POTPOURRI

Andrie Yunus, Wakil KontraS Diserang dengan Air Keras

Sepulang bekerja, dalam perjalanan pulang Andrie Yunus diserang orang tak dikenal yang menyiramnya dengan air keras. Apa terkait dengan beberapa kasus yang tengah ia tangani?

WWW.JERNIH.CO –  Kekerasan terhadap pembela Hak Asasi Manusia (HAM) kembali terjadi di tanah air. Kali ini, sasarannya adalah Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Serangan penyiraman air keras yang terjadi pada Maret 2026 ini menambah daftar panjang represi terhadap aktivis yang vokal dalam isu-isu krusial negara.

Peristiwa tragis ini terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23:37 WIB. Kejadian bermula sesaat setelah Andrie Yunus menyelesaikan kegiatan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Menteng, Jakarta Pusat. Siniar tersebut diketahui membahas isu sensitif mengenai remiliterisme dan judicial review di Indonesia.

Saat sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang di kawasan Jalan Salemba I – Talang, Jakarta Pusat, Andrie dihampiri oleh dua orang pria yang berboncengan motor matic dari arah berlawanan. Pelaku yang berada di posisi penumpang kemudian menyiramkan zat kimia berbahaya (air keras) ke arah tubuh Andrie. Akibat serangan mendadak tersebut, korban terjatuh dari motornya sambil berteriak kesakitan.

Pasca kejadian, Andrie segera dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa ia mengalami luka bakar serius mencapai 24 persen dari total permukaan tubuhnya.

Luka-luka tersebut terkonsentrasi pada area wajah, mata, dada, serta kedua tangannya. Pihak KontraS mengonfirmasi bahwa tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, sehingga serangan ini kuat diduga bukan perampokan biasa.

KontraS dan koalisi masyarakat sipil menduga kuat bahwa serangan ini merupakan upaya pembungkaman ruang demokrasi dan intimidasi terhadap aktivis HAM. Mengingat profil Andrie sebagai tokoh yang gigih mengkritik kebijakan pemerintah, penyerangan ini diyakini berkaitan erat dengan kerja-kerja advokasi yang ia lakukan.

Upaya serangan fisik dengan air keras seringkali digunakan sebagai instrumen teror untuk menciptakan rasa takut bagi mereka yang berupaya menuntut transparansi dan akuntabilitas negara. Dalam konteks ini, penyerangan terjadi tepat setelah ia berbicara mengenai bahaya kembalinya militer ke ranah sipil, sebuah isu yang memiliki resistensi politik tinggi.

Andrie Yunus dikenal sangat aktif dalam mengawal berbagai kasus besar yang bersentuhan dengan reformasi sektor keamanan dan keadilan bagi masyarakat kecil. Ada beberapa isu utama yang tengah ia tangani. Di antaranya Uji Formil UU TNI (Perkara Nomor 81/PUU-XXIII/2025). Andrie merupakan salah satu saksi kunci dalam gugatan di Mahkamah Konstitusi terkait revisi Undang-Undang TNI. Ia vokal menolak pasal-pasal yang dianggap menghidupkan kembali dwifungsi militer dan mengkritik proses legislasi yang dilakukan secara tertutup.

Ia juga mengawal pencarian keadilan bagi Afif Maulana, remaja di Padang yang tewas diduga akibat penyiksaan oleh oknum aparat. Andrie aktif melaporkan dugaan pelanggaran etik pimpinan kepolisian setempat ke Mabes Polri.

Selain isu keamanan, Andrie terlibat dalam advokasi warga yang menjadi korban brutalitas aparat dalam konflik lahan dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di berbagai daerah. (*)

BACA JUGA: Ironi Oknum di Balik Viral Penjual Es Gabus

Back to top button