Bahasa yang Membelot: Tentang Kata, Luka, dan Doa dalam “Kecuali” karya Sutardji Calzoum Bachri

Membaca Kecuali karya Sutardji Calzoum Bachri seperti menyaksikan bahasa yang perlahan-lahan keluar dari disiplin lamanya. Kata-kata yang biasanya bekerja sebagai alat penjelas—menunjuk sesuatu, menyampaikan sesuatu, merangkum sesuatu—di tangan penyair ini tampak mulai membelot dari tugas tersebut. Mereka tidak selalu bersedia menjelaskan, tidak selalu ingin menunjuk dengan jelas, bahkan kadang seperti sengaja berputar di tempatnya sendiri tanpa memberikan kepastian makna. Inilah kesan awal yang muncul ketika berhadapan dengan buku ini: bahasa dalam puisi-puisi Sutardji tidak lagi berfungsi sebagai kendaraan makna yang patuh, melainkan sebagai wilayah yang bergerak bebas, penuh penyimpangan kecil, dan sering kali menolak diringkas menjadi arti yang stabil. Pembaca yang terbiasa mencari pesan atau kesimpulan akan segera merasa bahwa Kecuali bukan buku yang ingin memudahkan siapa pun. Puisi-puisinya tidak dirancang untuk memberi kenyamanan interpretasi; sebaliknya, mereka justru memperlihatkan bagaimana bahasa dapat kehilangan ketertiban sehari-harinya ketika ditempatkan dalam ruang puisi.
Selama ini kita cenderung memahami bahasa sebagai sistem yang relatif stabil. Kata dianggap sebagai penanda yang menunjuk objek, gagasan, atau pengalaman tertentu. Hubungan antara kata dan makna seolah sudah mapan melalui kamus, kebiasaan berbicara, serta aturan tata bahasa yang kita pakai sejak kecil. Namun puisi Sutardji bekerja dengan cara yang hampir berlawanan dengan logika tersebut. Kata tidak selalu menunjuk sesuatu di luar dirinya; kadang ia hanya berputar dalam bunyinya sendiri, mengulang dirinya sendiri, atau membuka asosiasi yang tidak pernah selesai dirumuskan. Dalam salah satu refleksi yang mengiringi buku ini, Sutardji menyebut bahwa kata dalam puisi tidak sekadar dipakai untuk menyampaikan rasa kepada pembaca, tetapi dapat menjadi puisi itu sendiri yang sedang “menjadi”. Pernyataan ini tampak sederhana, tetapi implikasinya besar: puisi tidak lagi dipahami sebagai medium yang menggambarkan dunia, melainkan sebagai peristiwa bahasa di mana kata mengalami kehidupannya sendiri. Dalam kerangka seperti ini, bahasa tidak lagi sepenuhnya tunduk pada fungsi komunikatifnya; ia mulai bergerak sebagai bahan mentah pengalaman puitik. Kata tidak hanya membawa makna, tetapi juga bunyi, ritme, bahkan semacam energi yang membuatnya terasa hidup.
Akibatnya, membaca puisi-puisi dalam Kecuali sering kali terasa seperti memasuki ruang di mana makna sengaja ditunda. Banyak larik tampak menahan penjelasan yang biasanya kita harapkan dari sebuah teks. Puisi tidak menutup kemungkinan interpretasi, tetapi juga tidak menyerahkannya secara langsung. Di beberapa bagian bahkan terasa seperti ada nada menggoda—seolah puisi berkata kepada pembaca: jika ingin makna, silakan cari sendiri. Dalam situasi seperti ini hubungan antara pembaca dan teks berubah secara signifikan. Biasanya pembaca datang kepada puisi untuk menerima sesuatu: cerita, simbol, atau refleksi yang dapat diringkas menjadi pengertian tertentu. Namun dalam Kecuali, pembaca dipaksa menjadi semacam rekan kerja bagi teks. Ia harus mengisi celah yang ditinggalkan oleh kata-kata, menebak arah asosiasi, dan kadang menerima bahwa sebagian pengalaman puitik tidak pernah benar-benar selesai dijelaskan. Makna dalam puisi Sutardji tidak diberikan sebagai paket jadi; ia muncul sebagai proses yang berlangsung di antara teks dan pembaca.
Menariknya, kebebasan bahasa yang terlihat dalam buku ini sebenarnya tidak muncul dari ruang kosong. Di bawah permainan kata yang tampak modern itu masih terasa denyut kuat tradisi Melayu, terutama tradisi lisan yang sejak lama membentuk cara masyarakat Nusantara memperlakukan bahasa. Pantun, mantra, dan gurindam bukan hanya bentuk sastra lama yang sesekali disebut dalam puisi; mereka menjadi logika tersembunyi yang menggerakkan ritme dan cara kerja kata. Dalam tradisi lisan, bahasa tidak semata-mata berfungsi sebagai penanda makna rasional. Kata dipercaya memiliki daya. Mantra, misalnya, tidak hanya menggambarkan sesuatu; ia dipercaya mampu memanggil atau mempengaruhi sesuatu. Pantun tidak hanya menyampaikan pesan; ia bekerja melalui keseimbangan bunyi, irama, dan hubungan metaforis antara bagian-bagiannya. Logika semacam ini terasa kuat dalam puisi Sutardji ketika kata diperlakukan seperti sesuatu yang bisa dibawa, disimpan, atau dipelihara. Kata menjadi semacam makhluk kecil yang bergerak dari satu larik ke larik lain, tidak selalu patuh pada fungsi semantiknya, tetapi tetap hidup melalui bunyi dan ritmenya.
Hubungan dengan tradisi lisan ini juga terlihat jelas dalam penggunaan repetisi. Beberapa puisi dalam Kecuali dibangun melalui pengulangan kata yang sederhana tetapi ritmis. Kata yang sama muncul berkali-kali hingga perlahan kehilangan fungsi gramatikalnya dan berubah menjadi semacam gema bunyi. Ketika sebuah kata diulang terus-menerus, perhatian pembaca tidak lagi tertuju pada makna leksikalnya, melainkan pada ritme yang dihasilkannya. Dalam salah satu puisi, pengulangan kata “ada” menciptakan pengalaman membaca yang hampir menyerupai dzikir. Kata yang semula hanya menandai keberadaan berubah menjadi bunyi yang menegaskan keberadaan itu sendiri. Pada titik ini puisi bergerak ke wilayah yang menarik: antara bahasa, musik, dan ritual. Ia tidak menjelaskan pengalaman spiritual secara langsung, tetapi menciptakan kondisi ritmis yang membuat pembaca merasakan sesuatu yang mendekati pengalaman tersebut.
Dimensi spiritual dalam Kecuali memang tidak hadir sebagai khotbah religius. Ia muncul secara lebih halus melalui struktur bahasa. Hal ini terlihat jelas dalam puisi yang berangkat dari kalimat tauhid. Kata “kecuali” yang secara tata bahasa hanya berfungsi sebagai penanda pengecualian tiba-tiba menjadi pusat gravitasi makna puisi. Di sana kata tersebut tidak lagi bekerja sebagai alat logika sederhana; ia berubah menjadi ruang harapan. Ketika kalimat tauhid dimasukkan ke dalam struktur puisi, kata “kecuali” memperoleh lapisan emosional dan spiritual yang lebih dalam. Ia tidak hanya memisahkan sesuatu dari yang lain; ia juga membuka kemungkinan bagi seseorang untuk berharap bahwa dirinya masih termasuk dalam pengecualian yang penuh rahmat. Dengan cara ini puisi Sutardji memperlihatkan bagaimana bahasa religius dapat bekerja bukan hanya melalui doktrin, tetapi melalui ritme dan struktur kata yang memanggil pengalaman batin.
Namun Kecuali tidak hanya bergerak di wilayah spiritual. Di dalamnya juga terdapat puisi-puisi yang menyentuh pengalaman manusia yang sangat sederhana dan sangat rapuh: patah hati, kesedihan, dan rasa kehilangan. Salah satu puisi menggambarkan luka cinta dengan cara yang cukup kasar—dada yang pecah karena dentuman perasaan. Gambaran itu tidak elegan, tetapi justru terasa jujur. Yang lebih menarik adalah cara luka itu ditangani. Puisi menyebut bahwa luka tersebut ditempel dengan “sajak murah”. Frasa ini terasa seperti sindiran terhadap gagasan bahwa puisi harus selalu megah dan penuh keindahan formal. Dalam konteks ini puisi justru digambarkan sebagai alat sederhana yang dipakai seseorang ketika tidak memiliki cara lain untuk menghadapi rasa sakit. Sajak tidak menyembuhkan luka secara sempurna; ia hanya menutupinya sementara, seperti plester kecil pada tubuh yang retak.
Pandangan semacam ini membuat puisi terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Puisi tidak lagi berdiri sebagai objek estetika yang jauh dari pengalaman manusia. Ia menjadi sesuatu yang dipakai untuk bertahan. Bahkan ketika sajak digambarkan sebagai “bait patah”, justru di situlah kekuatannya muncul. Bait yang patah masih bisa menopang langkah seseorang yang tertatih. Dalam gambaran seperti ini bahasa tidak lagi hanya menyampaikan perasaan; ia ikut menanggung luka yang melahirkannya.
Selain luka dan spiritualitas, Kecuali juga menghadirkan refleksi yang lebih tenang tentang kesadaran manusia. Puisi tentang rumah, misalnya, memulai dirinya dari gambaran yang sangat sederhana tentang tempat tinggal. Namun perlahan hubungan antara manusia dan rumah dibalik. Rumah tidak lagi dipahami sebagai bangunan yang menaungi manusia; sebaliknya, rumah justru berada di dalam diri manusia. Pembalikan ini membuka refleksi yang menarik tentang interioritas. Rumah menjadi metafora bagi ruang batin tempat seseorang menyimpan ingatan, ketakutan, harapan, dan keyakinannya. Dalam konteks dunia yang baru saja mengalami pandemi, gagasan ini terasa semakin relevan. Rumah tidak hanya menjadi tempat berlindung dari dunia luar, tetapi juga ruang di mana seseorang dipaksa menghadapi dirinya sendiri.
Kumpulan puisi Kecuali memperlihatkan bahwa proyek kepenyairan Sutardji tidak sekadar bermain-main dengan kata. Ia mencoba memperluas kemungkinan bahasa itu sendiri. Kata tidak harus selalu tunduk pada definisi kamus. Ia dapat bergerak, berubah, bahkan membelot dari tugasnya menjelaskan dunia secara rapi. Dalam puisi, pembelotan kecil ini justru membuka kemungkinan makna yang lebih luas. Bahasa yang biasanya terasa stabil tiba-tiba menjadi wilayah yang penuh potensi. Dan mungkin di situlah alasan mengapa puisi seperti ini masih terasa penting dibaca. Bukan karena ia memberikan jawaban yang pasti, melainkan karena ia mengingatkan bahwa kata-kata masih menyimpan ruang misteri yang belum sepenuhnya kita pahami.
IRZI





