MoronVeritas

Turutnya Astronot Kanada di Artemis II Picu Ketidaksukaan Rakyat Amerika

Hanya gara-gara satu orang astronot Artemis II dari Kanada, dunia medsos Amerika gonjang-ganjing. Lagi-lagi dipicu oleh pendukung Trump. Inikah bentuk isolasionisme xenofobik rakyat Amerika?

WWW.JERNIH.CO –  Setelah misi bersejarah Artemis II menuju Bulan pada hari cukup sukses, namun di balik hal itu ada pernyataan tak sedap. Misi Artemis II selain menjadi perjalanan manusia pertama ke tetangga selestial Amerika dalam lebih dari setengah abad, kru beranggotakan empat orang ini juga mencetak sejarah baru: misi ini melibatkan orang kulit hitam pertama dan perempuan pertama yang melakukan perjalanan ke Bulan.

Namun, kehadiran penumpang ketiga justru memicu kegaduhan di jagat maya. Keputusan NASA untuk mengikutsertakan astronot dari Badan Antariksa Kanada (CSA), Jeremy Hansen, tampaknya membuat sebagian pendukung Donald Trump meradang.

“Kenapa kita membiarkan orang Kanada pergi ke Bulan milik kita?” tulis sebuah akun di platform X dalam unggahan yang disukai dan dibagikan ribuan kali.

Meski tulisan tersebut mungkin bernada gurauan, komentar-komentar lain di platform milik Elon Musk tersebut menunjukkan sisi kurang menyenangkan dari cara sebagian warga Amerika memandang kolaborasi internasional ini.

“AS mengirim orang Kanada ke Bulan hari Rabu besok,” tulis pengguna lain. “Kalian tidak akan menyangka hal itu jika melihat gaya bicara mereka, atau bagaimana Perdana Menteri mereka yang konyol menjilat ke China. Tapi tidak apa-apa, kita adalah bangsa yang besar dan dermawan.”

Sentimen ini merupakan bentuk isolasionisme xenofobik yang sering dikaitkan dengan pemerintahan Trump. Dalam beberapa tahun terakhir—khususnya pada era politik “America First”—istilah ini digunakan untuk menggambarkan kebijakan yang tidak hanya ingin Amerika “berdiri sendiri”, tetapi juga memandang keterlibatan dengan negara lain sebagai ancaman terhadap identitas atau ekonomi nasional.

Beberapa orang bahkan melontarkan gagasan kontroversial bahwa Kanada seharusnya dianeksasi menjadi “negara bagian ke-51”. Trump sendiri memang berulang kali menggunakan retorika provokatif terhadap tetangga utara sekaligus sekutu terdekat AS tersebut.

Namun, tidak semua komentar bernada tajam. Beberapa warganet memilih menanggapinya dengan humor.  TJ Cooney (YouTuber) misalnya, “Wow, kita berhasil. Tiga manusia dan satu orang Kanada pergi ke Bulan.”

Josh Billinson (Semafor) bilang, “Lucu sekali melihat mereka menyebut ‘orang Kanada pertama ke Bulan’ setara dengan ‘pria kulit hitam pertama’ dan ‘perempuan pertama’. Memang benar, tapi rasanya tidak selevel! Penghalang utama orang Kanada ke Bulan dulu kan cuma karena mereka belum punya badan antariksa!”

Faktanya, Badan Antariksa Kanada (CSA) baru berdiri pada tahun 1990, beberapa dekade setelah misi Apollo berakhir. Sejak saat itu, mereka menjalin kemitraan erat dengan NASA, yang dibuktikan melalui Canadarm—lengan robotik yang mendukung misi Pesawat Ulang-Alik AS selama 30 tahun. Penerusnya, Canadarm2, kini menempel di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan telah terbukti sangat vital bagi operasional di orbit selama 25 tahun terakhir.

Untungnya, segala kebisingan di media sosial ini tampaknya tidak mengganggu Jeremy Hansen. Ia bahkan sempat bercanda dengan membawa stereotip khas Kanada ke luar angkasa sebagai “bekal” dari rumah: sirup mapel dan kue krim mapel.

“Saya terus bilang kepada mereka kemarin, saya sangat suka berada di sini,” ujar Hansen kepada media pada hari Jumat dari dalam kapsul Orion yang sempit. “Rasanya saya ingin bisa sampai di sini lebih cepat.” (*)

BACA JUGA: Artemis II Meluncur dengan Misi Menaklukkan Bulan Kembali

Back to top button