BRIN: Mikroplastik Ditemukan di Kedalaman Sekitar 2.450 Meter

Mikroplastik tersebut berpotensi masuk ke rantai makanan laut hingga akhirnya dikonsumsi manusia.
JERNIH-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempublikasikan temuan mikroplastik di kedalaman laut Indonesia dalam jurnal ilmiah internasional Marine Pollution Bulletin melalui artikel berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways (2024).
Mikroplastik tersebut berpotensi masuk ke rantai makanan laut hingga akhirnya dikonsumsi manusia.
Penelitian ini ditulis oleh Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi internasional dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.
Dalam penelitian terbarunya BRIN menemukan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter itu telah mencapai kedalaman sekitar 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF).
Arus Lintas Indonesia atau Arlindo merupakan sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melalui sejumlah selat penting, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.
“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” kata Corry, dikutip dari laman resmi BRIN, pada Jumat (6/3/2026).
Selama ini, penelitian mengenai Arlindo lebih banyak berfokus pada aspek fisik laut seperti suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Sementara itu, distribusi mikroplastik di kolom air, terutama hingga ke laut dalam, masih jarang diteliti.
“Penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo. Selama ini, sebagian besar penelitian mikroplastik di perairan Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir,” kata Corry.
90 persen mikroplastik berasal dari bahan tekstil sintetis Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis. “Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelas Corry.
Selain berbentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman.
Beberapa di antaranya adalah polyester, polypropylene, dan polyurethane, yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun berbagai bahan industri. Temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik.
“Di kedalaman tertentu, arus Arlindo cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air,” ujar Corry. Selain meneliti distribusi mikroplastik di kolom air, tim peneliti juga mengkaji apakah partikel tersebut telah masuk ke rantai makanan laut.
Tim peneliti mengumpulkan 92 sampel kolom air dari berbagai kedalaman, mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter. Sampel diambil menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth), sehingga peneliti dapat mengambil air secara spesifik pada kedalaman tertentu.
“Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter,” kata Corry. Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi sekitar 1,062 partikel per liter.
Mikroplastik tersebut ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut. (tvl)





