POTPOURRIVeritas

Cetak Biru Perang Iran, Saat Geografi Timur Tengah Disiapkan untuk Menjebak Amerika

Teheran membeberkan skenario berlapis: bertahan dari gempuran awal, menggerakkan poros perlawanan regional, melancarkan serangan siber, hingga “menyandera” 21% pasokan minyak dunia lewat Selat Hormuz.

WWW.JERNIH.CO – Grafik ketegangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat belum tampak akan menurun. Bahkan sebaliknya terus mendaki dan memanas. Dunia berdebar menunggu apa pilihan terbaik menyudahi perseteruan tersebut.

Di tengah kepulan asap retorika perang, Teheran baru saja mengungkap “cetak biru” atau visi mereka jika perang terbuka benar-benar pecah. Melalui kanal berita yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Iran membeberkan strategi ambisius untuk melumpuhkan militer terkuat di dunia dan mengacak-acak ekonomi global.

Bukan dengan adu teknologi canggih, Iran bertaruh pada satu hal: Geografi Timur Tengah akan mengalahkan teknologi Amerika.

Berikut adalah lima tahapan rencana perang Iran untuk memaksa Paman Sam bertekuk lutut:

Tahap 1: Menahan Gempuran Awal AS

Iran sadar bahwa mereka akan menjadi pihak yang dipukul lebih dulu. Skenario dimulai dengan serangan udara dan rudal AS ke situs nuklir dan pangkalan militer yang tersebar di wilayah padat penduduk.

Meskipun AS memiliki pesawat siluman dan senjata hipersonik, Iran merasa telah bersiap dengan cara:

Benteng Bawah Tanah: Membangun fasilitas militer di kedalaman tanah yang sulit ditembus bom.

Struktur Komando yang Liat: Jika satu pusat komando hancur, unit lain tetap bisa bergerak secara mandiri.

Doktrin Ofensif: Iran menegaskan bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang balik secara brutal.

Tahap 2: Serangan Balasan Serentak (The Axis of Resistance)

Iran tidak berencana bertarung sendirian. Begitu rudal AS jatuh, Iran akan mengaktifkan jaringan sekutunya di seluruh kawasan:

Hujan Rudal Regional: Pangkalan AS di Qatar, Kuwait, UEA, hingga Suriah akan dihujani ratusan drone Shahed dan rudal balistik sekaligus untuk melumpuhkan sistem pertahanan Patriot.

Keterangan: 1. Lanud Al Udeid (Qatar), 2. Lanud Ali Al Salem dan Camp Arifjan (Kuwait),  3. Tel Aviv dan Haifa, 4. Pangkalan AL AS (Bahrain), 5. Markas Tentara AS (UEA), 6. Pangkal Al Tanf (Syria), Markas Tentara AS Muwaffaq Salti (Yordania).

Banyak Front: Hizbullah di Lebanon akan menyerang Israel, pemberontak Houthi di Yaman akan menutup Laut Merah, dan milisi di Irak akan menyasar diplomat AS.

Keterangan: 1. Hamas serang Israel, 2. Hizbullah serang Israel, 3. Hizbullah serang pangkalan Al-Tanf, 4. Houthi serang Laut Merah, 5. Houthi serang pasukan Amerika di Arab Saudi, 6. Houthi serang Israel, 7. Milisi Irak serang Israel.

Tujuan: Memecah konsentrasi militer AS agar mereka kelelahan karena harus bertempur di banyak tempat di waktu yang sama.

Tahap 3: Perang di Dunia Maya (Cyber Warfare)

Bagi Teheran, lini depan bukan hanya di gurun, tapi juga di kabel fiber optik. Iran berencana meluncurkan serangan siber besar-besaran untuk:

  • Melumpuhkan jaringan listrik, sistem air, dan transportasi di negara-negara yang menampung pangkalan AS.
  • Mengganggu sistem komunikasi militer dan logistik AS.

Logikanya: Jika rakyat di negara sekutu AS menderita karena mati lampu atau krisis air, mereka akan mendesak pemerintahnya untuk mengusir tentara AS dari sana.

Tahap 4: Menyandera Pasokan Minyak Dunia

Inilah senjata paling mematikan milik Iran: Selat Hormuz. Jalur sempit ini adalah “urat nadi” energi dunia, tempat 21% pasokan minyak global melintas setiap harinya.

Strategi Iran meliputi:

  • Menanam ranjau laut dan menggunakan taktik swarming (serangan ratusan kapal cepat kecil) untuk mengeroyok kapal perang besar AS.
  • Menenggelamkan kapal tanker untuk memblokade jalur pelayaran.

Efek Domino: Harga minyak diprediksi akan melonjak hingga 200 dolar per barel. Iran yakin kehancuran ekonomi global akan memaksa sekutu AS membelot dan menekan Washington untuk berhenti berperang.

Tahap 5: Perang Ketahanan (The Endgame)

Di akhir cerita, Iran tahu mereka tidak bisa memenangkan perang secara militer konvensional (adu tembak secara langsung). Namun, mereka yakin bisa menang dalam adu ketahanan.

Iran bertaruh bahwa setelah pengalaman pahit di Afghanistan dan Irak, publik Amerika tidak akan punya selera untuk perang panjang yang mahal dan memakan banyak korban jiwa. Mereka ingin menciptakan situasi di mana kemenangan bagi AS menjadi terlalu mahal untuk dibayar.

Strategi ini bukannya tanpa celah. Ekonomi Iran sendiri sangat bergantung pada ekspor minyak; menutup Selat Hormuz sama saja dengan “bunuh diri” ekonomi bagi mereka. Selain itu, serangan yang mengakibatkan banyak korban jiwa Amerika bisa memicu pembalasan total yang jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan Teheran.

Washington pun sama ketar-ketirnya. Gedung Putih saja masih berdebat soal ini dan belum ada kata sepakat. Kendati ingin menggunakan momentum keberhasilan operasi AS baru-baru ini di Venezuela (penangkapan Nicolas Maduro) untuk memberikan pelajaran serupa pada Iran.

Masalahnya Venezuela tak terlalu berdampak panjang. Dengan Iran sangat berbeda. AS tetap khawatir akan dampak ekonomi. Perang dengan Iran hampir pasti akan melonjakkan harga bensin secara global, yang bisa menjadi bumerang politik bagi Trump menjelang pemilu sela (midterm elections) di AS.

Jadi gertak-gertak sambal a la Amerika saja.(*)

BACA JUGA: Targetkan Iran, Kapal Induk Kedua AS Dikirim ke Timur Tengah

Back to top button