elektronik impor berkurang, harga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik. Kalau semua itu bernilai negatif, kemunculan pendapat pro & kon itu tidak menyentuh kepentingan orang banyak.

Maka biarlah rencana penerbitan 100 Buku Pro & Kon itu hanya sebatas ide saja. Ia hanya mendatangkan kepuasan intelektual dan sosial para penulisnya. Ia belum menyelesaikan persoalan sosial-ekonomi riil yang dihadapi masyarakat sekarang. Padahal yang terpenting sekarang adalah bagaimana mendampingi masyarakat agar bisa meningkatkan kemandiriannya dalam menyelesaikan masalah sosial- ekonomi. Bukan menggurui dan memerintahkan mereka lewat pidato yang berapi-api.

Selanjutnya kita imbau para intelektual yang terlibat dalam pendapat pro & kontra itu untuk tetap ingat dengan kesalahan, kejahatan dan penipuan yang selama sudah merugikan bangsa. Tetaplah ingat korupsi, kolusi dan nepotisme yang telah menyebabkan penderitaan masyarakat. Lama-kelamaan ingatan itu tentu akan terlembaga dalam diri mereka dan melahirkan kesadaran (sense) keinginan nyata untuk berkontribusi menata bangsa ini selapis demi selapis. [ ]

*Guru Besar Jurnalisme UGM

Back to top button